Tidak N O R M A L


Saya sempat terhenyak membaca salah satu tulisan Moyann, teman SMA saya, di blognya. Tulisannya mengingatkan saya pada sesuatu. Dalam tulisan yang diberinya judul Corpus Sine Pectora-Tubuh Tanpa Jiwa, dia menulis tentang orang-orang yang “tidak lazim” atau “tidak normal”. Tema ini cukup menarik bagi saya. Saya seringkali membahasnya dengan pacar saya. Tulisan Moyann seakan-akan menghibur saya karena ternyata bukan hanya saya yang pernah agak risau memikirkan masalah ini. Entah Moyann sampai ke tahap risau atau tidak. Kata “Tidak normal” adalah hal yang akrab bagi semua orang, tetapi sayangnya, hampir selalu dipandang secara negatif.

Perbincangan dengan pacar saya berawal ketika saya menyadari bahwa pacar saya jarang sekali tidur di malam hari. Saya menganggap kebiasaannya mengganggu sekali. Saya tak peduli, baik skripsi yang sedang dikerjakannya, ataupun main Flip Words, saya tetap terganggu. Kita semua juga tahu bahwa kebanyakan orang tidur di malam hari, dan terjaga ketika pagi. Jadi ketika ada seseorang yang terjaga di malam hari dan malah tidur sepanjang siang, bukankah memang pada kenyataannya itu tidak wajar?

“Orang-orang itu kalau malam tidur, siang bangun. Kamu nggak normal.”

“Nggak normal? Hanya gara-gara aku berbeda dari mayoritas orang, lalu jadi tidak normal?”

“Iya dong.”

“Kan aku siang juga tidur. Nggak boleh diganti, dari malam jadi pagi?”

“Boleh saja. Tapi ya tetap nggak normal.”

Dia tidak terima cap “tidak normal” itu. Sementara saya bersikukuh bahwa dia memang tidak normal. Lalu pertanyaannya, memangnya ada apa dengan “ketidaknormalan”? Bagi saya, masalah tidak tidur di malam hari ini bukan sekadar masalah bahaya begadang bagi kesehatan, tapi mengenai cara biasa orang memandang.

Mersault, tokoh dalam novel The Stranger karya Albert Camus dianggap gila dan tidak normal karena menunjukkan sikap tidak peduli terhadap lingkungannya. Mersault tak menangis ketika orang tuanya mati, juga mengaku tak menyesal di pengadilan ketika membunuh Orang Arab. Tapi dipandang sebelah mata, Mersault tetap tidak peduli. Ia bersikap stoik. Bagi saya sikap itu tak bermasalah, karena lagi-lagi pertanyaannya, memangnya ada apa dengan “ketidaknormalan?” Benar kata Moyann bahwa normal dan tidak normal hanyalah istilah untuk menjadi seperti mayoritas manusia pada umumnya.

Jadi bagi saya, tidak tidur di malam hari hanyalah masalah istilah. Hanya. Karena realitanya memang hal itu tidak normal secara sosial. Lagi-lagi saya setuju kata Moyann, “kebiasaan yang membuat orang mengkotak-kotakkan antara gila dan tidak. Termasuk ketika pacar saya sempat melontarkan pertanyaan: “terus bagaimana dengan para pekerja yang memang harus bekerja malam, lalu baru bisa istirahat siang?” Sebagian besar orang di dunia bekerja saat hari benderang. Mungkin dulu, sewaktu masyarakat masih hidup tanpa terang buatan, bekerja pada siang hari itu mempermudah. Jadi sampai hari ini, orang-orang banyak mengenal pekerja ya beraktivitas di siang hari. Meskipun sebetulnya sekarang sudah ada sistem kerja shift.

Saya heran, betapa orang-orang menanggapi istilah “normal” dengan kesan terlampau serius. Menjawab pertanyaan pacar saya, saya harus bilang bahwa para pekerja malam itu memang tidak normal. Begini, menjadi “tidak normal” itu bukan berarti kita harus melepaskan diri dari jeratan cap “tidak normal” dan menjadi “normal”. Bukan berarti mereka yang bekerja di malam hari dan tidur di siang hari harus membaur dengan masyarakat yang lazimnya tidur di malam hari. Supaya seperti orang kebanyakan.

Menjadi “normal” maupun tidak, adalah masalah penerimaan diri terhadap realitas. Kehidupan adalah pertemuan kedirian manusia dengan dunia. Sebatas itu, dengan catatan bahwa sesama adalah juga bagian dari dunia. Jadi kalau pertemuan itu tidak dilengkapi dengan nilai-nilai, maka dari yang sekadar “tidak normal” beranjak melupakan etika hidup bersama. Pada akhirnya, menjadi “normal” idealnya adalah memperjuangkan tindakan mandiri yang disertai nilai-nilai. Tidak harus mengikuti gerak masyarakat. Jika masyarakat melulu menjadi ukuran bagaimana harus bertindak, minoritas tak akan didegar karena dianggap negatif. Padahal, minoritas adalah juga manusia.

Mersault memutuskan hidup sebagai dirinya. Anti-mainstream. Normalkah ia? Sejauh ia punya keutamaan yang dijunjung, kalau memang “tidak normal”, memangnya kenapa?

Advertisements

3 thoughts on “Tidak N O R M A L

  1. Reblogged this on LARASATIMOJ and commented:
    mungkin kalo di daerah yang gak pernah ada matahari, ada normal yang lain lagi yah jam kerjanya.. cuma beda normal aja..

  2. kamu tahu kan terjemahan The Stranger kedalam bahasa jawa berjudul ‘wong njaba’. itu artinya secara harafiah: orang luar. jadi the stranger, orang aneh (tidak normal) sama dengan orang luar. bisa benar?

    • Aura Asmaradana

      Iya, dalam Bahasa Inggris pun kan ada The Stranger dan The Outsider. Ada yang pernah cerita, katanya sudah ada skripsi yang membahas mengenai perbandingan judul itu. Siapa ya yang pernah cerita? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s