Kunci


Saya ingin punya ruangan yang punya kunci. Baik secara verbal, maupun non verbal. Ceritanya, sejak diubah jadi pintu geser, kamar tidur di rumah orang tua saya tidak ada kuncinya. Jangankan kunci, pintu geser itu bahkan tak dapat tertutup rapat. Menutup pintu bagi kamar tidur saya–tempat yang mestinya privat–menyisakan celah menganga sekitar satu jengkal orang dewasa, yang terhubung langsung ke ruang tengah. “Yang tertutup” pun menjadi “bisa diintip”. Tapi itu biasa saja. Kebiasaan mengetuk pintu jarang dilakukan di tempat itu.

Pindah untuk yang kedua kalinya sejak kuliah, pintu kamar kos tak bisa dikunci. Selotnya nihil. Saya terpaksa mengisi lubang selot dengan bolpoin.

Suatu malam, kamar kos masih berantakan. Kardus-kardus tersebar di sudut-sudut. Saya tidur dengan pintu kamar tak terkunci. Di tengah kenyenyakan, seseorang membuka pintu dari luar. Gerakannya yakin. Menciptakan bunyi gemerisik. Saya–tipe orang yang mudah terbangun–melonjak bangkit. Terduduk. Mata sipit mengantuk. Beberapa sosok laki-laki ternganga di ambang pintu.
“Ini kamar Rudi?” Kalau saya tak salah mengingat nama itu.
“Nggak ada! Bukan di sini. Kamar lain.” Saya jawab secepat mungkin.
“Di mana?”
“Nggak tahu. Di atas mungkin.”
Mereka menutup pintu. Saya masih setengah sadar. Tak bisa tidur lagi. Saya jadi menimbang, apa laki-laki itu betul manusia.
“Pong, di mana? Ke sini cepatan.” Pesan singkat saya pada sang teman akrab. Jelas saya ketakutan waktu itu.

Cerita itu memang tentang kunci ruang privat saya. Tapi bagi saya, cerita itu sekaligus simbol. Saya lebih lanjut berpikir. Punyakah saya ruang privat itu? Jika ada, cukup memadaikah ruang itu?

Bagi saya, privasi sangat diperlukan tiap individu. “Kamar tidur berkunci” itu diperlukan untuk menumbuhkan sisi lain yang tak diapresiasi di dalam masyarakat. Ketika masyarakat terlalu anti dengan “politik  pencitraan”, saya malah memilih untuk mengembangkan citra-citra yang berbeda satu sama lain dalam diri. Kenapa? Karena yang saya rasakan, manusia membutuhkannya. Erving Goffman bukan munafik ketika memuat kebutuhan itu dalam sebuah “panggung sandiwara”.

Kamar tidur, baik secara verbal maupun nonverbal adalah tempat menumpahkan emosi terhadap hal-hal yang tak mungkin menerimanya. Mengapa harus tertutup rapat? Karena, tak setiap orang bisa menerima kenyataan riil. Tak tiap orang bisa menerima kita yang membencinya; kita yang temperamental; kita yang sinis dan sarkastis. Tapi kita tak mungkin membunuh sisi lain kita. Kita hanya perlu mengontrol. Kita hanya perlu ruang privat nan aman yang bisa menjaga supaya luapan emosi tak merusak orang lain.

Saya mau tetap berada dalam ketertutupan. Ketertutupan yang melindungi. Sampai saat ini, jujur, saya masih membenci. Di kamarlah saya membenci. Tapi seperti pintu kamar saya yang bercelah, kadang individu lain mendobrak ruang privat kita. Masuk seenaknya, merongrong kenyamanan diri, dan membiarkan kebencian terlihat. Pilihannya dua, kebencian itu makin jadi, atau malah menekan diri. Bisa-bisa saya jadi tak waras. Ya, bisa gila!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s