Imajinasi Ibu Kota


Senja Menggila

Tiada terasa

Senja semakin menggila

Setiap orang

Ingin tinggal di kota

Mari mencari

Mengumpulkan rejeki

Sedikit saja

Untuk sesuap nasi

Menyambut sinar mentari kota

Merasuk peluk membelai jiwa

Berpadu satu menuju cita

Bersama makmur sejahtera

Tiada terasa

Tiada terasa

Semakin gila

White Shoes and the Couples Company

Mendengar “Senja Menggila”, saya ingat ibukota. Jakarta. Kota yang penuh harapan. Meskipun sebetulnya harapan itu tidak berasal dari dirinya sendiri, tetapi ditempelkan oleh jutaan manusia dengan cita-cita beragam. Saat libur lebaran selesai dan ribuan pekerja dari udik kembali ke Jakarta, mereka kembali dengan sanak saudara. Apalagi harapannya kalau bukan mendapat pekerjaan yang layak, gaji yang banyak yang membuat kehidupan makmur sejahtera. Sesuai ataupun tidak dengan harapan, manusia-manusia pencari kerja itu berimajinasi mengenai kota. Tak ada yang tahu dengan persis keadaan sebetulnya di kota: adakah lowongan-lowongan kerja halal nan layak yang tersedia, mampukah mereka menghadapi kerasnya kehidupan kota yang penuh persaingan. Kehidupan itu hanya imaji; tidak (atau belum) teraba.

Seabstrak apapun imajinasi, tidak ada hal yang buruk sepenuhnya. Imajinasi dapat menghadirkan realitas. Ya, tentu saja realitas yang diinginkan. Menghadirkan realitas berarti memasukkan hukum sebab-akibat ke dalam alam virtual buatan imajinasi, bersamaan dengan bertumbuhnya kesadaran dan emosi yang menyertainya. Kesadaran dan emosi itu tentu saja hanya dimiliki oleh manusia: kesadaran untuk hidup lebih baik, emosi positif dalam meraih mimpi, dsb. Asumsi ini dapat dipahami dengan melihat kenyataan bahwa apa yang menjadi tujuan dari upaya penghadiran realitas dalam diri manusia tidak pernah merupakan realitas yang konseptual, tetapi figural. Duh, maafkan saya kalau ini sangat posmodern.

Jika manusia menghadapi suatu konsep, sebut saja keberhasilan hidup, kita tidak bisa menghadapi entitas yang berdiri sendiri dan real, sejauh konsep itu belum menjadi konsep imajerial. Tetapi bila kita menghadapi dan mengalami sendiri suatu dunia atau kondisi yang figural, kita adapat mengatakannya sebagai realitas karena sifatnya memang dapat dialami. Maka, dapat dimengerti jika ada seorang teman asal Flores yang sudah tinggal lama di Jakarta pernah bilang, “Selesai kuliah gue nggak mau balik ke kampung. Gue betah di Jakarta dan harus dapat kerja di sini. Di kampung situasinya nggak memungkinkan untuk dapat pekerjaan yang layak.” Dan sebaliknya, seorang teman lain asal Bandung yang sibuk penelitian sehingga harus pulang pergi Jakarta-Bandung pernah bilang, “Rieut di Jakarta mah. Macet, panas, (kendaraan) mepet sedikit teh langsung dibentak.” Dia menunjukkan ketidakbetahannya.

Tidak ada yang pernah berseru menginginkan untuk berhenti berimajinasi. Termasuk imajinasi tentang kota idaman, tentang pekerjaan serta kehidupan yang layak. Imajinasi dapat menjadi realitas jika manusia dapat menang melawan determinasi sosial dengan berlaku kreatif dan mempertimbangkan nilai-nilai. Dengan itu, tak hanya sesuap nasi yang bisa diperoleh, tetapi bahkan sebongkah berlian, kalau kata grup band Wali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s