#2


Pada masa Sekolah Dasar, saya menyukai buku-buku yang ceritanya penuh dengan petualangan dan fantasi. Enyd Blyton dengan para detektif ciliknya, Astrid Lindgren—pertama kali dengan Ronya di Sarang Penyamun dan Pippi Langstrump—, C.S Lewis, dan pengarang-pengarang yang menurut saya dapat memenuhi hasrat “doyan bertualang” saya. Rasanya seru dan menegangkan ketika membayangkan menjadi bagian dari Pasukan Mau Tau atau bertualang dengan Pippi dan ayahnya yang adalah raja di sebuah pulau terpencil.

Bacaan saya terus beranjak dan berkembang. Saya seringkali mengulang baca buku-buku itu. Sampai dewasa, tentu saja dengan cara membaca yang berbeda. Kini, saya secara tak sadar membuat jarak yang sangat jauh dengan cerita. Saya tak lagi suka membayangkan hal yang saya baca akan terjadi pada diri saya. Saya semakin skeptis. Dulu, saat jarak itu belum ada, kebosanan saya hadapi sebagai misteri. Saat berada di rumah sendirian, saya membayangkan ada suara yang memanggil dari dalam lemari, dan ternyata ada dunia yang menyenangkan dan tanpa kebosanan di baliknya. Sekarang tidak lagi. Saya menganggap kebosanan sebagai kebosanan.

Bagi saya, berpetualang tidak mungkin menyenangkan kalau manusia tidak beranjak ke luar, minimal beranjak dari rumah. Kehidupan dalam lemari, kurcaci-kurcaci yang tiba-tiba datang menghibur, dan orangtua dan rumah tiba-tiba menjadi sketsa a la Coraline tidak lagi bisa diandalkan. Fantasi unik memang diperlukan. Mereka menyenangkan dan mengembangkan daya imajinasi. Tapi melelahkan juga sepertinya jika kita tak menjajal dunia secara langsung, dan meraba dengan indera kita sendiri. Imajinasi tak cukup. Pemenuhan hasrat berpetualang dengan melulu membaca justru akan membuat kita miskin. Itu mengapa SMA saya mencoba naik gunung, dan mulai ketagihan melakukan perjalanan. Hasrat menemukan hal baru yang saya miliki mulai terolah dengan baik, tak menggebu-gebu seperti saat saya masih terkurung karena belum bisa melancong jauh dari rumah.

 Gawatnya, saya jadi tak bisa dikekang. Perasaan saya berontak saat harus mendekam dalam satu tempat dan kondisi. Rasanya waktu juga ikut terkekang sehingga begitu lama menantikan matahari tenggelam.

Jadi, saat kebosanan melanda, apa yang saya lakukan? Saya rasa manusia memang tak bisa apa-apa saat menyadari batas-batas antara dirinya dan realitas. Tak ada yang lain yang bisa dilakukan selain mengatakan pada diri sendiri: mungkin ini memang siklus yang niscaya. Ada kalanya saya harus terjun langsung pada dunia yang saya inginkan—jalan-jalan, berbagi pikiran dengan orang baru, bahkan dengan alam. Ada kalanya pula saya harus duduk manis, membaca kembali buku-buku petualangan masa kecil saya. Dari dewa-dewa, detektif, sampai monster-monster ganas.

Anyway, di atas semuanya, saya rindu travelling. Saya rindu pada dunia “nyata”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s