Belanja dan Kesenangan


Belanja terus sampai mati

akhir dari sebuah perjalanan
mendarat di sudut pertokoan
buang kepenatan

awal dari sebuah kepuasan
kadang menghadirkan kebanggaan
raih keangkuhan

tapi tapi
itu hanya kiasan
juga juga suatu pembenaran
atas bujukan setan,
hasrat yang dijebak jaman
kita  belanja terus sampai mati

duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban
duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban

Efek Rumah Kaca

Apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia? Kesenangan. Begitu ujar para hedonis. Jangankan hedonis. Manusia biasa pada umumnya pun begitu. Sejak kecil kita sudah mencari kesenangan-kesenangan tertentu, dan meninggalkan ketidaksenangan. Saat kecil, anak makan banyak es krim karena rasanya enak. Tapi saat sakit, tidak suka minum obat yang rasanya pahit.

Aristippos, murid Sokrates adalah seorang hedonis. Baginya kesenangan bersifat badani belaka. Kesenangan harus dipahami sebagai kesenangan aktual. Bukan kesenangan yang berasal dari masa lampau, maupun masa depan. Kenikmatan itu kini; sekarang. Di sini.

Tapi absurd jadinya jika kita, manusia yang tidak pernah puas, tidak memiliki pengendalian diri. Dengan pengendalian diri, kita tidak mesti meninggalkan kesenangan. Kita hanya perlu menggunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terbawa olehnya.

Tentu saja perlu penjelasan mengapa saya menghubungkan “belanja terus sampai mati” dengan hedonisme. Meski belanja sampai mati adalah metafora, saya ingat Albert Camus yang menyatakan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang memperhitungkan kematian. Dengan itu, kita bisa berpikir tentang hal-hal berguna yang dapat dilakukan: untuk diri sendiri; untuk orang lain. Belanja, bagi saya adalah satu pilihan kecil tanpa nilai yang tidak berpengaruh apa-apa saat saya mati.

Sekali lagi, meski belanja sampai mati hanya metafora, tetapi itu berarti belanja dilakukan tanpa peduli hal lain di sekitar. Belanja terus menerus menjadi tujuan. Belanja terus sampai mati. Tidak ada kepedulian terhadap sesama, atau bahkan diri. Bukankah itu mengandung egoisme etis? Egoisme yang mengatakan bahwa saya tidak mempunyai kewajiban moral membuat sesuatu yang lain daripada yang terbaik bagi diri saya sendiri. Mudahnya, saya duluan, orang lain belakangan. Belanja duluan, hutang dibayar belakangan. Belanja duluan, orang tua bayar sementara banting tulang bekerja.

Berbelanja sebagai suatu kesenangan bagi orang-orang tertentu, bisa saja menjadi satu-satunya hal yang dapat membawa manusia menuju banyak hal-hal semacam kebanggaan; prestise. Belanja berlebihan dianggap benar karena belanja adalah kesenangan. Bagi saya, tak ada yang salah dengan belanja. Hanya saja, belanja sebagai kesenangan bukan satu-satunya hal yang dibenarkan untuk dicari. Terdapat nilai-nilai universal yang dibutuhkan manusia. Manusia memiliki kebutuhan membaktikan hidup demi kebaikan orang lain, atau bahkan dibaktikan, dengan niat murni, serta tanpa pamrih.

Mungkin, ada saja manusia pebelanja yang mengelak akan kesenangan mereka: bahwa sebetulnya mereka adalah sekadar korban kehidupan urban dan dijebak zaman. Tetapi manusia adalah makhluk sempurna nan rasional. Ada yang dapat melawan segala elakan kesenangan itu. Ya seperti yang saya sebut tadi, manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri. Ada pembuktian yang dapat ditunjukkan: motivasi manusia dapat tak selamanya ada pada belanja.

Advertisements

One thought on “Belanja dan Kesenangan

  1. ini yg menjadi musuh saya selama ini, belanja belanja dan belanja..hehehe

    kutipan untuk memerangi konsumerisme…

    “Kau tidak akan menghancurkan gagasan dengan menindasnya, kau hanya bisa menghancurkan mereka dengan mengabaikannya, denga menolak berpikir, menolak berubah” Le Guin, The Dispossessed

    Selamat Berbelanja 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s