Menjelang Sore di Perpusnas


Hari sudah mulai sore ketika saya berjalan di taman komplek Monumen Nasional Jakarta. Saya, dan teman saya berjalan semangat menuju Perpustakaan Nasional. Ini kali pertama saya pergi ke arahnya. Melintas sering. Tapi sebelumnya, sepertinya tak ada keinginan untuk memasukinya. Saya terlalu pesimistik terhadap gedung itu. Saya punya konsep tersendiri mengenai Indonesia, minat baca masyarakatnya, dan ruang publik. Jadilah, 18 tahun saya hidup, baru kali itu saya memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan Nasional. Catatan, dengan membolos salah satu mata kuliah yang tidak terlalu saya gemari. Itu salah, memang. Tapi saya tak menyesal.

Sebelum berkutat dengan buku-buku di dalamnya, kami harus menitipkan barang bawaan di loker yang sudah disediakan. Saya tidak kaget lagi. Hal itu merupakan kebiasaan di perpustakaan kampus kami. Sedang berkutat dengan isi ransel, muka saya tengadah, dan dengan serta merta pandangan saya terarah pada selembar kertas yang berwarna dominan kuning di papan pengumuman. Mata saya dengan cepat menyapu isinya.

Siapa sangka, lembaran itulah yang membuat saya keesokan harinya sudah memegang beberapa lembar kertas. Itu adalah sebuah karya. Hasil pembacaan serta refleksi diri. Saya membawanya ke seorang teman untuk minta pendapatnya. Di tenggelamkan rasa tak puas terhadap tulisan itu, saya berharap banyak padanya. Hanya sehari tulisan itu diperbaiki. Sedikit saja. Setitik-dua titik.

Kini, tulisan itu ada di sini: Pendidikan Humanis dan Problematika Kemanusiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s