Pendidikan: Ruang Kita


Degung Santikarma, seorang antropolog pernah bilang bahwa sejarah kekerasan tidak memerlukan taman makam, pusara berjuru kunci, kemeriahan upacara, apalagi monumen. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah ruang untuk bertutur dan berbagi dengan bebas, sebuah bahasa yang bisa mempertautkan pembicara dan pendengar dengan bijak. Saya setuju. Indonesia sedang butuh keduanya: pembicara dan pendengar yang bijak.

Sebagai negara demokrasi, Indonesia butuh sosok-sosok pendengar yang bersedia mendengar dengan penuh keikhlasan; yang mengerti keadilan; yang jauh dari cinta diri semata. Kini, yang saya amati, orang-orang yang berkedaulatan (baca: memiliki ruang gerak yang banyak), demi kuasanya, tidak bersikap bijaksana. Mereka banyak yang diam. Korban kekerasan, yang merupakan bagian dari sejarah tidak dihadapi, melainkan dipunggungi. Bagaimana mau belajar dari masa lalu?

Maka dari itu, menghadapi sejarah kekerasan, Indonesia butuh pembicara yang bijaksana pula. Indonesia butuh kreator yang dapat menciptakan ruang-ruang kondusif untuk menyampaikan aspirasi. Dengan semangat bertumbuh, pemuda niscaya akan jadi pembicara yang dimaksud: jauh dari asal-asalan beraksi, pemikir humanis, dan memiliki empati terhadap masyarakat yang dimarjinalkan. Pinjam istilah Putu Oka Sukanta, Indonesia harus dibangun menjadi Taman Puspa Warna. Taman itu memberikan peluang hidup yang aman dan manusiawi secara merata. Tak hanya sejarah yang hanya hitam, putih, bahkan abu-abu.

Memperkuat eksistensi pemuda adalah penting bagi saya. Pemuda idealnya dapat berbuat seperti seolah selalu dalam puncak kerasionalan manusia dan diharapkan tidak menyangkal “ada”nya sendiri. Berpikir dan angkat bicara di ruang-ruang yang dikreatorinya sendiri adalah harapan bagi Indonesia dan diri pemuda sendiri karena merekalah calon-calon pendengar bijaksana.

Lalu, apa yang dapat mengantar pemuda menuju idealisme itu? Bagi saya satu: pendidikan. Ya, pendidikan mesti dijadikan medium pembebasan dari kebodohan intelektual dan budi, melepaskan diri dari penyakit cinta diri semata, serta medium penciptaan manusia-manusia yang enggan dijajah feodalisme. Banyak yang sepakat—diantaranya Paolo Freire dan Driyarkara—bahwa hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Bukankah cukup menghargai pendidikan, maka kebiasaan memunggungi sejarah dengan sendirinya akan musnah? Maka jadikan pendidikan sebuah ruang sehat!

Advertisements

2 thoughts on “Pendidikan: Ruang Kita

  1. sebuah torehan yang indah, menelisik langsung pada sasaran tembak dan ringkas untuk dibaca dengan meningglkan suatu pertanyaan buat saya, “apakah kita hanya butuh pendengar dan pembicara yang bijak?” negara ini dengan segala keelokannya sudah memiliki keduanya…mungkin suautu saat kita membutuhkan seorang penjawab yang bijak, yang meletakan segala keutamaan sebagai jawaban bukan kepentingan diri. penjawab yang bijaka adalah dia yang meletakan keuatamaan itu sebagai jalan tengan (jalan tengah adalah jalan emas_via media aurea set_nn). seorang penjawab yang bijak adalah dia yang yang meletakan keutamaan itu di tengah, tidak condong ke kanan atau ke kiri (virtue stat in medio)..akhirnya seorang penjawab yang bijak adalah dia yang tahu mengambil kebijakan yang terbaik untuk situasi kita, yang tidak condong ke kanan atau ke kiri, yang tahu keluh kesah kita depan istana dan tahu mana yang terbaik buat kita…yang tahu sebentar lagi komisi HAM akan dibubarkan dan di tahu apa yang harus dia perbuat….salam keutamaan sang ‘BIJAK’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s