Koar Sembunyikan Kebusukan


Kalian Tidak Mengerti

Kau hunus mulut besarmu
Menatapku dengan sesumbar
Tidak akan pernah menusuk
Tidak akan buatku terkapar

Setiap kalimat yang kalian muntahkan berantakan
Upaya ratusan jenis bodohi kami yang semakin pintar
Apa yang sebenar-benarnya kalian cari wahai teman ?
Tidak jelas, semu, bercabang tak berakar

Hentikan semuanya buat berhenti
Kalian tidak akan mau mengerti
Teruslah terus bodohi kami
Buat bodohi dirimu sendiri

                                   Gregory’s Raincoat

Saya diingatkan tentang hubungan antara moralitas dan hukum oleh Gregory’s Raincoat (GR). Saya, sebagai warga negara Indonesia yang adalah negara hukum, dengan refleks, langsung teringat pada Indonesia yang sedang dibanjiri dekadensi moral; yang tidak cuma sekali membuat saya tersenyum sinis dan sedih luar biasa. Kau dan aku dalam “Kalian Tidak Mengerti” adalah “Yang Berusaha Membodohi” dan “Yang Berusaha Dibodohi”. Itulah mengapa saya ingat pada Indonesia; pada banyak orang yang  berkoar, bermaksud untuk membodohi masyarakat luas.

Televisi hampir setiap hari menampilkan para petinggi negara berbicara di muka publik. Petinggi negara memang tidak apa-apa bicara di hadapan publik. Tapi yang ini beda. Mereka, yang tertuduh korupsi, saling menuduh, membuka aib orang lain meski sudah terbukti bersalah. Kalau kata majalah mingguan Tempo, ada semangat “tiji-tibeh” di antara para koruptor: mati siji mati kabeh. Duh Indonesia, jangankan kasus-kasus korupsi dengan kerugian besar yang digemborkan media, korupsi kecil-kecilan pun ada. Sebut sajalah kecurangan guru dan murid di Ujian Nasional yang sudah jadi rahasia umum.

Padahal, seperti yang Filsuf Driyarkara tulis, manusia adalah makhluk paradoksal. Mazmur 8 tidak salah jika menyebut manusia sebagai makhluk yang dimahkotai dengan kemuliaan dan semarak. Jadi, saat manusia melakukan korupsi dan segala macam kecurangan untuk mendapat keuntungan bagi dirinya, sebetulnya manusia tahu bahwa itu tercela dan merugikan banyak orang. Tetapi toh manusia tetap saja melakukannya secara berkelanjutan. Korupsi terus dilakukan dengan jumlah yang semakin besar, dan semakin menghancurkan rakyat yang tidak tahu apa-apa. Itu adalah suatu pertentangan moral yang mendasar dalam diri manusia.

Kodrat manusia adalah baik. Dalam diri manusia, ada dorongan ke arah yang baik. Tetapi pun ada dorongan ke arah yang buruk yang bahkan sangat sering terasa lebih kuat. Faktisitas manusia itulah yang chaos.

Nah, jika manusia mengembangkan budi pekerti, dirinya dapat mengalahkan dorongan yang buruk. Dorongan-dorongan baik dan buruk yang saling bertentangan, tidak teratur, dan khaos dapat diatur, diorganisir. Bukan hanya kecenderungan untuk korupsi yang dapat dikalahkan. Kecenderungan untuk jual omong dan saling menuduh di hadapan media.

Sama seperti yang disampaikan GR, saya juga berpikir, rakyat semakin cerdas. Membodohi yang semakin pintar akhirnya hanya kesia-siaan. Liku-liku perjalanan pemerintahan yang digemborkan media sudah mampu membuat rakyat sanggup menentukan hal-hal yang perlu diperhatikan dan diapatiskan saja. Mana yang sungguh terjadi, mana yang pengalihan isu belaka.

Semuanya bermuara pada hukum. Hukum yang eksplisit dan tegas; yang peduli akan hak-hak asasi dan nilai-nilai universal. Kalau hukum sudah ada tapi tidak ditegakkan, koruptor—sebut saja orang-orang seperti Nazaruddin di Indonesia—akan terus berkhotbah; berkoar membela diri; membodohi rakyat, padahal secara tak langsung membodohi dirinya sendiri. Koruptor Indonesia akan dipuji karena usahanya menyembunyikan kebusukan. Moralitas akan semakin anjlok.

Advertisements

One thought on “Koar Sembunyikan Kebusukan

  1. alam semesta memang luas, tapi kita para manusia belum pernah melihat langsung proses penciptaannya, jadi menurutku yang betul untuk dikatakan adalah “sesuatu menciptakan alam semesta”, tidak langsung mengatakan “allah pencipta alam semesta”, atau “yesus pencipta alam semesta”, perkataan-perkataan tentang yesus dan allah dalam kitab masing-masing agama masih ada detail yang kurang untuk menyebut “kata di alquran semua benar”, atau “kata di alkitab semua benar”. Tapi karena juga belum jelas ketidakberadaan tuhan, maka agama masih dapat digunakan untuk mengontrol perilaku. Tapi perlu dikritisi agar mencegah terorisme, dan menemukan kebenaran. Juga perlu dicari kepercayaan mana yang benar akan menyelamatkan sampai akhirat.
    the universe is indeed vast, but we humans have never seen a direct process of creation, so I think it is correct to say is “something created the universe”, not directly say “allah creator of the universe”, or “jesus creator of the universe”, the words-words of jesus and god in the book of each religion there is not enough detail to mention “words in the Quran is all true”, or “word in the Bible is all true”. But because it is also not clear absence of God, then religion can still be used to control behavior. But to be scrutinized in order to prevent terrorism, and achieve for the right. If your argument is correct, your courage for that line of argument with me and show my this comment in your blog to be easily legible. Also need to look for the trust which is it going to save until the hereafter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s