#1


Waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sepulang sekolah saya biasa datang ke Nalar, toko buku yang dikelola ibu dan ayah saya. Saya sebetulnya bisa saja main di rumah sendiri, tapi kadang mereka lupa meninggalkan kunci di tempat biasa, atau di rumah tidak ada makanan untuk saya makan siang dan malam. Kebiasaan saya berdiam diri di Nalar membuat hubungan saya cukup dekat dengan beberapa mahasiswa yang biasa berkunjung.

Suatu hari, sepasang mahasiswa duduk di dekat pintu, kalau saya tidak salah mengingat, di dekat deretan buku agama. Mereka sedang berdiskusi. Mereka sering datang ke Nalar dan menjalin pertemanan yang asik dengan ibu dan ayah saya. Keduanya kuliah jurusan Sastra Inggris. Kala itu, saya duduk di lemari buku yang menyisakan sisa untuk mendisplay buku. Saya lupa saya sedang berbuat apa, tetapi saya tahu pasti, pasangan mahasiswa itu sudah lama berdebat mengenai satu pokok yang saya tidak mengerti. Mungkin mengenai satu kosa kata dalam Bahasa Inggris, atau tenses, atau apapunlah itu. Sebagai anak SD, saya tentu saja menganggap diskusi itu sepertinya membuang waktu. Lagipula saat itu, tema yang diperbincangkan mereka tidak berkesan bagi saya dan tentu saja belum relevan bagi hidup saya.

“Dibahaaas… Gitu doang dibahas.” Tiba-tiba saya nyeletuk bak orang dewasa. Saya sebetulnya meniru kalimat itu. Kalimat itu biasa diucapkan oleh ayah teman saya ketika kedua anak kembarnya sedang berdiskusi hal-hal tertentu yang tampaknya tidak relevan bagi sang ayah. Sering saya mendengar ia mengeluarkan kalimat itu. Tampaknya kalimat itu menyenangkan.

Kedua mahasiswa itu tiba-tiba terdiam, lalu saring berpandangan. Saya cuek dan tak peduli. Memang bagi saya, hal itu biasa saja. Tidak ada hal istimewa terkait dengan kalimat itu.

Keesokan harinya, saya duduk manis di atas kursi kayu panjang berukir di ruang tengah rumah. Saya bisa duduk manis sebab ibu sedang mengepel lantai. Dan pekerjaan itu tidak boleh diganggu oleh siapapun. Saya lagi-lagi lupa, sedang apa saya di kursi panjang itu. Tapi yang saya ingat dengan jelas, ibu tiba-tiba berkata,

“Kemarin itu kamu nggak sopan. Jangan gitu.” Hanya itu. Kalimat yang pendek tapi mengejutkan saya. Saya tidak tahu mengapa saya begitu terkejut saat itu, dan mengingat momen itu sampai saya dewasa. Mungkinkah sebelumnya saya tidak pernah diberitahu secara verbal mengenai kesopanan. Rasanya tidak mungkin. Atau saya terlalu merasa bersalah? Mungkin ya. Tapi bukankah saya harusnya tidak melakukan hal yang membuat saya merasa bersalah jika hal itu memang salah? Entahlah. Yang pasti, sampai hari ini, saya masih ingat betul teguran ibu tersebut. Mungkin teguran itu memang merupakan teguran verbal yang pertama mengenai kesopanan, meskipun saya ingat bahwa saya pernah dikurung di gudang gara-gara bersikap tak sopan pada Bi Umi, pengasuh saya, dan tidak mau minta maaf.

Kalau saya mengingat kembali, mungkin perasaan ditegur itu menyesakkan. Ada penolakan saat seseorang membatasi gerak bebas saya. Individu versus masyarakat. Saya rasa di situ letak “persoalan”nya. Kesopanan adalah (semata-mata) tuntutan hidup manusia hidup berkerumun. Tentu saja waktu itu saya tidak berpikir sampai di situ. Yang saya tahu, saya hanya meniru. Kalau itu tidak sopan, berarti ayah teman saya juga melakukan hal yang sama pada anak-anaknya. Dan itu tidak fair.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s