Tidak Peduli


Kadang kita harus bersikap tak acuh pada anggapan yang ditempelkan orang pada kita. Ya, kita: saya, kalian juga. Bukan untuk menjadikan diri lemah di hadapan orang. Tapi manusia juga punya batas. Manusia tidak bisa mengatur pandangan manusia lain. Pencitraan boleh, tapi apakah itu bisa dilakukan di segala situasi? Buat saya, tidak.

Ambil contoh konkrit. Seorang perempuan atau laki-laki berambut gimbal dengan beberapa tindikan di wajah berulang kali masuk tempat kost temannya yang merupakan lawan jenis. Mereka mengerjakan tugas bersama, atau bisa saja berdiskusi sebagai latihan menghadapi ujian lisan. Beberapa tetangga serta pemilik kost menganggap mereka melakukan hal tercela di dalam kamar kost. Padahal mereka berdua ramah, murah senyum, dan rajin jajan di warung sekitar: melancarkan perekonomian setempat. Tapi anggapan masyarakat secara sekilas itu tidak serta merta hilang. Lalu? Ya lalu apa, saya tanya? Bisa apa manusia? Membenahi cara pandang? Tidak!

Kenapa saya harus sebut rambut gimbal dengan beberapa tindikan di wajah pada bagian awal? Karena di sini, di Indonesia, belum banyak orang yang berpenampilan seperti itu. Tidak lazim. Tidak lazim seringkali dianggap aneh. Penampilan aneh, berarti perilaku juga aneh. Tidak sesuai norma umum. Itu memang bentuk kesesatan berpikir; kesimpulan yang diambil tidak benar maupun tepat. Tapi sayangnya saya harus bilang bahwa kesimpulan dan cara pandang macam itu banyak terdapat di masyarakat kita. Judge a nut by its skin. Dan saya tidak suka itu. Tapi ya itu tadi, saya bisa apa? Padahal kacang kecil dengan kulit tebal, bisa saja dalamnya lebih gurih dari yang lain. Kulitnya tipis dan gemuk, tapi bisa saja dalamnya kisut dan pahit, kan?

Manusia punya berbagai kemampuan fisik, termasuk bicara, yang bisa digunakan untuk mengenal manusia lain dengan lebih baik. Juga yang paling membanggakan, manusia punya intelegensi. Manusia secara otomatis memiliki keterbukaan untuk menyambut pengetahuan tentang yang lain, lalu mengolahnya.

Jadi kalau sebelumnya saya sebut pencitraan itu tidak apa-apa, ya memang tidak apa-apa. Tapi sepertinya percuma kalau hanya bertujuan untuk dipandang baik. Manusia kan punya itu tadi: intelegensi, untuk menentukan mana yang baik dan mana yang pura-pura baik.

Hal yang bisa dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat hanyalah bersikap apa adanya. Saya sih selalu ingat, apapun yang dipikirkan oleh orang lain tentang saya adalah anggapan semata. Kebaikan di mata orang lain tidak datang dari dirinya sendiri, ia ditempelkan. Jadi, ada kalanya kita tidak usah peduli.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s