Mimpi-Mimpi Seorang Mahasiswa Tua: Alam Pikir Seorang Mahasiswa Indonesia


John Maxwell, seorang doktor dari Australia pernah menulis disertasi berisi studi biografi Soe Hok-gie, seorang aktivis politik dan intelektual muda Indonesia yang hidup pada dasawarsa 1960-an. Disertasi tersebut berjudul “Soe Hok-Gie: A Biography of a Young Indonesia Intellectual”. Hal menarik yang patut kita perbincangkan adalah keseriusan Maxwell dalam menggarap disertasinya itu. Memangnya siapa Soe Hok-gie itu? Pentingkah ia? Bagi sebagian besar kalangan, Hok-gie hanyalah seorang tokoh minor dalam dunia politik Indonesia modern. Semasa hidup, tulisan-tulisannya tersebar di media dan hanya menyedot perhatian kalangan tertentu. Nama Hok-gie tidak dikenal secara luas di Indonesia. Ia adalah seorang pemerhati politik muda Tionghoa yang tidak pernah memiliki posisi dalam partai politik atau lembaga nasional apapun. Pada masa itu, kondisi itu sepertinya tak mungkin membuatnya diakui secara megah.

Tetapi tak patut disangkal bahwa kemerdekaan Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari peran pemuda. Maka, tidaklah bijak jika masyarakat mengabaikan suara pemuda yang bergiat penuh pada hal-hal kenegaraan. Mungkin esai Mimpi-Mimpi Seorang Mahasiswa Tua yang ditulis Soe Hok-gie bisa menjadi bahan refleksi tentang pemuda ideal Indonesia, atau bahkan sindiran terhadap keadaan mayoritas pemuda kini yang cukup dengan membuka media massa, kita bisa melihat adanya dekadensi nilai-nilai.

Esai singkat itu bercerita tentang kegamangan dan cita-cita yang dihadapi Hok-gie di masa akhir pendidikannya di Universitas Indonesia. Hok-gie mengawali esainya dengan kalimat dari Marthin Luther King sebelum ia ditembak mati:

have a dream, I shall continue to work for that a dream as long as life itself, if necessary I shall even die for that dream.

Bicara tentang mimpi, menurut teman-teman dekatnya, Hok-gie memang sosok yang konsisten dengan cita-citanya. Dalam hal akademik dan pemikiran, ia terus mencari tantangan dengan cara banyak membaca berbagai literatur dan belajar secara mandiri.

Di awal esai, Hok-gie menulis bahwa ia disadarkan akan perjalanan kemahasiswaannya, dari sebagai “seorang pemuda hijau” yang berumur belasan tahun, hingga menjadi “seorang mahasiswa tua”. Seperti juga dalam catatan hariannya, Hok-gie memiliki banyak mimpi tentang bagaimana pemuda Indonesia seharusnya tumbuh.

Mimpi saya yang terbesar…agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”… Pemuda-pemudi bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa…pemuda…dan sebagai seorang manusia. (Paragraf 6)

Keterusikan Hok-gie mengenai masalah eksistensial manusia dibarengi dengan pesimisme yang mendalam terhadap makna dan tujuan hidupnya sendiri. Dalam beberapa catatan hariannya tanggal 5-22 Januari 1962, ia menulis beberapa refleksi. Seluruhnya bernada pesimistik. Pesimisme Hok-gie adalah suatu keniscayaan. Baginya, seorang yang realistis, pastilah seorang yang pesimistis.

Eksistensi manusia dipikirkan Soe Hok-gie secara cukup serius. Tetapi, sebagai mahasiswa, bukan berarti ia melulu serius. Di satu sisi, pada masa itu, mahasiswa belajar dengan serius di kelas, perpustakaan, dan laboraturium, serta berdiskusi tentang masalah tertentu. Di sisi lain, mahasiswa juga memerlukan kegiatan-kegiatan non akademik seperti olahraga, berorganisasi, mendaki gunung, menonton film, baik yang berat, maupun film-film murahan. Sementara itu, di saat-saat yang menentukan, mahasiswa dapat bertindak tegas hingga turun ke jalan raya. Mereka berani menghadapi panser-panser tentara yang mau menginjak-injak demokrasi, berkata tidak kepada siapa pun yang ingin menghancurkan rule of law dan kemerdekaan bangsanya. Bagi Hok-gie, manusia (seharusnya) adalah manusia-manusia yang berkepribadian, tetapi tidak berlebih-lebihan.

Apa memang mahasiswa memang harus terlibat dalam politik bangsa? Bagi Hok-gie, mau tidak mau, mahasiswa harus. Bagi orang-orang yang realistis, politik adalah harus. Dalam catatan hariannya, Hok-gie sempat membahas mengenai pandangannya terhadap politik. Bagi Hok-gie, politik adalah sesuatu yang kotor meski tak tertutup kemungkinan bahwa di saat ia tidak bisa menghindar, maka ia rela terjun ke dalamnya. Tetapi melalui Mimpi-Mimpi Seorang Mahasiswa Tua ini, saya yakin bahwa bukan politik yang kotor yang dimaksud oleh Hok-gie, tetapi “politik yang dewasa”. Politik dengan P besar.

Maka di universitas, ia aktif berpolitik. Meski begitu, tentu saja, lingkungan tempatnya berada tak selamanya sejalan dengan idealisme Hok-gie. Ada banyak hal yang dirasa mengecewakan di perguruan tinggi.

Yang paling menyedihkan saya dewasa ini adalah bahwa banyak mahasiswa-mahasiswa (baca: pemimpin mahasiswa) Indonesia yang mengingkari hakikat kemahasiswaan dan kepemudaan. Yang tumbuh dalam kampus adalah suasana kepicikan dan kemunafikan. Mahasiswa berlomba-lomba untuk menjadi suci, dengan tidak pada tempatnya. (Paragraf 11)

Sejak di sekolah menengah, “musuh” Hok-gie adalah borjuisme dan ketidakdewasaan dalam berpikir. Pada MAPRAM (Masa Prabakti Mahasiswa), Hok-gie adalah salah satu orang yang mengakui nilai positif dari kegiatan tersebut. Padahal, banyak mahasiswa yang tidak menerima adanya kegiatan yang dianggap berisi perpeloncoan itu. Bagi Hok-gie, perpeloncoan merupakan upaya belajar berani menghadapi kenyataan meskipun pahit. Be brave to face the facts, begitu seharusnya manusia menurut Hok-gie.

Tampaknya memang Hok-gie ingin menularkan keberaniannya pada khalayak ramai, atau paling tidak menunjukkan bahwa masih ada orang-orang tertentu yang berani, khususnya dalam hal perpolitikan. Ia mengaku dipengaruhi oleh buku karya John F. Kennedy, 4 Profile of Courage.

…Senator Ross yang berani membela prinsip-prinsip kebenaran dan berani melawan arus massa, dan partainya sendiri. Akhirnya ia kalah—tidak terpilih kembali, diasingkan oleh teman-temannya dan dicerca di muka umum… Sam Houston yang berani mempertahankan prinsip-prinsip konstitusi negaranya, dan memilih kehancuran dan kematian daripada mengkhianati keyakinannya sendiri. (Paragraf 13)

Dua macam keberanian seperti itu dikagumi oleh Hok-gie. Keberanian dalam hal politik. Seorang “Politikus dengan P besar”, seharusnya tidak hanya sekadar mengikuti arus massa dan taktik-taktik. Hok-gie menceritakan pengalamannya saat rapat Senat Mahasiswa suatu siang di awal 1965. Rapat tersebut diadakan dalam rangka permintaan golongan revolusioner, yaitu GMNI-GERMINDO-PERHIMI dan CGMI, untuk membersihkan Senat dari golongan kontrarevolusi, yaitu HMI-Manikebu. Pada waktu itu, pembentukan Demokrasi Terpimpin mengakibatkan politisasi yang cepat di kampus-kampus dan forum-forum mahasiswa. Ada arus yang menekan mahasiswa agar secara terbuka menunjukkan dukungan total terhadap aspek ideologis terpenting dalam Demokrasi Terpimpin. Organisasi mahasiswa yang paling kuat adalah GMNI dan HMI. Meskipun HMI tidak pernah secara formal berafiliasi dengan partai politik apapun, tetapi diduga kuat mempunyai kaitan erat dengan Masyumi, partai politik yang dilarang pada 1960. Tahun 1964, kampanye anti-HMI mulai dilakukan dengan semakin gencarnya tuduhan umum yang menyatakan HMI adalah anti-Manipol, kontra revolusi, dan onderbouw Masyumi. Dan bagaimana respon Hok-gie terhadap petistiwa itu? Ia angkat bicara.

…Prinsip yang harus kita tegakkan adalah prinsip kepemimpinan yang sehat dalam dunia mahasiswa. Seorang mahasiswa tidak dinilai oleh afiliasinya, agama, suku, keturunan ataupun ormasnya. Penilaian satu-satunya yang dipakai adalah benar atau salah, jujur atau maling, mampu atau tidak mampu. (Paragraf 15)

Dalam hal ini, posisi Soe Hok-gie dan kelompoknya dalam dewan senat jelas. Mereka melakukan upaya-upaya untuk membatasi pengaruh badan-badan mahasiswa berbasis partai, dengan adanya konflik antara GMNI dan sekutu-sekutunya di satu pihak, dan HMI dan mahasiswa-mahasiswa independen di pihak lain. Sementara itu, dalam teks Hok-gie terlihat kecewa terhadap ormas-ormas lain yang tidak membela prinsip sehat itu. Tetapi ia mewajarkan karena menurutnya, pertimbangan-pertimbangan politik praktis tidak memungkinkan mereka untuk bergerak membela prinsip-prinsip yang benar. Baginya, hanya individu-individu yang “nekat” dan idealis gila yang mau tampil.

Saya rasa Soe Hok-gie ini adalah seorang yang anti-politik identitas. Suku, agama, ras, dan ideologi tak menjamin kebenaran seseorang. Kini, baik di lapisan kemahasiswaan maupun umum, politik identitas justru mendominasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, seseorang dapat dihabisi nyawanya karena berbeda agama. Apakah itu berrati bahwa mimpi Hok-gie belum tercapai hingga tahun 2013 ini? Bisa jadi.

Bertolak pada peristiwa di badan senat tersebut, Hok-gie kembali pada prinsipnya tentang kedewasaan. Ia mengungkapkan mimpinya yang ketiga,

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil putusan yang mempunyai arti politis (walaupun bagaimana kecilnya), selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, golongan. (Paragraf 18)

Mengenai mimpinya ini, kita harus kembali melihat Hok-gie sebagai pribadi yang pesimis. Terbersit dalam tulisannya bahwa ada kemungkinan, mimpi-mimpinya agar mahasiswa Indonesia berpolitik dengan P besar dan bukan p kecil adalah mimpi-mimpi yang terlampau tinggi.

Mimpi Hok-gie ini menarik. Dalam catatan hariannya, kita dapat melihat bahwa Hok-gie menolak semua kepercayaan kepada Tuhan dalam pengertian yang konvensional dan bermusuhan terhadap agama formal. Tetapi nyatanya hal itu tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap nilai-nilai positif kehidupannya. Kedewasaan adalah sikap yang tampaknya sangat dijunjung Hok-gie dalam semua aspek kehidupan. Saya merasa miris. Ini bertentangan sekali dengan kejadian beberapa waktu lalu, saat beberapa oknum masyarakat dan pemerintah mengusulkan agar jam pelajaran agama di sekolah ditambahkan berkaitan dengan tawuran yang semakin sering dilakukan siswa. Benarkah keterkaitan itu? Ya, silakan dilihat dalam seorang Hok-gie. Dapat kita lihat bahwa ia, ketaatan beragama tidak menentukan “bersih” tidaknya seseorang, apalagi maju tidaknya perkembangan intelektualnya.

Kedekatan Hok-gie dengan buku-buku membuatnya menyesal saat terdapat pelarangan beberapa buku untuk dibaca masyarakat Indonesia.

Apakah yang akan terjadi jika sekiranya mahasiswa-mahasiswa hanya diperkenankan menerima satu sumber informatif melulu. Dari grup Nasakom? Dari Dr. Ruslan Abdulgani? Dr. Ruslan Abdulgani selalu berbicara tentang kebebasan mimbar. Bagi saya kebebasan mimbar berarti kebebasan untuk mencari sumber-sumber dari manapun juga… (Paragraf 21)

Pembahasan tentang buku-buku tersebut berkaitan dengan pelarangan beberapa buku seperti buku karya Dr. Soemitro, Mochtar Lubis, Idrus, H.B. Jassin, Bur Rusuanto, dan kaum Manikebuis lainnya. Hok-gie merasa bahwa civitas academica yang seharusnya diberi kebebasan, tidak dapat menjalankan kebebasan untuk mencari sumber, meneliti, mengkritik, dan menyatakan pendapat-pendapatnya walaupun bertentangan dengan pihak penguasa. Hok-gie memprotes keras aktivitas pelarangan buku-buku itu. Terlebih lagi, sebagian dari buku-buku yang dilarang memiliki implikasi terhadap hidupnya. Karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya, yang telah dibaca Hok-gie pada saat di bangku SMP, membuat Hok-gie semakin yakin bahwa pemerintahan pada masa itu telah menghancurkan kebebasan mimbar. Hal itu membuatnya memimpikan hal keempat, yaitu bahwa kebebasan itu akan diperoleh mahasiswa-mahasiswa di masa depan. Ia berharap, mahasiswa bebas menghisap ilmu dari literatur manapun.

…Mahasiswa-mahasiswa yang menulis tentang Revolusi Rusia, boleh mengutip sumber-sumber dari Lenin, Stalin, Trozsky, Plekanov, Berdjajev, tanpa ada pertimbangan-pertimbangan “demi keamanan”… Memutar film…yang memperlihatkan kebuasan Perang Vietnam dari segi komunis… (Paragraf 25)

Di era ini, kebebasan mimbar yang didambakan itu mungkin sudah cenderung bisa ditemukan. Tetapi yang patut dipersoalkan adalah, apakah dengan terbukanya jalan mengakses literatur dengan bebas, maka mahasiswa dengan sendirinya berkeinginan untuk mengakses? Bagi saya, jawabannya belum tentu. Ketergesaan untuk lulus kuliah dan mengejar kapital membuat mahasiswa Indonesia kini enggan mendekati sejarah bangsanya, apalagi meneliti dan mengkritik secara sukarela.

Selain menyayangkan dan menolak sistem pemerintahan waktu itu, Soe hok-gie juga mengutuki beberapa pribadi mahasiswa. Baginya, di dalam universitas ada terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Ada banyak mahasiswa yang di satu sisi berjudi, pergi ke tempat pelacuran, membolos, dan mensontek, sementara di sisi lain seringkali berteriak-teriak tentang moral generasi muda, dan tanggungjawab mahasiswa terhadap rakyat.

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain… Kebebasan mimbar tidak ada… Barangkali mimpi-mimpi saya tidak akan terlaksana. Tetapi dengan kerja keras, mimpi-mimpi tadi mungkin akan terlaksana.(Paragraf 26)

Begitulah Soe Hok-gie menutup esainya yang penuh mimpi. Permasalahan bagi Hok-gie tidak hanya berasal dari sistem pemerintahan yang berlaku, tetapi juga masalah moralitas dan nilai-nilai dalam pribadi mahasiswa. Mimpi-mimpi Hok-gie sangat wajar karena merupakan pengejawantahan dari kekecewaan dalam pengalaman sehari-hari. Sewajarnya manusia pasti menginginkan kesempurnaan. Apalagi dalam konteks Indonesia, yang perjuangan kemerdekaannya perlu diperjuangkan berkali-kali.

Sebagai seorang mahasiswa, Hok-gie menyadari benar bahwa sebagai kawasan akademis, kampus tak dapat luput dari dunia politik. Apalagi sejak tahun 1965, Hok-gie jauh lebih menyadari ketegangan politik yang lebih luas di balik perkembangan politik kampus dibandingkan dengan teman-temannya. Bagi saya, ini adalah hal yang positif mengingat di era ini, banyak mahasiswa yang bersikap apatis terhadap politik tanpa menyadari bahwa politik berpengaruh terhadap kehidupan sampai kepada hal-hal kecil, juga penting bagi perkembangan pemikiran.

Memang, Soe Hok-gie bukan satu-satunya pemuda dan mahasiswa. Mengapa kita harus membahasnya? Karena saya rasa ia jujur dan sangat realistis. Mimpi-mimpinya sangat muda, dan sangat Indonesia; relevan, bahkan hingga detik ini. Semua mimpi-mimpi Hok-gie masih harus diperjuangkan. Semoga masih ada sejumlah kecil mahasiswa yang bekerja untuk mengubah suasana ini, seperti harapan Hok-gie. Demi mencapai mimpi-mimpi itu, mau tidak mau harus ada mahasiswa “bersih” yang berjuang secara politis, bahkan jika mungkin, mati untuk mimpi itu, seperti kalimat dari Marthin Luther King.

Selamat Hari Lahir, (alm.) Soe Hok-gie.

Cita-citamu (masih) kami perjuangkan!

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s