Lebaran dan Maaf: Manusia Bisa Terluka!


Sehari pra-lebaran, hari-H, bahkan beberapa hari pasca-lebaran, masyarakat berbondong-bondong menyampaikan permintaan maaf. Dari ucapan paling standar yang sama dari tahun ke tahun, pantun, puisi, sampai dengan doa-doa berbahasa Arab dikirimkan melalui pos, SMS, media sosial, dan lain sebagainya. Seusai Shalat Ied, tangan-tangan bersalaman untuk menyampaikan maaf. Banyak manusia sampai berpelukan dan menangis tanda menyesalkan perbuatan-perbuatan buruk. Saya juga mengalaminya. SMS dan kiriman di media sosial berbondong-bondong hadir mengandung kata “maaf lahir batin”. Di tengah segala macam hingar bingar itu, saya berpikir jauh.

“Maaf” lahir dari persentuhan kita dengan manusia lain. Mungkin saya mensyukuri kehadiran “maaf”, tapi sepertinya saya juga menyesalkan kehadirannya. Syukur karena dengan itu, tumbuh kembang manusia yang sehat masih dimungkinkan dengan adanya manusia lain.  Secara psikologis, maaf-memaafkan membangkitkan semangat hidup manusia. Ingatan tentang kesalahan yang diperbuat dibangkitkan kembali. Manusia lalu sadar betapa persentuhan antar-manusia itu bisa menyebabkan manusia lain terluka dan merasa dirugikan. Manusia kemudian menjadi rendah hati, atau bahkan cenderung “menyajikan” hidupnya untuk orang lain.

Tapi bagi saya, justru di situlah letak penyesalan saya terhadap “maaf”. Ada kesan bahwa hidup manusia selalu dirongrong kehadiran yang lain. Manusia yang menyadari betul bahwa ia bisa salah, ekstremnya dapat menimbulkan rasa paranoid terhadap keberadaan yang lain.

“Manusia lain bisa terluka, maka saya harus berhati-hati. Saya dirongrong keberadaan manusia lain.”

Mungkin itulah yang kurang lebih terkandung dalam filsafat Jean-Paul Sartre. Manusia adalah neraka bagi sesamanya. Keadaan manusia, berkat si “maaf” itu menjadi terlampau waspada, dan menjadi objek yang melulu diintip.

Saya, dan banyak manusia lain, tentunya pernah mengalami betul bagaimana rasanya menjadi objek, dalam arti, berada dalam situasi terkekang betul. Manusia lain menjadi patokan dalam tindakan kita. Memang itulah yang sering dijunjung tinggi oleh sebagian besar manusia. Mereka menyebutnya etika hidup bersama. Tapi sebaiknya tidak dipungkiri juga bahwa keberadaan manusia lain dan kerapuhan mereka membuat diri seseorang terkekang dalam penentuan jalan hidupnya. Saya, yang mendaku diri sudah dewasa, dalam hal menentukan masa depan sendiri, masih saja cenderung tunduk pada keberadaan manusia lain (dan kepentingan serta keinginan pribadi mereka sendiri). Padahal masa depan yang disusun dengan cermat itu adalah masa depan saya sendiri. Seringkali ini jadi boomerang bagi eksistensi manusia; eksistensi saya.

Pengobjekan (lebih kasar lagi: kekangan) dalam hidup manusia di antaranya muncul di hari Lebaran. Seusai bersalam-salaman dan saling menyesali perbuatan, manusia diteror detik berikutnya dalam hidup. Lagi-lagi, “Manusia lain bisa terluka, maka saya harus berhati-hati. Saya dirongrong keberadaan manusia lain.” Tapi di balik semua itu—di samping ketupat, opor ayam, dan sambal goreng—lebaran menciptakan suasana reflektif. “Maaf” hadir sebagai bagian dari etika hidup bersama. Kenapa kita harus memenuhi kaidah itu? Karena memang manusia hidup bersama dengan manusia lainnya. Tanpa etika, manusia akan saling memakan (bahkan dalam arti yang sebenarnya).

Ajaibnya, di tengah negativitas manusia lain, manusia dapat juga dimotivasi oleh keberadaan yang lain. Kita semua pasti mengakuinya. Saya pribadi bisa merasa suka dan nyaman menjalani hidup juga karena ada manusia lain (serta kepentingannya masing-masing) di luar diri saya. Maka demi kenyamanan saya menjalani hidup, maka dalam suasana lebaran, kepada merekalah saya harus mengucapkan “maaf”.

Maaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s