Dari Seorang Adik Pencemburu


Kalau kau menghabiskan jagung dalam stoples yang dibuat Emak untuk kita, kenapa aku tidak boleh memakan tempe tepung yang dibuat Emak, juga untuk kita?

Kau boleh saban hari duduk menekuni hobi. Aku bekerja sampai lelap. Untukmu.

Kau berceloteh tawa dengan Emak kapan pun kau mau. Mengajukan hal serius kapan pun merasa ingin. Ketika aku bercanda, cairkan beku pagi, matamu melotot sebesar kelopak bunga matahari.

Kau pandai menentukan kapan kau hendak bicara dan didengar, kenapa mendengarku kau enggan?

Celamu terhadap realitas selalu benar, tapi kenapa aku selalu salah ketika mengkritikmu?

Benar. Aku ingin lari.

Hanya saja, Emak menahanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s