Surat Seseorang (Yang Diduga Perempuan) Untuk Seseorang Lainnya (Yang Mungkin Adalah Laki-Laki)


Naskah ini ditemukan tadi sore. Kertasnya sudah lapuk waktu sampai ke tangan saya. Beberapa kalimatnya sudah sulit terbaca. Mungkin karena pengaruh cuaca dan cipratan air yang masih dapat saya lihat jejaknya di beberapa sudut kertas.

Entah sudah berapa lama surat ini tertulis. Ditulis oleh siapa dan untuk siapa, saya pun tak ada perkiraan. Burung bangau kertas yang saya duga berasal dari Paperland membawanya ke jendela kamar saya. Jendela tanpa terali memudahkan ia masuk. Tidak pakai ketuk kacanya, burung itu nyelonong masuk dan memperlihatkan pergelangan kakinya yang terikat kertas berwarna kuning busuk. Dan tanpa memperkenalkan diri dan bilang “dadah”, dia terbang lagi. Jauuuh. Sampai ia terlihat seperti titik saja.

Saya langsung membaca naskah itu meski baunya apek. Saya niat mempublikasikan disertai kebingungan yang amat tentang judulnya. Saya menyerah dan ngasal. Saya menduga surat itu mengandung cinta dan kekaguman. Tapi tak berani ah, saya memberi judul yang aneh-aneh.

Aura

Aku hanya tertawa waktu bisa saja terlontar opini darimu bahwa Platon adalah bapaknya segala bapak. Bapak ideologi pemerintahan dan kenegaraan yang senantiasa kau dengar di kelas-kelas universitas negeri yang ramai, juga bapaknya filsafat yang kuakrabi meski di tempat sepi. Tak perlulah aku lanjut menyebut pertentangan ideologinya dengan Aristoteles. Sebab pertanyaan terus terlontar. Siapa lagi? Kau tanya. Aku menjawab.

Waktu juga bercerita tentang ketertarikan pada pemikiran Kierkegaard, aku masih merasa aneh ada yang bergegas pergi ke perpustakaan dan memilih sebuah buku khusus yang kaya informasi mengenainya. Memang, perbincangan akan semakin menarik jika sama-sama tahu dan berdasar pada informasi ahli. Dan terbukti berguna, bukan? Kita, yang manusia ini perlu banyak tahu yang semacam apa itu otentisitas. Juga menelaah siapa Tuhan kita. Tuhanmu. Allah. Apa caramu menunda sembahyang ketika berkeringat adalah keputusan yang menunjukkan bahwa kau mengenalNya? Kita, manusia yang terbatas, tidak dapat mengenali sepenuhnya Yang Tak Terbatas. Itu yang dibaca, bukan?

Begini, aku rasa, ada yang tidak biasa. Biasanya, dalam sebuah perkenalan, perbedaan begitu tidak berarti. Maksudnya, tak apa jikapun tidak membahas perbedaan. Tapi kali ini beda, banyak pengalih perhatian. Aku jadi memperhatikan perbedaan-perbedaan kecil. Meski sebetulnya tidak akan jadi masalah. Ada pelajaran yang dapat diambil dari sejarah. Saat mengabaikan perbedaan, perbedaan yang ada malah semakin nyata dan merusak. Segalanya jadi dihalalkan. Yang baik ataupun buruk.

Waktu bicara tentang mimpi, sebut saja cita-cita, ada kesamaan antara kita. Tiba-tiba aku disadarkan dari konstruksi cita-cita para guru tingkat pertama sekolah dasar yang terkait erat dengan profesi. Tentunya, tidak termasuk guru seperti kita nantinya. Yang belajar sepenuhnya dari sejarah. Yang bercita-cita banyak berbagi dengan siswa. Menciptakan hawa-hawa diskusi di kelas. Itulah impian. Ada kesamaan. Tapi entah mengapa itu menciptakan ingin tahu yang besar tentang perbedaan. Apa saja sebetulnya?

Perbedaan itu mungkin masalah humor. Kau tertawa dan aku hanya tersenyum. Atau sebaliknya. Atau ketika kita bicara tentang Tuhan. Ada banyak perbincangan tentang Tuhan, agama, dan segala tetek-bengeknya. Bukan meremehkan. Mengingat, biasanya itulah yang diabaikan: perbedaan agama atau pandangan mengenai Tuhan. Tapi salahkah jika jadinya yang tumbuh adalah rasa ingin tahu, bisakah perbedaan itu didamaikan oleh caranya memandang orang lain? Cara memandangku?

Aku tidak tahu pasti apa yang ingin ditulis. Sekadar menunjukkan bahwa perbedaan kadang memang perlu untuk semakin ingin mengakrabi diri dan yang lain.

Seperti malaikat dan manusia. Berbeda, tetapi karena itulah semakin aku ingin dekat dengan yang immortal itu.

Buktinya, sampai puncak beberapa gunung pun, kau ada. Ada kesan yang keras dan teguh tentangmu. Segala jenis putus asa hilang. Ada semacam dekadensi moral waktu berdiri di atas awan. Sebelumnya, ada yang mendorong akuan tentang hidup yang tidak layak dijalani. Aku iri. Kau selalu rajin memperbaiki itu. Memang, katanya, dalam kelekatan manusia dengan hidupnya, ada yang lebih kuat daripada kesengsaraan duniawi, yang tentu jauh dari perasaan bahagia berada di puncak gunung. Penilaian tubuh sama penting dengan penilaian nalar, dan tubuh tidak berani hadapi kehancuran. Manusia, kabarnya, lebih dulu terbiasa hidup sebelum terbiasa berpikir. Dalam hal ini, rasa optimis jalani hidup selalu ada padamu. Kau selalu konsisten dengan dirimu.

Aku pun begitu, konsisten dengan keinginan mengajakmu menjejakkan diri di puncak dan menyanyi. Mengayunkan kaki ke manapun asiknya. Bernyanyi lagu keras.

Ini semua absurd. Jangan salahkan aku jika tidak pernah memancing pembicaraan mengenai Camus karena kau hanya sesekali menghubungi. Meski penuh tanya perhatian, yang memang belum tentu ungkapan perasaan. Tetap saja hanya sesekali. Datang pun menarik. Kala tidak ada kesiapan. Makanya, pasti aku melambung.

Membayangkan menjadi malaikat kertas yang amat ringan.

Advertisements

One thought on “Surat Seseorang (Yang Diduga Perempuan) Untuk Seseorang Lainnya (Yang Mungkin Adalah Laki-Laki)

  1. sepertinya seseorang yang menulis itu sengaja mengirimkannya ke aura. mungkin untuk menyampaikan pada seseorang (walau kemungkinan ini kecil) atau (ini kemungkinan termungkin) diminta untuk membantu memperbaiki gramatika tulisannya. coba perhatikan. ada banyak struktur yang taklazim (untuk tidak mengatakan “salah”).
    “Waktu juga bercerita tentang ketertarikan…”
    “Saat mengabaikan perbedaan, perbedaan yang ada malah diabaikan.”
    tapi, mungkin, sesuatu yang taklazim itu untuk memancing aura melihat jendela dan menunggu sang burung datang. menitipkan kertas lain untuk disampaikan pada seseorang di suatu tempat. mungkin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s