When Aristotle was the Truth: Kebenaran Menurut Aristoteles


ImageMembahas kebenaran menurut Aristoteles mau tidak mau harus diawali dengan penjelasan mengenai proses penangkapan pengetahuan menurut Aristoteles beserta kritiknya terhadap Plato. Dalam Phaedo, Plato beranggapan bahwa benda-benda dapat dikatakan indah karena kita sudah menangkap Ideatl “Keindahan”. Dengan kata lain, Idea “Keindahan” hadir dalam benda-benda duniawi yang “indah”. Sekaligus, “benda-benda indah” tersebut berpartisipasi dalam Idea “Keindahan”. Di situlah letak penyangkalan Aristoteles. Dalam Met. A6, 987b13-14 terdapat kalimat “But what the participation or the imitation of the Forms could be they left an open question”.  Idea Plato dalam tafsiran Aristoteles, adalah sesuatu yang transenden, alias memiliki eksistensinya sendiri, dan terpisah dari realitas inderawi, idea menjadi model atau paradigma dari realitas inderawi, dan realitas inderawi meniru model tersebut.  Kalau Idea itu imanen, berarti Idea itu berada dalam atau menjadi satu dengan realitas inderawi.

Dalam Phaedo, menurut Aristoteles, Idea atau Forma adalah penyebab dari ‘ada’ dan ‘menjadi’nya segala realitas konkrit atau inderawi. Teori partisipasi Plato menurut Aristoteles tidak bisa menjelaskan mengapa Forma bisa menjadi penyebab ‘ada’ dam ‘menjadi’nya realitas konkrit. Karena, tidak ada penyebab lain, yaitu causa efficiens.[1]

Aristoteles, dalam Met. A9, 991a11-16 menjelaskan bahwa Forma yang terdapat dalam materi adalah imanen. Forma dan materi menjadi satu dalam substansi kompleks. Dari situlah manusia dapat dibilang mengetahui segala realitas. Mengetahui berarti menangkap Forma dari materi yang sudah selalu tampil sebagai substansi kompleks. Sementara itu, Plato berbicara tentang Forma terpisah, dan pengetahuan kita bermula dari indera, berarti Forma itu tidak membantu pengetahuan kita. “For they (Forms) cause neither movement nor any change in them. But again they help in no way towards the knowledge of the other things (for they are not even the substance of these, else they would have been in them, nor towards their being, if they are not in the particulars which share in them”.

Kebenaran

Aristoteles menulis hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran dan kebohongan di beberapa bagian karyanya, terutama Categories (Bagian 4, 5, 10, dan 12), de Interpretatione (Bagian 1-9), Sophistici Elenchi (Bagian 25), de Anima (Bagian 3.6), dan yang paling banyak adalah pada Metaphysics. Pembahasan mengenai kebenaran dan kebohongan tersebut bukanlah merupakan pembahasan utama pada karya-karya Aristoteles.[2]

Menurut Aristoteles, kebenaran, seperti layaknya being, dapat dimaknai dalam berbagai cara. Seseorang memaknainya sebagai kesesuaian antara kenyataan dalam hidup dengan apa yang dikatakan. Pendapat lainnya menyatakan bahwa kebenaran berorientasi pada hakikat segala sesuatu. Aristoteles mengartikulasikan hakikat kebenaran dengan berpijak pada kebenaran hakikat.[3] Hal tersebut dapat dimungkinkan hanya pada hubungan yang naturalisik dan dan fenomenologis dengan dunia. Lagi, bagi Aristoteles, kebenaran dapat berada pada hubungan itu karena kebenaran itu terdapat atau hidup (it lives) di antara manusia dan dunia.

Dalam Met. 993a27-993b8, tertulis pandangan menarik Aristoteles mengenai sang kebenaran. “The investigation of the truth is in one way hard, in another easy. An indication of this is found in the fact that no one is able to attain the truth adequately, while, on the other hand, no one fails entirely, but every one says something true about the nature of things, and while individually they contribute little or nothing to the truth, by the union of all a considerable amount is amassed… Perhaps, as difficulties are of two kinds, the cause of the present difficulty is not in the facts but in us. For as the eyes of bats are to the blaze of day, so is the reason in our soul to the things which are by nature most evident of all.

Bagi Aristoteles, pengetahuan akan kebenaran atau aletheia dapat diperoleh dengan sulit, tetapi di sisi lain juga mudah.[4] Kesulitan hadir karena manusia tidak mungkin ‘menangkap’ kebenaran secara menyeluruh. Dikatakan mudah karena tidak ada manusia normal yang tidak mengetahui sesuatu yang benar sifatnya meskipun hanya sebagian saja alias parsial. Dalam hal ini, Aristoteles optimis bahwa setiap manusia pasti dapat mengetahui kebenaran, tetapi juga ia bersikap realistis: manusia tidak akan mengetahui kebenaran secara total. Masing-masing manusia dapat memberi kontribusi satu sama lain, entah sedikit entah banyak, dalam pencarian kebenaran.

Aristotle menyatakan kebenaran lain mengenai kebenaran: But to have the whole in a certain way, and yet to be incapable of part of it, shows the difficulty of it [i.e., theorizing concerning the truth].” Di sini, Aristoteles mengajukan sebuah kondisi di mana manusia telah dikondisikan semenjak kelahirannya di dunia. Segala sesuatu yang ditangkap oleh indera manusia sesungguhnya merupakan semacam intimidasi realitas atas kondisi manusia yang mortal dan terbatas untuk menangkap kepenuhan segala sesuatu. Penangkapan kebenaran beranjak dari ketidakmampuan manusia dalam berpikir.[5] Sang penyebab tidaklah berada pada benda-benda, tetapi ada pada manusia. Kondisi tersebut sebagaimana kondisi mata kelelawar yang bukan merupakan makhluk yang buta, tetapi mereka melihat secara samar dan sulit melihat di tengah cahaya yang menyilaukan. Begitu pula manusia. Manusia kesulitan dalam menangkap kebenaran, hal itu lebih disebabkan oleh keterbatasan diri manusia dan bukan oleh disebabkan oleh realitas sendiri.[6] Seperti layaknya mata kelelawar, demikian pula mata jiwa (intellectus) manusia justru tidak bisa melihat dengan jelas apa yang pada dirinya sendiri (in sé) paling jelas, yaitu hakikat dari realitas.

Filsafat Sebagai Pengetahuan Kebenaran

Dalam Met. 993b20-993b30, Aristoteles menyebutkan bahwa filsafat dapat disebut tentang pengetahuan tentang kebenaran. For the end of theoretical knowledge is truth, while that of practical knowledge is action (for even if they consider how things are, practical men do not study what is eternal but what stands in some relation at some time). Sekarang, manusia tidak akan mengetahui kebenaran tanpa sebab-sebab (cause), dan sesuatu memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan yang lain, hanya jika manusia menemukan kualitas yang sama pada hal yang lainnya.[7] Misalnya, api adalah zat paling panas di anatar zat-zat lain karena kita sudah mengetahui suhu benda-benda lainnya. Prinsip-prinsip dari benda-benda harus selalu merupakan yang paling benar.[8]

Dalam memandang realitas, manusia lebih subyektif daripada obyektif. Bagi para realis yang moderat, kebenaran ada dalam realitas. Kebenaran bukan melulu konstruksi subyek yang merupakan kebenaran ontologis. Tugas subyek yang mengetahui adalah untuk menemukan dan membahasakannya. Memang di dalam membahasakannya terdapat unsur konstruksi juga, tapi tidak arbitrer melainkan didasarkan pada realitas yang merupakan kebenaran logis. Tugas manusia dengan logos—pikiran dan kata—mengatakan (legein) hakikat dari realitas. Maka, realitas sebagaimana adanya adalah pengukur kebenaran logos manusia.[9] Di sisi lain, Aristoteles juga mengakui bahwa kebenaran itu pertama-tama ada dalam pikiran subyek dan bukan dalam realitas obyektif.[10]

 Daftar Pustaka

Barnes, Jonathan. 1991. Complete Works (Aristotle). Princeton: Princeton: University Press.

Christopher P. Long. 2010. Aristotle on The Nature of Truth. Cambridge: Cambridge University Press.

Paolo Crivelli. 2004. Aristotle on Truth. Cambridge: Cambridge University Press.

Tjahjadi, Simon Petrus L. 2004. Petualangan Intelektual: Konfrontasi Dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern. Yogyakarta: Kanisius.


[1] Causa effisiens atau penyebab efisien adalah “motor” yang menjalankan kejadian. Misalnya, dalam pembentukan sebuah lemari kayu, tukang kayulah “motor” tersebut. Keempat penyebab menurut Aristoteles kadang-kadang berada dalam kondisi yang menyatu, tetapi setidak-tidaknya dapat dibedakan secara logis dalam pikiran. (Tjahjadi, Simon Petrus L. 2004. Petualangan Intelektual: Konfrontasi Dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 67)

[2] Paolo Crivelli. 2004. Aristotle on Truth. Cambridge: Cambridge University Press. Hal. I.

[3] Aristotle articulates the nature of truth by attending to the truth of nature (Aristotle on The Nature… Hal. 161.)

[4] Dibahas dalam Christopher P. Long. 2010. Aristotle on The Nature of Truth. Cambridge: Cambridge University Press. Hal. 161.

[5] Aristotle goes on to insist that to be incapable of part of the whole is due not to the things but to something in us, namely, the limits of our capacity to think. (Aristotle on The Nature… Hal. 163)

[6] “…the cause of the present difficulty is not in the facts but in us.”

[7] “A thing has a quality in a higher degree than other things if in virtue of it the similar quality belongs to the other things

[8] Selanjutnya, Aristoteles menyebutkan for they are not merely sometimes true, nor is there any cause of their being, but they themselves are the cause of the being of other things, so that as each thing is in respect of being, so is it in respect of truth (Barnes, Jonathan. 1991. Complete Works (Aristotle). Princeton: Princeton: University Press. Hal. 32).

[9] Bdk. Met. IX (Q), 1051b7-9: “It is not because we think truly that you are pale, that you are pale, but because you are pale we who say this have the truth”.

[10] bdk. Met. VI (E) 1027b25-27: “for falsity and truth are not in things — it is not as if the good were true, and the bad were in itself false — but in thought“.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s