Bekerja


Mungkin klise membicarakan siapa yang seharusnya bekerja: laki-laki, atau perempuan? Sungguh klise. Tapi saya rasa, setiap individu punya pengalaman dan opini yang menarik terkait hal itu.

Di kepala saya, ide mengenai “siapapun-bisa-bekerja” sudah saya amini di alam bawah sadar. Bagi saya, kesetaraan jender memang tak usah dibahas lagi. Saya lebih memilih memandang manusia sebagai Manusia (dengan M besar) yang punya hak atas dirinya, dari pada “perempuan dan laki-laki”. Jenis kelamin tak berhak menganjurkan dan melarang suatu pekerjaan. Bekerja adalah keharusan setiap orang. Tapi sebelumnya, catat: bekerja dalam hal ini bukan hanya tentang mencari uang. Bekerja adalah ketika manusia saling membahu membangun kehidupan. Itu mengapa saya tidak setuju dan meragukan sistem masyarakat tanpa kelas. Setiap orang berhak punya peran, dan tak mungkin setiap orang berperan sama. Dunia ini panggung sandiwara, itu benar. Ada peran kecil, ada peran utama.

Maka, ketika saya melihat seseorang tidak bekerja dengan baik; tidak melakukan yang seharusnya dia lakukan, saya agak risih. Dunia tempat kita menjejak ini membutuhkan peradaban yang baik. Peradaban yang dijalankan oleh individu-individu yang melaksanakan perannya dengan baik. Saya acapkali membayangkan peradaban itu adalah sebuah rumah. Ada orang tua, ada anak-anak. Mereka masing-masing bekerja, saling membahu. Seseorang yang perlu bantuan akan bicara kepada yang sedang tak punya pekerjaan. Mereka pun menjadi sibuk bersama. Harusnya.
Tapi ya, membangun rumah yang damai tak selamanya bisa mulus. Ada saja individu yang congkak. Membiarkan kerabat serumahnya; seperadabannya bekerja sendirian. Padahal secara sosial, manusia tidak bisa sendiri. Menurut saya, setiap manusia harus bekerja bukan hanya untuk kepentingan diri, tapi juga untuk manusia lain. Tak hanya itu, perlu juga simapati dan kepekaan. Peka terhadap kode dan simbol karena tak semua manusia bisa berbicara. Kalau tidak, ya peradaban tidak akan bertahan. Pokoknya, bagi saya, setiap penghuni rumah harus bekerja. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk masyarakat. Untuk kehidupan. Kalau tidak mau bekerja, ya tidak usah menjadi bagian dari peradaban.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s