Kambing Hitam


Kelak, jika hendak beranjak, apakah kita akan berada di telapak tangan terbuka? Dijaga. Diberi suaka. Tak dilempar petaka. Tak dicerca. Tak ada tuduh tetanya. Tak ada paksa. Jika ya, mari beranjak. Ke tanah semula tempat rumpun akar merambat. Tak ada rumah, kita bermalam dalam sisi tebing yang berongga. Atau kandang setinggi dada. Asal tak di sini.

Perasaan jenuh mungkin wajar. Hal itu bisa secara positif saya rasakan dan yakini. Yang sering menjadi pertanyaan adalah asal muasal kejenuhan itu. Apakah datang dari lingkungan sekitar, atau justru dari dalam diri? Kalau–seperti saat ini–saya putuskan jawabannya adalah dari luar diri, apakah itu sungguhan, atau hanya kambing hitam? Mungkin tiap orang perlu dinamika. Supaya bertemu hal baru, sementara masalah yang lalu, bisa terlupa sekejap, atau bahkan hilang. Tapi ketika pada realitanya dinamika tidak berlangsung, mau tidak mau harus ada kambing hitam. Imajinasi saya dengan bebas berlarian ke tempat saya ingin pergi. Karena dinamika ruang itu ya memang tidak bisa saya capai.

Semua hal tampak seperti problem realitas versus idea kesempurnaan. Milik saya adalah realitas yang penuh himpitan, dan idea yang ideal. Ditambah pula ada banyak ketidakberanian.

Ketika kita tak seharusnya mengeluh, kita tahu mesti ada sesuatu di luar diri yang bersalah. Hanya untuk mengetahui bahwa bukan diri kita sendiri yang salah. Separah itukah konflik hidup manusia? Parah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s