Tentang Bulan


Untuk anak-anak sekolah dasar tingkat awal, melukis bulan mungkin adalah hal yang tidak lazim. Mereka mengenal bahwa bulan menampakkan diri di malam hari, saat kegelapan menyelimuti. Segala sesuatunya di dunia ini memang bisa menarik perhatian, tapi apa yang mau anak-anak itu di tengah kegelapan? Jadilah kebanyakan anak akan melukis dua gunung kembar dengan matahari yang baru terbit di tengahnya. Juga sawah-sawah konvensional yang dikungkung dalam kotak-kotak sama ukuran.

Mengapa saya harus mengilustrasikan anak-anak sekolah dasar tingkat awal? Tak ada keinginan untuk mendiskreditkan anak-anak sebagai “yang-belum-tahu-apa-apa”, tapi ada kalanya, manusia bisa menemukan sesuatu yang tidak konvensional; tidak seperti dua gunung kembar di pagi nan cerah itu.

Pernah suatu sore, saat kaki mencoba menemukan makna di tengah keramaian ibu kota, saya menemukan bulan. Ya, bulan di sore hari. “Hei! Lihat!” Dengan gerak cepat, saya menunjukkannya pada seorang kawan. Kawan itu melengos. Seolah tak ada yang istimewa dari bulan yang muncul kesiangan itu. Tapi saya tak peduli. Bulan selalu luar biasa. Bukan hanya karena ia ada di waktu yang tidak biasa, tapi bagaimana ia menampakan diri pada manusia di muka bumi. Setiap indvidu akan memandangnya berbeda. Tapi itu tak mengubah bentuknya, juga sinarnya yang menopang bintang-bintang agar tetap hidup.

Tentu saja bulan tidak akan berubah wujud karena bagi kaum yang percaya terhadap Yang Absolut, bukan bulan yang sebetulnya menginginkan kediriannya. Tapi coba lihat, apakah tanpa bulan, Yang Absolut pada dirinya sendiri dapat dijamah oleh manusia? Tidak. Bulan dan seperangkat besar kosmos yang saling terkait menjadi perantara bagi manusia untuk menjamah Yang Absolut. Karena bukankah Yang Absolut adalah objek yang hanya dapat kita dekati tanpa dapat dikenali kebenarannya?

Dan, astaga, untuk apa saya bicara tentang Yang Absolut, sementara sampai saat ini saya masih senantiasa tersandera oleh keagungan bulan?!

Bulan selalu rajin mengikat saya dalam kepasrahan sekaligus kekalahan. Saya pasrah jika orang lain tidak bisa memandang dengan cara yang sama dengan saya. Itu mengapa seringkali ada lonjakan kegembiraan saat opini subyektif saya tentang bulan dimengerti orang lain. Maksud saya bukan sekadar opini yang terlontar dari mulut, tapi juga perasaan-perasaan subtil yang kadang mengusik.

Kekalahan yang turut saya rasakan adalah tidak sama dengan iri hati. Di satu sisi, saya selalu menyambut hadirnya bulan, tapi di sisi lain juga saya seolah tak sanggup menandinginya. Untungnya bukan itu. Kaki saya terlalu lekat pada bumi untuk merasakan rasa iri. Saya tak ingin terlalu melambung. Kekalahan yang sering saya geluti adalah kekalahan eksistensial manusia yang luluh asa terhadap usahanya sendiri dalam menyaring serbuk-serbuk kepahitan manusia menghadapi bulan. Seperti satu teman saya yang tak peduli itu. Kekalahan itu selalu ada.

Intensionalitas saya pada bulan bukan hal yang biasa dan dapat dibahasakan dengan mudah. Begitu juga bulan pada dirinya sendiri yang rumit. Buktinya, subuh seringkali menahan bulan agar tak cepat pulang. Mungkin saya harus mengenal subuh untuk bertanya tentang gagasan subuh tentang bulan yang tak bosan dituntutnya untuk bertahan.

Dan fajar pun menyingsing, ayam mulai kokok, dan gema-gema ilahiah mulai hadir. Jangan heran kalau bulan masih ada di langit. Ia senantiasa ingin kau kenali secara berbeda dengan bagaimana saya mengenalnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s