Membangun


Saya dan dia terus membangun satu bangunan cerita. Untuk membangunnya, kami membutuhkan banyak sekali bahan dan alat-alat. Mengokohkan suatu bangunan tak bisa tidak, harus memiliki pengetahuan yang kuat mengenai presisi dan estetika. Cerita adalah sebuah sarana yang memerlukan konstruksi yang efektif. Mengapa efektif? Kita sama-sama menginginkan bangunan itu berguna bagi masing-masing dari kami. Bagi saya dan bagi dia. Desain dan pelaksanaan sangat menguras energi. Ada beragam hambatan yang muncul mengingat desain dan pelaksanaan infrasktruktur harus mempertimbangkan mengenai dampak pada lingkungan.

Cerita kita butuh waktu yang sangat lama untuk dibangun. Sampai detik ini pun kekokohannya belum bisa dijamin benar. Butuh waktu yang tak ada habisnya. Dalam cerita yang sudah-sudah, kami membangun fondasi. Masing-masing dari kami mencari bahan-bahan yang terjamin kualitasnya, dan yang lebih penting, mencari siapa yang membuatnya, letak pabriknya, serta bagaimana cara kami menempuh jalan menuju ke sana. Berulang, kami harus melakukan dialog tentang “Kekuatan Absolut” yang menyangga tanah tempat kami berpijak. Kami sama-sama percaya bahwa ada pencipta yang dapat diandalkan dalam membuat produk-produk cerita kami.

Kepercayaan saya dan dia terhadap “Kekuatan Absolut” tentulah sangat berguna bagi segala aspek. Secara estetis, bangunan cerita juga akan sangat menarik dan dapat ditiru di masa yang akan datang. Saya sendiri menganggap pengkajian saya akan “Kekuatan Absolut” yang hebat itu sudah selesai.

Saya sangat percaya bahwa “Kekuatan Absolut” itu ada. Ia memiliki kekuatan yang melebihi manusia untuk membangun segala macam bangunan, dengan bahan-bahan yang Ia ciptakan sendiri. Dalam membuat blue print cerita dan merepresentasikannya pada realitas, saya mengalami dinamika. Dalam dinamika itu, saya menemukan bahwa ternyata dalam membangun cerita, manusia harus melakukan hal-hal yang kadang merusak lingkungan. Manusia terkadang harus melawan kontur yang tak sesuai, yang berarti memusnahkan keaslian diri sang kontur. “Kekuatan Absolut” mau tidak mau harus direduksi. Kesempurnaannya harus pindah ke tangan para pengolah. Lebih utama dan sulit adalah tugas mengencerkan rasa, supaya lebih lentur dilekatkan pada dinding-dinding realitas. Rasa harus dibuat lebih cair supaya sesuai dengan bidangnya. Meski toh akhirnya likuiditasnya akan hilang, dan mereka pun mengeras. Cairnya bahan itu justru akan berguna dalam melindungi bangunan dari hempasan angin dan air hujan.

Dengan percaya pada “Kekuatan Absolut”, manusia juga harus belajar membangun cerita yang sehat dan belajar dari alam. Proses membangun bukan proses yang tanpa resiko. Berbagai potensi bencana kecelakaan menghadang. Manusia bisa saja mengalami hal sederhana yang berakibat sangat buruk: mata manusia dapat dimasuki debu proyek. Meski ada helm, kacamata, dan sepatu boot, tapi kemungkinan tetap ada. Saat mata dimasuki debu, realitas jadi kabur, dan biasanya manusia panik dan kalap. Manusia tidak dapat melihat dengan baik lagi. Mereka akan merasa ditinggalkan. Kebenaran pun tak bisa dipandang jernih lagi. Bahkan, hal yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Manusia bisa saja menabrak bangunan yang dikerjakannya dan merubuhkannya sendiri.

Terlalu banyak resiko untuk mencapai kesempurnaan. Belum lagi, saya dan dia masih terus membutuhkan desainer interior yang pilihannya hanya saya, atau dia. Tak bisa orang lain. Faktor eksternal bisa saja memiliki andil untuk mengubah dan memberi saran, tapi penyusunan interior awal harus berawal dari kami. Hanya kami yang tahu betapa budget yang ada, lalu apa saja yang harus dipasang pertama dan belakangan. Tugas kami masih banyak.

Dalam semua proses membangun ini, saya hanya berharap mata saya tak dimasuki debu proyek, karena dengan itu berarti proses harus lebih lama lagi. Tak bisa dipungkiri, lapisan terluar harus segera diwarnai dan dalaman bangunan harus segera diberi perabot pelengkap. Saya tidak mau jika harus terjebak dalam pandangan yang salah tentang kebenaran, bahkan jika harus menukar kebenaran yang sebetulnya dengan kebenaran yang menyesatkan. Saya selalu berharap kami mampu membangun sebuah gedung pencakar langit yang tak lekang oleh retaknya dinding dan rayap.

Pada akhirnya, kami, maksudnya saya dan dia, adalah sebuah tim. Kami harus bekerja bersama. Kalau dia bersikeras tak mau membeli helm, kacamata, dan sepatu proyek yang terjamin kualitasnya untuk melindungi diri, maka saya tidak akan mungkin bekerja sendiri. Semuanya pada akhirnya tergantung kesanggupan dan komitmen masing-masing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s