Ritus Korban dan Lokalitas


aura's008“Kalau ada hujan di malam hari, jangan dianggap biasa. Lu tahu nggak, hujan itu adalah sari bulan. Air yang jatuh ke tangan lu itu adalah perasan dari tubuh bulan. Buktinya, kalau malam hujan, bulan tinggal sedikit penampakannya, atau bahkan tidak ada…” Begitu kira-kira lanturan saya waktu itu. Teman saya tahu bahwa saya bohong. Saya hanya mengarang cerita. Tapi dia hanya mengangguk-angguk dan memuji, juga tersenyum lebar.

Obrolan kami berlanjut ke pengalaman di kelas. Saya bersemangat menceritakan dosen mata kuliah Agama-Agama Lokal di Indonesia yang baru saja saya ikuti kelasnya. Saya memang tertarik dengan ajakannya untuk membedah dinamika historis komunitas primal menggunakan pendekatan poskolonial. Menarik.

“Di daerah lu ada mitos tentang ritus korban nggak?”

“Apa tuh?”

“Kalau bangun gereja atau sekolah, katanya harus ada korban anak-anak yang diculik dan dipotong kepalanya untuk ditanam di pondasi bangunan.”

“Ada, ada!” Teman satu itu terbelalak karena bersemangat, lalu melanjutkan dengan cerita pengalamannya semasa kecil di sebuah desa di Flores.

“Jadi dulu itu, di desa kami sepeda motor masih jarang. Satu malam, saya sama teman-teman baru mau pulang ke rumah. Tiba-tiba dari kejauhan ada suara dengan kilasan lampu motor. Anak-anak desa waktu itu termakan sekali dengan mitos itu. Kami takut sekali dengan orang asing. Kami takut ditangkap, terus dijadikan korban pembangunan. Kami terus lari. Lu tahu pohon nanas?”

“Tahu.”

“Sanking cepatnya kami lari, pohon nanas sampai kami lompati!” Saya terdiam. Pohon nanas yang terbangun dalam imajinasi saya rasanya pendek-pendek, dan dapat dengan mudah dilompati. Tak berapa lama, teman itu mungkin menangkap rasa heran saya,

“Ra, di desa kami pohon nanas bisa tumbuh sampai setinggi badan lu!” Jelaslah sudah. Saya pun ber-oh panjang. Saya menjelaskan mengapa saya menanyakan padanya tentang ritus korban.

“Di awal kuliahnya, Pak Martin bilang kalau ritus korban macam di desa lu, kalau dicermati, bisa jadi merupakan simbol…”

Ya, mitos penanaman kepala anak kecil bersamaan dengan pondasi bangunan itu ternyata menyimpan makna yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benak saya. Dapat dibilang, ritus korban tumbuh sebagai sindiran terhadap rasionalitas masyarakat lokal yang kian matang, juga terhadap modernisasi yang tidak lagi dapat menyokong cerita-cerita daerah. Di kawasan yang lebih substansial bagi manusia, masyarakat lokal mulai menerima dirinya sebagai seorang animis yang pragmatis dan magis. Hal itu membuat mereka merasa wajar jika mendapat suatu pemahaman baru yang datang dari agama-agama “pendatang”. Kasarnya, masyarakat lokal mengakui bahwa kepercayaan lokal adalah kesalahan atau dosa yang disadari melalui terang agama. Lokalitas terkikis. Maka dari itu, ritus korban seolah-olah merupakan dorongan kepada masyarakat untuk melampaui gereja sebagai simbol rasionalitas agama, dan sekolah sebagai simbol sains, untuk kembali mengilhami lokalitas mereka. Dengan melampaui kedua simbol itu, lokalitas dapat terus terpelihara.

Mungkin kalau Jack White tahu tentang ritus korban itu, ia akan merasa didukung. Mantan pentolan The White Stripes itu dalam pandangan saya kenal benar dengan kelokalan dirinya. Teknologi yang totaliter itu adalah “satu-satunya” subjek sejarah, sedangkan pertemuan wajah adalah lokalitas yang lupa akan kapasitas dirinya selaku sesama subjek sejarah. Manusia yang semakin dirongrong teknologi, tidak sanggup lagi menggangsir kekuatan teknologi. “…Inilah apa yang akan mereka pelajari jika mereka mempunyai hati; tidak ada romansa di tiap klik tetikus. Tidak ada keindahan dalam bermain game sepanjang hari (siapapun yang bangga akan itu sekarang berhenti baca dan berikan komentar Anda di forum terdekat). Layar iPhone sangat nyaman, tapi tidak ada yang dapat menandingi 70mm yang menampilkan film di teater yang indah. Internet itu dua dimensi (…) membantu dan menghibur, tapi tidak ada yang dapat menandingi interaksi tatap muka dengan manusia (…) Di luar sana, orang masih berbicara satu sama lain secara tatap muka, bertukar pikiran dan melihat satu sama lain. Rumah-rumah kesenian masih menyuguhkan film, orang-orang meminum kopi dan mengisahkan dongeng, perempuan dan pria membingungkan satu sama lain dan toko musik masih menjual disk-disk yang penuh dengan jiwa yang belum kalian rasakan sebelumnya. Jadi mengapa kita memilih untuk bersembunyi di goa kita dan puas dengan keadaan kita? Kita tahu lebih baik. Paling tidak kita harus tahu. Kita harus mengedukasi kembali diri kita tentang interaksi manusia dan perbedaan antara mengunduh lagu di komputer dengan bericara kepada orang lain dan membahas musik yang dapat Anda pegang di tangan Anda dan berbagi dengan orang lain,” Begitulah. Perjuangan Jack White adalah juga sebuah perjuangan (tentang) lokalitas.

“Sampai segitunya ya…” Itu komentar sang teman terhadap penjelasan saya. Hanya tentang penjelasan dosen, bukan penjelasan mengenai Jack White yang cukup meluber itu. Saya pun tidak menduga ada telaah yang begitu mendalam terhadap mitos ritus korban. Yang saya tangkap, ada keinginan untuk menilik secara lebih tajam fenomena-fenomena simbolik maupun historisitas agama lokal di Indonesia. Jika dalam banyak bacaan saya sempat menemukan berbagai pendekatan kebudayaan yang esensialis, maka, di dalam telaah mitos itu saya melihat sosok yang disebut Edward Said sebagai “pihak yang didiamkan, salah direpresentasikan, kehilangan daya resistensinya dan mati tanpa kesadaran kritis”. Sosok itu ternyata dapat pula bicara sendiri, membangun daya ingin bangkit kembali.

Maka, “Tanam kepalamu di dasar gereja dan sekolah, supaya dapat melampaui rasionalitas, dan kembali pada Adamu!” begitu mungkin lokalitas berbicara. Mungkin pula ada kalanya manusia kembali pada masa di mana siapapun bisa membuat mitos semacam “Jangan duduk di depan pintu karena jodohmu akan sulit menemukanmu.” Dan di masa itulah mitos saya tentang hujan adalah sari dari bulan akan hidup. Supaya manusia lebih menghargai hujan dan bulan. Juga malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s