Belajar Sejarah


Sejak lama, saya ingin menjadi guru. Sejak duduk di bangku sekolah dasar; sejak saya tidak menemukan formasi sosok guru yang menyentuh ideal. Idola saya adalah pengabdi sepenuh hati seperti Oemar Bakri. Meskipun sebetulnya bukan dia yang menyebabkan saya ingin jadi guru. Lagipula saya tidak ingin jadi guru seperti Oemar Bakri. Murid berkelahi, saya tidak akan lari. Saya akan mendudukkan mereka yang berkelahi sebagai manusia dengan intelegensinya. Bukan hal mudah memang, apalagi untuk anak-anak. Tapi sebagai langkah awal, saya sudah suka anak-anak. Saya suka belajar bersama-sama dengan mereka.

Berkali-kali saya mengajar anak-anak, saya belum pernah mengakui bahwa mereka bisa dengan mudah saya taklukan. Anak-anak sering menyulitkan. Apalagi anak laki-laki kelas tiga sekolah dasar yang hiperaktif, yang kalau belajar privat diawasi ibunya. Cari perhatian dan ganjen. Ah, curhat colongan sedikit.

Saya pernah beberapa kali mengajar. Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, kewarganegaraan, sejarah, banyak deh. Pelajaran yang terakhir itu, sejarah, jadi salah satu mata pelajaran yang membuat saya selalu menanti pertemuan berikutnya. Bagi saya, sejarah itu istimewa. Itu alasan kenapa saya meletakkan sejarah di pilihan kedua kuliah setelah filsafat.

Kalau masa depan memang tidak dapat ditebak dan gelap, maka percayalah, sejarah punya persamaan dengan masa depan. Sejarah adalah hal yang tidak dapat diketahui secara eksplisit. Hubungan kausalitas yang melahirkan masa kini tidak pernah diketahui secara jelas dan pasti.

Memang benar bahwa peradaban manusia sejak awal mempunyai kepastian putaran waktu, tapi kehidupan tidak berjalan tanpa transformasi-transformasi tertentu. Perkembangan dalam sejarah tidak semata membuat segalanya lebih baik. Malah perkembangan itulah yang juga dapat mendobrak dan mengubah sistem di mana ia tumbuh, bahkan tak jarang destruktif.

Sejarah berjalan penuh pergolakan. Segala unsur: keteraturan, ketidakteraturan, organisasi, terdapat dalam sejarah. Manusia, sang penggerak sejarah, membuat sejarah dihiasi dengan kontradiksi-kontradiksi seperti peradaban dan kebiadaban; di satu sisi penciptaan manusia dengan kloning diperdebatkan kehadirannya, sementara di sisi lain genosida nyatanya pernah terjadi di berbagai belahan dunia: penciptaan dan penghancuran; di rumah-rumah kardus ibu-ibu melahirkan, sedangkan di sisi kota yang lain, seorang bujang mengakhiri hidupnya karena urusan percintaan: kelahiran dan kematian, secara sopan ataupun sadistis. Sejarah dibuat segala unsur itu menjadi tatanan yang sangat kompleks.

Mempelajari sejarah adalah berpetualang dalam kosmos yang penuh teka-teki, tapi bukan berimajinasi. Sejarah mau bagaimanapun adalah realita meskipun sulit dibaca. Maka, mengajar sejarah tak cukup hanya penyampaian ide dan teori. Teori itu saya anggap sebagai terjemahan dari realita, bahkan kadang terjemahan yang salah.

Dalam idealisme saya, berbagi ide adalah hal yang harus ada dalam kelas. Buat saya, berbagi itu juga belajar membumi. Dari situ, realita bisa ditafsirkan, karena kita menjadi semakin intim dengannya. Semakin aporia sebuah diskusi, siapapun akan sadar bahwa yang dilakukannya adalah mempelajari tatanan kompleks berisi keteraturan, ketidakteraturan, dan organisasi tadi. Bukan hal mudah, tentu saja, karena memang harusnya begitu: hindari time slavery. Itu istilah saya saja. Istilah untuk menunjukkan perbudakan oleh waktu. Manusia dibuat terburu-buru untuk mempelajari dirinya sendiri dan sejarahnya. Jadinya asal-asalan.

Itulah. Lihat betapa istimewanya sejarah. Betapa tidak sederhananya. Pengajaran sejarah pada umumnya harus diubah. Guru yang cerdas dan mau berbagi dibutuhkan untuk bersama mengkaji kompleksitas semesta. Tak ada lagi belajar sejarah melalui satu sudut pandang. Saya yang akan mengubah. Tentu saja dengan perubahan yang baik pada dirinya sendiri dan menyebabkan kebaikan pada hal-hal sekitarnya; perubahan yang biasanya ditentang oleh totalitarian karena merupakan benih penyimpangan.

Sebetulnya di tengah nge-hits-nya hal-hal seperti korupsi dan plagiarisme, saya ragu ingin jadi guru seperti Oemar Bakri yang menciptakan menteri, profesor, dokter, insinyur. Tapi ya tidak apa-apalah. Asal dewasa susila, matang pikir, dan baik. Ya, baik. Injak bumi dan realistislah, murid-murid. Menyejarahlah dengan baik. Carpe diem.

Aura, yang bercita-cita.

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Belajar Sejarah

  1. yesterday is a history, tomorrow is a mystery, today is a gift…3 dimensi kesejerahan (past, present, future) yang tak dapat dipisahkan satu sama lain dalam perjalanan hidup mns.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s