Pisah


 :untuk Dhaniel Wisnu

Image

Saya tidak tahu harus menyebutnya apa; sosok yang satu itu. Menyebut kata teman atau sahabat, saya jadi ingat dialog Platon mengenai persahabatan. Dalam hubungan kami, saya tidak tahu apa yang menjadi prioritas. Mungkin hubungan yang saya jalani terlalu biasa dan dinamis. Maka, hingga kini saya belum pernah berpikir eksplisit tentang The Good yang menjadi syarat sebuah persahabatan ideal. Tapi di sisi lain, saya merasa hubungan kami penuh dengan pencarian bersama tentang realitas. Ah, mungkin saya memang tak perlu menjadi seorang Platonisian dalam menjalin hubungan. Saya hanya bisa mengenang pelbagai rasa subjektif dalam dinamika perjalanan kami sebagai entitas yang berusaha saling melengkapi. Tapi baiklah, mari kita sebut ia sebagai seorang sahabat.

Terekam dalam ingatan saya, di suatu malam, ia mengirimi saya pesan pendek, “Rencana tidur jam berapa? Butuh bantuan lo nih.” Saya tak segera membalasnya. Di satu sisi, rasa kantuk mulai melanda, tapi itu baru pukul setengah sembilan, masih terlalu dini untuk berbaring dan masuk ke alam tidur, dengan atau tanpa mimpi. “Belum tau. Bantuan apa?” Tak perlu bertanya, sebetulnya jawabannya tampak sudah bisa diterka. Teman yang satu itu adalah satu-satunya teman di kota besar nan bising macam Jakarta yang biasa saya ajak diskusi mengenai fenomena tak lazim. Banyak diantaranya yang berbau mistis. Pembicaraan kami mencakup banyak hal, dari peredaran bintang-bintang, big bang, monster loch ness, sampai permasalahan apakah kasus-kasus Bermuda Triangle adalah termasuk ke dalam kasus dimensi keempat.

Tak berapa lama, pesan yang masuk cukup membuatku lama menimbang-nimbang, “Perjalanan astral. Tapi nggak macem-macem kok, cuma mau coba apa lewat perjalanan itu mimpi kita bisa sama? Kita bertemu nanti. Di kampus ya!” Begitu kira-kira isinya. Entah kenapa hal yang pertama kali terlintas adalah sebuah afirmasi. Baiklah, saya mau. Padahal, itu bukan kali pertama saya berniat melakukan perjalanan astral di kala tidur. Hanya niat. Sementara perjalanan-perjalanan sebelumnya hanya berhenti sampai di niat, kali itu saya diajak untuk melakukannya bersama. Saya diajak berinteraksi dengan tubuh-tubuh astral yang lain dalam tidur. Itu mengapa, saya cukup lama mempertimbangkannya. Kami pun beranjak semangat menentukan waktu tidur. Waktu itu, sebuah pertentangan hadir. Saya mencintai isu-isu macam itu, tapi selalu ragu untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.

Kini, teman itu pergi sebentar. Masa depan menantinya di Filipina. Masa depan yang sudah ia pilih, tentu saja, karena tanpa harus pergi pun, ia tetap punya masa depan. Ia benar-benar harus melanggeng pergi selama satu semester. Kepergiannya bukan merupakan kehilangan buat saya. Saya percaya seratus persen, kami akan tetap dapat berbagi, atau bahkan mencoba hal-hal semacam perjalanan astral seperti malam itu. Di samping itu, saya merasa tak perlu merasa kehilangan karena perjalanan persahabatan kami sebetulnya lucu, bahkan bisa dibilang tak memungkinkan terciptanya sesuatu yang besar. Pertemanan kami berawal dari sebuah jejaring sosial, tetapi selanjutnya akan sangat membara setengah mati saat membicarakan tentang hal-hal gaib. Jujur saja, saya seolah menemukan diri yang lain di dalam diri teman itu. Sejak memilih membaca sebagai hobi, saya selalu menyayangi koleksi buku yang berisi hal-hal gaib dan tak lazim. Bagi buku-buku yang masih terpajang di toko buku, saya selalu ingin memilikinya dan membaca semua isinya. Teman satu itu mungkin adalah sebuah sosok yang lebih serius dari saya. Ia menjadikan peristiwa penampakan makhluk astral dari sudut pandang parapsikologi sebagai skripsi. Tak ada kata yang bisa menggambarkan rasa takzim saya akan keseriusannya itu selain: salut!

Meskipun bernaung dalam satu sekolah, kami jarang sekali bertatap muka; bertemu secara fisik. Salam takzim pula untuk teknologi yang memungkinkan persahabatan beranjak jadi semakin hangat tanpa harus bertemu langsung. Sebelum ia pergi, saya merasa semuanya baik-baik saja, bahkan sangat biasa. Tapi saat ia berpamitan, meski hanya lewat pesan pendek, saya terenyuh. Saya baru merasakan keindahan pada persahabatan. Indah. Mungkin memang selamanya begitu. Saat mengalami perpisahan, barulah saya dapat menyadarinya: persahabatan sebagai sesuatu yang indah, karena memang ada pada dirinya. Mungkin memang keindahan tak terpisah dari realitas partikular bernama persahabatan itu.

Saya harus bilang bahwa teman yang satu itu luar biasa. Di akhir percakapan kami melalui pesan pendek, ia membuat saya sempat melambung. “…gue juga pastinya bakal kangen sama anak kecil yang kepalanya berisi hal-hal besar.” Saya harus bilang bahwa kebesaran itu; terang itu, tak akan ada maknanya tanpa hubungan yang kami bangun. Saya, bisa dibilang, adalah bukan apa-apa tanpa perjumpaan kami yang “biasa saja” itu. Mirip salah satu larik lagu Payung Teduh: terang masih saja milik malam. Terang memang lebih berarti saat dunia gelap. Itu mengapa, saya selalu ingin menghadiahinya kartu The Fool dari satu set kartu Tarot pertama yang saya miliki. Kepandiran itu gelap. Si Pandir berjalan dalam kegelapan dirinya. Tapi justru itu, si Pandir menciptakan terang. Perjalanan si Pandir dimaknai, bahkan diingat oleh yang lain. Sebagai seseorang yang sebetulnya gelap, saya berharap benar-benar menjadi terang bagi teman satu itu. Saya selalu ingin ia selalu menjadi seorang musafir yang merasa terang karena “gelapnya” saya. Saya berharap ia selalu berada di titik nol; di awal sebuah perjalanan; di semangat pagi sebagai awal dari hari. Semoga ia selalu merasa puas dengan perjalanannya. Apa daya, saya tidak sempat memberikan kartu itu. Sekali lagi, terima kasih, teknologi sehingga saya tetap bisa “memberikan” kartu The Fool padanya.

Filipina adalah tempat yang jauh dari tempat saya berada. Tapi bagi saya, teman seistimewa dia tak mesti dikunjungi melalui perjalanan astral. Seperti kata-kata Einstein yang dikutipnya dalam pesan pendek sebelum pesawatnya lepas landas: jarak dan waktu itu hanya ada dalam pikiran manusia. Ya, perpisahan kami adalah (hanya) masalah jarak dan waktu. Saya tetap bisa mengingat dan bersentuhan dengannya di sini dan saat ini juga.

Advertisements

2 thoughts on “Pisah

  1. aura…bayi kecil yang dulu kulihat dibopong ibu mu, temanku semasa smp..kamu.. Semakin dewasa kini…kata2mu indah menyusun..mengisi mata dan jiwaku di pagi yang melelahkan ini…selamat pagi aura..selamat menulis, selamat bertumbuh, selamat menikmati keindahan persahabatanmu…salam, xoxo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s