Solidaritas Palsu


JAKARTA: Dalam sehari saja, nyawa dua siswa melayang karena tawuran antar pelajar. Alawy Yusianto Putra, siswa kelas 10 SMAN 6 pada Senin (24/9/2012), tewas akibat diserang oleh sekelompok siswa yang berasal dari SMAN 70. Alawy yang saat itu berada di TKP menjadi korban penusukan tepat di bagian dada. Luka tersebut membuat Alawi menghembuskan nafas terakhir.

Tawuran seperti menjadi hantu bagi warga Jakarta, terutama para orangtua wali murid. Saat kejadian, Dua rekan Alawy juga terluka akibat insiden tersebut. Jika dirunutkan berdasarkan waktu, sediktinay sudah lima orang tewas karena tawuran pelajar.  Dari Agustus saja, berturut-turut yang tewas adalah Jeremy Hasibuan (SMA Kartika), kemudian September ada Jasuli (SMPN 6 Jakarta), Dedi Triyuda (SMK Baskara), Ahmad Yani (SMK 39 Cempaka Putih), Alawi Yustianto Putra (SMUN 6 Jakarta).

Jumlah korban tawuran tidak sedikit dan anehnya, pemerintahs eperti tak pernah punya solusi. Selain korban sesama pelajar, tawuran kadangkala merenggut nyawa orang sekitar kejadian. Tak jarang terjadi kerusakan kendaraan maupun kios dan tokoh yang terkena lemparan batu.

Maka benar apa yang dikatakan Wakil Ketua DPR bidang Polkam, Priyo Budi Santoso, bahkan Jakarta darurat tawuran.

Berikut ini sejumlah titik rawan tawuran pelajar di DKI Jakarta, seperti dikutip dari akun twitter TMC Polda Metro Jaya, yaitu sepanjang Jalan Hasyim Ashari. Mulai dari Harmoni, hingga Terminal Grogol, sepanjang Jalan Daan Moogot. Mulai dari depan Citraland hingga melewati Jembatan Gantung sampai di perempatan Ramayana, Cengkareng.

Selain itu juga di Kawasan Roxy, Cideng, Harmoni dan pintu rel kereta Setia Kawan, Jembatan Dua, hingga ke arah jalan Tubagus Angke – Jembatan Lima, Jalan Letjend S. Parman, dekat waduk grogol di sepanjang jalan layang.

Kawasan rawan tawuran lainnya adalah jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk hingga Mangga Besar.  Pluit, areal hingga ke arah Kapuk dan Teluk Gong.(api)

(http://www.bisnis.com/articles/jakarta-darurat-tawuran-sudah-5-korban-tewas-sejak-agustus-2012)

Sebetulnya, apa yang mendorong manusia bertahta kuat di antara kerumunan? Mengapa manusia sampai tega membunuh manusia lain dalam “ajang adu kekuatan” macam tawuran? Benarkah tawuran mengandaikan kebebasan dan kedaulatan manusia; kebebasan untuk melakukan apa saja?

Driyarkara mengandaikan kebebasan manusia sebagai sayap, dengan mana kita bisa membumbung ke atas. Sayap yang mengalami luka, akan mempersulit burung jika ingin terbang. Burung sehebat apapun tidak akan berhasil terbang dengan sayap yang terluka.

Autentisitas manusia dapat dicapai saat seseorang berdiri sendiri dan dapat menentukan segala sesuatunya tanpa campur tangan orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial memang tidak bisa lepas dari kerumunan. Kerumunan telah menenggelamkan subjek dalam bertindak dan menjadi manusia yang teguh. Meski begitu, bukan berarti, saat manusia berada dalam kerumunan, manusia bukanlah dirinya yang sebenarnya. Hemat saya, dengan usaha-usaha tertentu, manusia tersebut sesungguhnya sudah dalam jalan menuju kesempurnaan.

Saat manusia sudah dapat mengontrol dirinya sendiri, maka ia sebetulnya berada dalam suatu ruang menuju kesempurnaan. Manusia dengan rasionalitasnya dapat memilih dan memilah hal-hal di luar dirinya yang dapat menjadikannya tidak autentik; tidak bergantung pada yang lain. Tetapi pun, dalam mencapai kesempurnaan itu, manusia tidak berarti harus menutup diri dari dunia luar atau memisahkan diri dari kerumunan. Driyarkara menyebutkan bahwa salah satu ciri manusia adalah ketidaksempurnaan karena dengan otomatis terikat pada realitas di luar dirinya—orang lain, alam, Tuhan—. Yang harus dilakukan adalah mempergunakan seluruh kekuatan jasmani dan rohani dalam melawan desakan realitas di luar diri.

Manusia begitu mudah tenggelam dalam kerumunan atau sederhananya, terpengaruh oleh masyarakat dan lingkungan. Jika manusia terpengaruh hal negatif sedikit saja, maka sesungguhnya ia telah kehilangan kebebasannya. Ia tidak menggunakan kebebasannya sebagai tameng dari pengaruh dunia luar; yang akan membuat dirinya tidak autentik.

Begitu juga dengan peristiwa tawuran. Tidak ada yang bisa menduga seberapa besar keberanian masing-masing individu dalam kesempatan bertemu satu lawan satu. Saat sedang sendiri dan tanpa desakan dari yang lain, manusia akan lebih cermat dalam berpikir. Itu menjadi alasan mengapa bekerja dalam kelompok merupakan hal yang sulit; manusia harus menyatukan banyak ide dari banyak kepala, menjadikannya satu.

Pada pokoknya, tawuran adalah kejahatan massal yang melukai sayap kebebasan manusia. Tawuran adalah “solidaritas palsu” yang merugikan sesama manusia. Adalah kemampuan reflektif manusia yang tidak digunakan dengan baik yang menyebabkan itu semua. Dengan meletakkan diri sejajar dengan yang lain—maksudnya tidak mengobjekkan yang lain, atau dengan sengaja menenggelamkan diri dalam kerumunan—, manusia akan dapat menghargai diri dan tidak mengandalkan “solidaritas palsu” dalam kelompok.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s