Tentang “Surat Untuk Jokowi”


Siang teman-teman,

awal Juni 2014, saya mendapat informasi bahwa ada lomba menulis surat untuk Jokowi. Saya lantas membuka website yang disarankan sang pemberi informasi. Saya tertarik mengikuti. Selain memang sosok Jokowi dan kebijakan-kebijakannya sedang menjadi perhatian saya waktu itu, saya juga melihat para dewan juri yang saya nilai berkualitas. Mereka adalah Lieus Sungkharisma, Komaruddin Hidayat, Rosiana Silalahi, dan Budhiarto Sambhazy. Hadiah yang dijanjikan juga tak sedikit. Paling tidak kedua hal tersebut, menandakan bahwa lomba itu bukan lomba sembarangan.

Lantas, saya pun mengirim karya tanggal 25 Juni, tepat pada batas akhir pengumpulan karya. Di tengah pemberitaan yang massal mengenai lomba itu, tentu saja saya merasa nothing to lose. Yang saya lakukan dalam surat kepada Jokowi adalah mengungkapkan apa yang memang saya ingin ungkapkan kepada tokoh masyarakat tersebut. Saya fokus pada masalah tentang kesenian dan kebudayaan dalam karya itu. Di dalamnya, ada ungkapan kekecewaan, saran, dan harapan. Jujur saja, saya agak berharap supaya karya saya bisa masuk ke dalam antologi karya yang merangkum 100 karya terbaik, seperti yang dijanjikan oleh panitia. Alasannya, tak lain supaya bisa dibaca khalayak; bahwa ada masalah kebudayaan yang saya rasa harus kita pikirkan bersama.

Tanggal 3 Juli, hari di mana seharusnya pengumuman pemenang disampaikan pada khalayak, ternyata ada penundaan, yang menjanjikan pengumuman akan dilangsungkan tanggal 8 Juli. Setelah penundaan tersebut, saya tidak terlalu ambisius dalam menunggu pengumuman. Saya pun tak jengkel karena saya percaya, di waktu yang banyak dan dewan juri yang mumpuni, pasti pemenangnya nanti akan memuaskan secara kuantitas.

Saya terdorong untuk mencari informasi lebih lanjut saat saya memiliki niatan untuk merevisi karya saya (yang dikirim ke lomba) dan mengirimnya ke media cetak. Saya merasa tema yang saya angkat mengenai kebudayaan dalam karya tersebut sedang relevan di masa ini. Kita sedang menunggu pelantikan presiden terpilih, dan saya ingin membagi opini saya tentang masalah kita bersama, yang dapat kita kaji bersama. Nah, dengan adanya penundaan, saya tidak bisa mengirimkan karya saya sembarangan ke media cetak. Saya harus menjaga supaya terbit di mana pun, karya saya tetap orisinil. Ditambah lagi, ada peraturan lomba yang menyatakan: Seluruh kiriman surat yang masuk ke panitia lomba menjadi hak milik Forum Rakyat dan dapat digunakan untuk kepentingan Forum Rakyat dengan izin tertulis dari penulis surat tersebut.

Ternyata, sampai hari ini, pengumuman itu belum juga ada. Pernyataan penundaan setelah tanggal 8 Juli 2014 pun takada. Tanggal 8 Juli, alasan penundaan adalah: “semua surat yang masuk bagus-bagus dan kami harus membaca semua surat satu persatu…”. Setelah pengumuman itu, baik di website Forum Rakyat, sang penyelenggara, maupun di media nasional, seperti yang sudah dijanjikan, tidak ada kabar. Saya penasaran. Terlebih lagi mengingat para dewan juri yang berkualitas, saya bertanya-tanya: ini lomba serius nggak sih?

Saya sempat bertanya pada kawan saya, Steve Elu. Setahu saya, dia juga mengikuti lomba tersebut. Mengapa saya bertanya pada Steve? Pertimbangan saya, kawan itu bergaul di jejaring yang lebih luas dari saya. Jawaban dari Steve, ia sempat mendengar kabar burung bahwa juara 1 sudah ditentukan panitia. Tapi Steve juga tidak bisa memberikan bukti lebih lanjut. Namanya juga kabar burung.

Maka, bagi teman-teman yang tahu, saya hendak konfirmasi, benarkah kabar burung itu? Kalau benar, di mana telah diumumkan? Apakah memang saya kurang up-to-date? Kalau ternyata memang kerja panitia  dan dewan juri belum selesai, kapan  akan diumumkan? Karena di seluruh media sosial yang saya cek, belum ada pemberitahuan mengenai pengumuman pemenang. Lalu, tentang antologi, apakah sudah cetak dan beredar di ranah publik yang dapat saya jangkau? Di mana masyarakat dapat memperolehnya?

Bagi saya, ini bukan hanya terkait hadiah berjuta-juta dan janji publikasi, tetapi profesionalitas dan penepatan janji. Menang atau tidak, saya pribadi tidak masalah. Tapi bagaimana dengan orang-orang lain, mengingat pengumuman tentang lomba disebarkan secara massal? Saya sih terlebih mencemaskan karya saya—yang sesuai dengan peraturan—telah “menjadi hak milik Forum Rakyat”. Bagi saya, segala yang menyangkut hak milik karya adalah masalah serius. Juga, jangan-jangan, kalau memang benar lomba ini terbengkalai, bukankah kredibilitas Forum Rakyat akan diragukan oleh khalayak ramai? Sayang sekali.

Saya sudah mengirim surel ke alamat suratuntukjokowi@gmail.com. Tapi takada tanggapan. Mohon tanggapan atau informasinya, teman-teman.

Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s