Catatan Tentang Yang Maha


Ini memang bukan kali pertama aku merasa dikuntit. Seumur hidupku memang aku banyak merasa dikuntit. Aku terbawa arus massa. Orang-orang percaya bahwa ada sebuah zat yang maha segalanya, sampai konon, segala aspek dalam kehidupan manusia diketahuinya. Absolut. Objektif.

Aku jadi merasa tidak hidup sendiri. Seolah-olah aku mengenal sesuatu yang benar-benar tahu diriku yang sesungguhnya. Tapi sebentar! Kenal? Mengenal? Tidak, sebetulnya aku tidak benar-benar mengenalnya. Bertemu pun tidak pernah. Sudah kubilang tadi bahwa aku terbawa arus massa. Hanya perbincangan orang-orang mengenainya saja yang kukenal. Dan itu membuatku merasa risih. Kabarnya, kebaikan ada pada dirinya. Entahlah, konotasi baik bagiku hanyalah ibu. Imajinasiku selalu melambung pada ibu di rumah yang selama hidupku aku anggap paling baik; sempurna.

Siang ini kali ketiga aku merasa dikuntit. Aku sedang duduk di pelataran parkir kampus waktu sesosok tubuh yang tak dapat kuduga jenis kelaminnya, mengawasiku dengan tatapan mata tajam. Ia berdiri di ambang pintu gedung perkuliahan. Teman-teman sudah tak menemukannya waktu aku mengarahkan telunjukku ke arahnya. Dia sudah pergi. Padahal aku hanya ingin bertanya tentang identitasnya.

Aku merasa, sosok itu selalu ada di mana aku sedang berada. Bukan hanya berada dalam hal fisik, tetapi juga hmm… apa ya? Aku merasa dia berada denganku juga secara pikiran, di dunia tempat aku berada tanpa fisik; di dunia tempat aku hanya terdiri dari hakikat satu manusia yang murni. Entah di mana letaknya.

Gerak-gerikku diperhatikan. Awalnya aku berusaha bersikap biasa saja. Entahlah, di satu sisi, ini adalah konsekuensi manusia hidup berada bersama di dunia, tetapi di sisi lain, aku merasa ruang ekspresiku mulai terbatas. Aku merasa dijadikan objek dan ruang serta kisah imajiner di kepalaku mulai melampaui batas. Aku juga tak mau salahkan imajinasi, karena bagiku itu adalah kemampuan manusia yang paling luar biasa sampai saya kadang bertanya-tanya, bagaimana intelegensi dapat mengolahnya? Dari mana datangnya kemampuan macam itu di dalam diri manusia? Ah… Yang pasti, imajinasi itu yang kini malah membuat ruang gerakku terbatas.

Bagaimana kalau ternyata sosok itu adalah seorang pembunuh bayaran yang mengancam keselamatan diriku? Atau mungkin seseorang yang sedang melakukan penilaian terhadap tingkah lakuku? Untuk apa? Mungkin hidupku adalah permainan yang dikontrol pihak-pihak tertentu. Atau sosok itu adalah pengawas khusus yang langsung turun ke lapangan untuk dilaporkan ke sang sutradara, sementara kehidupanku disiarkan di televisi-televisi dunia lain di luar sana. Mungkin.

Pengaruh lama dikuntit, jadinya aku menjaga sikap. Kalau benar dia adalah pembunuh bayaran, maka mungkin aku bisa berlaku baik supaya dia menjadi empati terhadapku; supaya dia tahu aku adalah orang baik yang tidak pantas dibunuh karena masih dibutuhkan oleh orang-orang sekitarku. Meski begitu, tetap saja aku merasa tak mau dikuntit terus menerus.

Meski mungkin hanya ilusi berlebihan, dengan dikuntit, aku merasa terasing dan merasa bukan hidup sebagai diriku yang sebetulnya. Kadang, apa yang aku lakukan, bukanlah keputusan yang menunjukkan otentisitas diri. Aku memang masih punya otonomi atas kedirianku sendiri, tapi sepasang mata yang awas sungguh mempengaruhi kehidupanku.

Lalu, hubungan aku dengan manusia di sekitar menjadi penuh kecemasan.

Kira-kira, kenalkah sosok ambang pintu itu padaku? Sejauh apa dia tahu hidupku? Semakin jauh: apakah sosok di ambang pintu itu adalah yang kata orang-orang adalah maha segalanya? Benarkah sosok sesempurna yang dikatakan orang-orang itu menjejakkan diri di antara kita? Memang dia mampu hidup bersama manusia? Lalu, kalau dia berada juga dalam ruang dan waktu, mengapa dia bisa tercipta berbeda dan begitu agung?

Menjelang Pagi

(Embrio  yang tumbuh di rahim pikiran saya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s