Angkringan


Sekitar 500 meter dari penginapan di Kota Nganjuk, ada sudut remang yang membahagiakan. Saat pertama melihatnya, saya tiba-tiba merindu jahe susu hangat. Pinggiran gelasnya menyajikan susu kental lengket yang menular ke tangan saat disentuh. Saya tiba-tiba merindu telur puyuh bacem yang melekat sejajar satu sama lain dalam satu tusukan sate. Saya lapar. Padahal baru sesaat sebelumnya saya makan nasi dengan ayam bakar. Sudut remang itu dilindungi dari jalan raya oleh sebarisan motor yang diparkir rapi. Beberapa gerombol orang santai menikmati panganan dalam piring-piring plastik. Saya menyibak spanduk yang menaungi keremangan itu. Tampaklah jejeran lauk yang membuat saya lapar kembali. Saya semangat memisahkan lauk pilihan ke dalam piring plastik, dan menunggunya dibakar. Wangi menyeruak terbawa angin yang tiap malam menghantui kota ini. Saya membawa lauk di dalam kantung plastik hitam. Membawanya ke kamar penginapan.

Dua tusuk telur puyuh, satu tusuk hati ampela dan usus ayam, satu ceker, dan kepala ayam super pedas.

Dua tusuk telur puyuh, satu tusuk hati ampela dan usus ayam, satu ceker, dan kepala ayam super pedas.

Saya membuka hidangan malam itu di sebuah kursi beranda panjang, yang entah mengapa malah diletakkan di dalam kamar penginapan. Wangi di tempat pembakaran yang sempat saya hirup terbawa ke dalam kamar. Perasaan saya tiba-tiba semrawut. Saya tidak juga sanggup memulai suapan pertama. Makanan yang dibeli di angkringan, di mana pun saya memakannya selalu menaruh saya pada posisi romantis. Saya mengingat kembali. Saya mengingat dan membandingkan dalam hati penampakan lauk pauk dari angkringan-angkringan yang pernah saya kunjungi. Saya mengingat dengan siapa saya menikmati lauk pauk di angkringan. Saya benar-benar semrawut. Tapi juga lapar. Sang bungkusan nasi pun saya buka.

Photo0053

Saya tarik nafas. Bukan lega. Tapi dada sesak melihat isi bungkusan nasi yang padat oleh teman-teman sang nasi. Saya ragu bisa menghabiskan semuanya. Saya tak menyangka apa saja yang ada di balik bungkusan daun pisang. Isi bungkusan yang ada di hadapan saya terbilang lengkap dan tidak seperti yang saya biasa temui. Memang, setiap angkringan selalu menyajikan bentuk dan rasa makanan yang berbeda. Setiap angkringan selalu menyajikan cerita berbeda pula.

Beberapa malam pernah saya habiskan di angkringan di sebuah pelataran bengkel di Taman Solo, Jakarta Pusat. Secara tak sengaja saya dan seorang teman berjalan-jalan malam dan tertarik meniru orang-orang yang duduk lesehan sambil mengumbar tawa. Akhirnya, kami mencoba makan di sana dan semakin sering datang di malam berikutnya. Nasi angkringan Taman Solo tak selengkap gambar di atas. Warna nasi bungkus biasa–yang dibungkus kertas nasi–maupun nasi bakarnya–yang dibungkus daun pisang–sangat biasa. Hambar. Hanya sambal teri dan secuil mi dengan kol. Tapi ada hal yang membuat saya dan teman itu makan dan harus membayar sampai enam puluh ribu dalam sekali santap. Bukan rasa lapar. Tapi kebersamaan kami. Kami mengunyah tiada henti. Saat piring yang terbuat dari seng di hadapan kami sudah kosong, saya akan balik ke gerobak untuk mengisi ulang. Kami berbincang. Sambil terus menyantap. Sesekali, musik reggae yang diputar membuat kami bergumam menggoyangkan kepala dan bahu.

Saya suka tetelan, dia suka telur puyuh dan tempe bacem. Saya biasa memesan susu jahe, dia biasa pesan kopi hitam. Setelah gelas-gelas kami kosong, kami lanjutkan dengan teh tawar hangat. Pengunjung lain datang silih berganti. Jalanan semakin sepi. Kami tetap di situ sampai merasa lelah.

Sejak kami berdua senantiasa berkunjung ke angkringan di Taman Solo itu, angkringan di mana pun selalu membuat pikiran saya semrawut. Saya rindu masa-masa itu.

Saya harus makan semua!

Saya harus makan semua!

Tiba-tiba saya sadar. Saya tak boleh terus bernostalgia. Saya harus menghabiskan nasi dan lauk pauk di hadapan saya yang mulai dingin. Setelah habis, kesemrawutan masih ada. Ia pindah ke perut saya yang terlalu kenyang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s