Malu


Di udara
Aku sering diancam
Juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
Sampai dimana kapan?

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti.

Aku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
Dikursilistrikkan ataupun ditikam

Bagi saya, “Di Udara” bicara tentang kebebasan. Kebebasan yang dilawan dengan kebebasan. Kebebasan orang-orang tertentu untuk mengancam, meneror, membunuh orang-orang yang tak sepaham. Tapi kebebasan macam itu—yang adalah “bebas untuk”—dapat dilawan oleh kebebasan yang didasarkan oleh hukum kodrat; kebebasan yang tidak bisa dicabut dari manusia, bahkan ketika dirinya sedang berada di kamp konsentrasi, menjelang kematian. Kebebasan itu tidak akan hilang begitu saja.

Kebebasan kodrati tidak diciptakan oleh masyarakat ataupun negara dan tidak dapat dipisahkan darinya. Dalam negara, tugas negara terhadap kebebasan itu hanyalah menjamin serta menegakkannya. Idealnya, tata negara tidak boleh diatur sedemikian rupa sehingga kebebasan-kebebasan itu dirintangi atau dipersulit. Sebaliknya, harus diatur sedemikian rupa sehingga kebebasan itu terjamin dan diperkuat. Tentu saja, dengan mempertimbangkan nilai-nilai universal.

Meski begitu, ada saja negara-negara yang tidak sepenuhnya menghargai kebebasan yang didasarkan kodrat. Dalam beberapa kasus, Indonesia termasuk salah satunya. Ada determinisme sosiologis yang menghancurkan kebebasan sekaligus mengabaikan hak-hak asasi manusia. Efek Rumah Kaca menyadari betul hal itu melalui lirik “Di Udara”. Sebut saja tekanan sosial, kediktatoran, propaganda, teror. Oknum negara bisa dengan bebas menggunakan kekuasaannya untuk mengancam, meneror, bahkan membunuh. Tetapi Romo Louis Leahy berujar, determinisme semacam itu tidak absolut dan malah membiarkan suatu margin penting bagi kebebasan.

Lagu yang diciptakan ERK khusus untuk mendiang aktivis Munir itu cocok untuk Indonesia yang punya sejarah kelam tentang hak asasi manusia. Kita masih ingat, bahkan banyak dari kita masih berjuang untuk menyingkap misteri pelanggaran hak asasi manusia terkait penangkapan dan pembunuhan orang-orang tertuduh PKI, terbesar di Jawa dan Bali. Masih tersisa juga trauma kaum Tionghoa yang bagai tidak lagi dianggap manusia pada Mei 1998. Lihat pula, orang-orang berpakaian hitam yang berdiri setiap hari Kamis di depan Istana Merdeka. Mereka berbuat begitu bukan tanpa sebab; mereka menuntut keadilan untuk mereka yang dicabut kebebasannya sebagai manusia. Saat kesalahan itu sudah terjadi, negara malah memperumit keadaan dengan tidak mengakui kesalahannya.

Kita, yang tidak mengalami tercerabutnya kebebasan itu hanya bisa berusaha memahami. Juga membantu menyuarakan hal-hal yang tidak bisa kita hayati sepenuhnya. Kegelisahan, kemarahan, tanda tanya, dan keheranan akan tidak dapatnya manusia merasa aman dalam memperoleh haknya. Hak-hak asasi manusia.

Kita, manusia, harusnya malu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s