Angin Dingin


Angin merembes di pori-pori tirai,

masuk ke dalam kamar.

Berputar di gang-gang kosong di sela buku-buku.

Kata Mama, itu efek bulan super tadi malam.

Tidak tahu,

yang pasti debu-debu yang serpihan; yang gumpalan; yang tersemai di permukaan lemari,

diterbangkannya.

yang pasti dingin, karena angin sampai menelusup di antara kancing piyama.

Masuk lewat kerah. Tersaring di jahitan saku. Terasing di belahan dada.

 

Sore jadi riuh.

Tapi angin tak sampai membuat panik.

Kalau panik, siapa yang akan mengeringkan tubuh ini,

lalu menghangatkan telapak tangan di sela pipimu dan kantung tidur?

Seperti malam itu, waktu kebekuan menyelusup sampai ke hati.

Agustus 2014

Ini pagi, waktu matahari sudah beranjak dewasa. Telapak tangan sudah reda dari beku.

Ini sudah pagi. Matahari sudah beranjak dewasa. Telapak tangan sudah reda dari beku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s