Hilang (!)


Menghadapi perpisahan yang (hanya) satu bulan, saya kembali membongkar ingatan; membongkar sent item; membongkar diri.

Tue, Mar 5, 2013 at 6:27 PM

Mar 5

Message starred

from Aura Asmaradana to 1 recipient

Re:

Show Details

Ini tulisan yang membuat saya ingin segera pulang (selain karena kebelet pipis) di malam 1 Maret 2013 itu. Seperti janji saya waktu itu, saya akan membiarkan kamu membacanya. Atau bahkan mungkin memikirkan isinya sejauh apapun dirimu pergi. Perjalanan kita semalam suntuk berakhir di tenda penjual sate padang di Rawasari. Sudah kali kesekian saya makan berat hari itu. Tapi rasanya masih juga belum penuh perut itu. Hehe. FYI, malam kemarin itu juga malam yang terasa panjang. Bukan karena saya mau mengakhirinya segera, tapi karena saya menikmatinya. Saya menikmati bersantai berbincang tentang apapun yang saya mau. Tapi pikiran saya tiba-tiba berkecamuk saat kamu, setelah sibuk membujuk saya untuk menghabiskan sate padang berkata, “Tahun depan kita udah pisah ya, boi.” Tiba-tiba segalanya berantakan. Seperti judul novelnya Chinua Achebe. Dengan reflek yang cukup cepat, saya diam dan memalingkan muka. Tak usah tanya kenapa, karena saya juga tak akan bisa menjawabnya. Seumur hidup saya, perpisahan yang kamu maksudkan itu adalah hal yang tidak pernah saya pikirkan. Atau mungkin tidak mau. Perpisahan bagi saya cukup dialami saja, tidak untuk dikhayalkan. Pikiran saya waktu itu teralihkan kepada pengalaman-pengalaman diri saya tentang perpisahan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, kehilangan, meskipun sebuah perpisahan memang belum tentu menawarkan kehilangan.

Waktu SMA, saya merasa menemukan teman-teman yang match luar dalam dengan saya. SMA tempat saya bernaung adalah sebuah sekolah eksklusif yang satu angkatan hanya berisi dua belas orang. Mungkin itu yang membuat kami begitu dekat, juga seiya sekata dalam banyak hal: dalam selera musik, film, cara bergaul, cara memprotes guru, dan banyak lagi lainnya. Memang tak jarang ada konflik di antara kami. Saya merasakan betul betapa hal-hal kecil dan sederhana dalam sebuah ikatan pertemanan bisa menjadi luar biasa besar. Saya kira itu hanya karena kedekatan kami; hanya karena kami saling menyayangi. Saya pernah membuat satu sekolah geger karena pertengkaran antara saya dan seorang teman sekelas hanya gara-gara masalah laki-laki. Haha, konyol. Kami pernah membuat guru Bahasa Inggris yang tidak kami sukai menangis di ruang guru. Setiap kali assembly (pertunjukkan seni yang digelar tiap Jumat, kami melakukannya bergiliran: kelas demi kelas) kami berubah menjadi event organizer sekaligus aktor-aktris yang solid. Selanjutnya, tiga tahun terlampaui, selanjutnya, kami sudah harus melaksanakan mimpi masing-masing. Acara perpisahan kami di sekolah meriah luar biasa, tapi hati kami bisa dibilang ketakutan. Masa depan rasanya tak pernah segelap itu. Sepertinya saya tidak akan lagi menemukan teman-teman seperti mereka. Berpisah dengan teman-teman baik membuat saya merasa berada pada titik paling menegangkan. Tapi ternyata, saya masuk STF, saya menemukan sebuah kenyamanan baru. Seiring berjalannya waktu, semuanya baik-baik saja!

Kasusnya mungkin sama saat beberapa hari yang lalu, seperti saat Wisnu, teman CICM harus berangkat ke Filipina. Mungkin kamu sudah membaca catatan terakhir di blog saya tentang kepergiannya. Kami tak begitu dekat sebetulnya. Tidak semua yang saya alami rela saya bagi dengannya. Dan saat sudah bicara tentang sihir dan hal-hal gaib, kami bisa nyambung setengah mampus! Saya pun merasa kehilangan dia saat ia harus pergi. Tapi nyatanya, saya kembali dihibur dengan adanya teknologi yang tetap bisa menyuburkan dialog kami. Atau juga perpisahan saya dengan almarhum kakek untuk selamanya. Dulu, saya membayangkan ia akan turut merasakan kebahagiaan saya saat belajar filsafat. Saya ingin menjawab pertanyaannya saat ia sedang dirawat di RS Medistra: “Belajar filsafat nanti kerjanya apa?” Ternyata tak sempat. Ia keburu pergi; menggagalkan cita-cita saya untuk membuatnya mengenal filsafat—kegemaran cucunya—secara lebih jauh.

Saya pun kini begitu. Saya pernah cerita padamu tentang bagaimana perasaan saya pada kalian, teman-teman yang menemani hari-hari saya di STF. Malam itu, waktu kamu memberi pernyataan tentang kebersamaan kita yang akan berakhir sebentar lagi, saya merasa sama tegangnya dengan detik-detik perpisahan dengan teman-teman SMA dan kakek. Lagi-lagi, saya merasa masa depan begitu gelap. Mimpi-mimpi tetap saling berkesinambungan, tapi sekaligus—kalau dalam bahasa Romo Setyo saat membicarakan Nothingness—kehilangan konsistensinya. Apa mungkin, apa yang membuat saya tegang itu sifatnya hanya sementara, seperti sebelumnya? Mungkinkah saya akan baik-baik saja saat nanti kamu dan yang lainnya pergi? Sekali lagi, perpisahan memang tak berarti kehilangan. Tapi intensitas pertemuan kita yang begitu sering membuat saya tidak ingin mengakhirinya. Entahlah. Saya tak tahu harus bilang apa untuk menanggapi kalimatmu yang pendek tapi menciptakan ruang refleksi yang seluas harapan saya untuk tetap bersamamu. Karena semuanya sekarang terasa begitu indah. Dengan catatan, bukan keindahan subjektif yang datang dari diri manusia seperti keyakinanmu, tapi keindahan yang memang ada dalam sesuatu bernama pertemanan itu. Beautiful in itself. Keindahan yang melekat erat dengan realitas partikular, seperti tesisnya Platon. Rasanya sih begitu. Mungkin memang tanggapan yang tepat atas segalanya adalah diam.

Terakhir, saya ingin mengutip beberapa kalimat dari catatan harian saya tentang perpisahan dengan almarhum kakek saya. Saya baru menyadari, betapa norak dan melankolisnya saya setiap kali berhadapan dengan perpisahan. “…Yang terangkai di garis horizontal kini bukan lagi warna-warni kisah, tapi doa yang terisi mohon dan pinta. Sebuah permohonan tentang kehangatan meski tak ada lagi yang mengubah angin dan hujan menjadi sebuah anugerah yang luar biasa hangat. Sebuah pinta tentang mimpi. Karena tanpanya, mimpi mungkin dapat berubah jadi asa. Dan ya, baru disadari (lagi) hidup akan berjalan tanpanya. Warna kehidupan jadi gelap. Hitam.”

Ah sial. Betapa saya sayang kamu.

Juga being-being lain.

Terima kasih.

Advertisements

One thought on “Hilang (!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s