RESITAL


Mungkin di keseharianmu, menikmati layar menyala itu seperti menikmati resital piano. Begitu memabukkan. Membuatmu tak ingin diusik. Pengunjung resital lain, yang duduk manis, tak diizinkan berbicara, membuat bebunyian dari mulut, hidung, telapak tangan. Berdehem, menyedot dahak di tenggorokan, menggosok kedua telapak tangan. Tapi ya, selama resital berlangsung, jangan sampai itu terjadi. Sebisa mungkin jangan. Padahal, resital itu seringkali membuat manusia seperti saya mengantuk. Jenuh. Tak diperhatikan sebagai individu. Panggung begitu menjadi sentral.

Sementara itu, jika terpaksa, orang-orang akan tetap bicara. Tapi kau akan tetap fokus. Sekitarmu tak kau tilik, karena mereka bukan realitas. Realitas bagimu adalah apa yang ada di atas panggung.

Tubuh menegang menghadapi realitas itu. Ketegangan yang nikmat. Realitas yang beragam. Klimaks. Antiklimaks. Begitu mengasyikan. Membuat identitasmu semakin kokoh.

Satu persatu mungkin sekitarmu akan mati. Kelaparan karena tak diberi makan. Tenggorokan kering karena banyak bicara tanpa diberi asupan cairan. Bicara saja. Bicara tanpa didengar.

Kematian itu bukan salah sang salah layar menyala. Bukan salah dunia. Mungkin itu salahmu. Mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s