Moralitas Tidak Berdiri Sendiri[1]


“Moral itu lebih banyak merupakan produk atau akibat daripada sebab. Karena itu saya heran sekali setiap mendengar pidato atau khotbah tokoh-tokoh Islam yang tekanan pembicaraannya selalu pada moral, moral…. moral. Seolah-olah moral itu merupakan alat penyelesaian masalah-masalah masyarakat. Moral adalah norma atau cita-cita dan bukan alat penyelesaian…

            …Mereka merindukan bagaimana masyarakat yang seperti sekarang ini tahap demi tahao menjadi lebih adil, lebih makmur dan bukan orang-orang yang Cuma bisa menyodorkan mimpi yang indah-indah tentang masyarakat adil makmur, apalagi mereka yang hanya bisa bermimpi tentang moral. Moral bukanlah masalah yang berdiri sendiri…”[2]

 Kalimat-kalimat di atas terdapat dalam salah satu bagian catatan harian Ahmad Wahib: Pergolakan Pemikiran Islam. Kalimat-kalimat itu dirasa tepat untuk mengawali pembahasan Driyarkara, Problematika Moral dalam Buku Ketiga Susila dan Kesusilaan Karya Lengkap Driyarkara. Konsepsi setiap orang mengenai moral memang dapat berbeda. Tetapi moral, sebagai sesuatu yang tidak berdiri sendiri, diakui secara umum. Tulisan Driyarkara, secara eksplisit, menekankan bahwa masalah moral tidaklah berdiri sendiri. Ada hal lain yang melandasi masalah moral. Sebut saja tanggung jawab dan budi pekerti.

Driyarkara membahas secara runut konsepsinya mengenai moral. Driyarkara mulai dengan peristiwa-peristiwa sederhana yang biasa dijumpai dalam hidup sehari-hari masyarakat, yang menggambarkan perbuatan tidak bertanggungjawab. Contoh-contoh yang diangkat bukan masalah-masalah besar, disebutkan diantaranya, ada dosen mempersulit mahasiswa, janda yang tak lagi punya penghasilan selalu terlambat mendapat uang pensiun sehingga harus menjual barang-barang supaya bisa hidup, pegawai rumah sakit terlambat memberi makan kepada pasien, mencuri obat-obatan, mencuri tutup-tutup selokan di jalan, menggunakan uang milik orang lain untuk berjudi, dan sebagainya.

Selain itu Driyarkara juga mengangkat masalah lain, yaitu gagalnya Presiden Soekarno dan presidium waktu itu dalam membentuk Dewan Pertimbangan Agung (DPA), sementara negara sedang menghadapi masalah-masalah penting. Masalah-masalah itu tidak hanya ditemui pada era Driyarkara menulis, tetapi juga sampai saat ini, masalah semacam itu tetap ada. Masalah itu bagi Driyarkara tidak sebagai pertama-tama masalah politik, melainkan masalah moral biasa, yaitu bahwa orang atau pihak-pihak tertentu tidak bisa bicara terbuka dan baik-baik.

Sebagai pokok pembahasan mengenai moral, ada tiga penyebab utama yang membuat permasalahan moral muncul dalam hidup bermasyarakat. Ketiga hal itu adalah kekurangan rasa perikemanusiaan, himpitan ekonomi, dan hanyut dalam perasaan sehingga akal sehat tak lagi berjalan sesuai dengan suara hati. Bagi Driyarkara yang terpenting adalah manusia bertindak sesuai dengan tanggung jawabnya dan harus dipimpin oleh rasio, bukan oleh hawa nafsu. Sudah dapat teraba bahwa bagi Driyarkara, manusia ideal adalah mereka yang mengandalkan rasio dalam bertindak.[3]

Tanggung Jawab dan Budi Pekerti

Sudah dapat ditebak, sebagai solusi atas kasus-kasus yang diakibatkan oleh kurangnya tanggung jawab, Driyarkara menekankan pentingnya menggunakan rasio. Situasi serba sulit bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Rasio adalah hal utama yang membedakan manusia dengan hewan. Kesalahan memang tidak dapat dihindari, tetapi, sejauh manusia berusaha sungguh-sungguh untuk bertanggungjawab, itu bukan masalah. Tanggung jawab itu dilakukan bukan hanya terhadap diri sendiri dan masyarakat, tetapi juga terhadap Tuhan.[4]

Dalam pembahasannya mengenai budi pekerti, Driyarkara juga menekankan rasio manusia. Budi pekerti dapat kita anggap sama artinya dengan karakter. Pribadi yang mengembangkan diri sedemikian rupa sehingga memiliki dan menguasai diri sendiri sebagai kesatuan dan hidup sebagai kesatuan, itulah budi pekerti. Budi pekerti adalah pendirian tetap yang memuat garis-garis tabiat lain pada manusia. Tetapi, ada kalanya budi pekerti disamakan dengan moral. Penggunaan keduanya seringkali membingungkan.

Manusia adalah makhluk paradoksal. Manusia, seperti yang banyak terjadi di Indonesia, melakukan korupsi untuk mendapat keuntungan bagi dirinya. Itu adalah suatu pertentangan mendasar dalam diri manusia yang ada di wilayah moral. Manusia tahu bahwa korupsi adalah perbuatan tercela dan merugikan banyak orang, tetapi tetap saja korupsi dilakukan secara berkelanjutan. Dalam diri manusia, ada dorongan ke arah yang baik, tetapi ada pula dorongan ke arah yang buruk yang bahkan sangat sering terasa lebih kuat. Faktisitas manusia seperti itulah yang disebut khaos, tidak teratur. Dengan memiliki budi pekerti, manusia dapat mengalahkan dorongan yang buruk. Dorongan-dorongan baik dan buruk yang saling bertentangan, tidak teratur, dan khaos dapat diatur, diorganisir.[5]

Manusia itu sekaligus jasmani-rohani. Sebagai jasmani dia tidak berkuasa atas dirinya. Manusia terikat hukum-hukum material yang ada pada tubuhnya. Tetapi sebagai rohani, manusia berkuasa atas dirinya. Dia bisa mengambil jarak terhadap tubuhnya dan tidak sepenuhnya dikuasai oleh insting. Memiliki budi pekerti berarti semakin mengembangkan kekuasaan dan mengurangi ketidakkuasaan itu. Bukan berarti bahwa kekuatan-kekuatan yang berhubungan dengan kejasmanian itu buruk dan harus dimatikan, meskipun ini perlu juga, melainkan mengaturnya, memberinya harmoni, menyelaraskan. Itulah inti pendidikan budi pekerti: mengatur khaos, ketidakteraturan dorongan-dorongan,[6] menjadi kosmos, keharmonisan, keteraturan.

Driyarkara menggunakan buku Emmanuel Mounier, Traité du caractère. Ia membedakan caractère donnée (tabiat bawaan) dan caractère voulu (tabiat yang dimaui). Driyarkara menempatkan budi pekerti di sela keduanya. Budi pekerti jelas bukan bawaan. Dia tidak begitu saja ada, lalu orang bisa dengan tanpa susah-susah menerapkannya. Dalam arti ini budi pekerti adalah caractère voulu; harus secara sadar diusahakan, dididik. Tetapi pada saat yang sama, budi pekerti juga memuat unsur caractère donnée: tidak ada yang mengajarkan. Meski begitu, itulah tabiat seseorang; manusia tidak meminta, tetapi itulah yang “terberi”. Tetapi ini juga tidak berarti bahwa tabiat manusia sepenuhnya ditentukan oleh caractère donnée. Tabiat manusia juga ditentukan oleh campur tangan sadar si manusia itu sendiri.[7]

Di sinilah dapat kita amati pandangan Driyarkara tentang manusia: dia selalu menjadi, menentukan diri sendiri, tidak pernah selesai. Caractère donnée pun dapat diubah. Caranya, mengembangkan hal yang baik, menghilangkan atau paling tidak mengurangi yang jelek sehingga tinggallah dasar yang positif di mana kejelekan itu timbul.

Pendidikan Budi Pekerti

            Sebagai seorang yang menggeluti dunia pendidikan, Driyarkara menyimpulkan pendidikan budi pekerti yang diperlukan oleh manusia. Intinya, pada diri manusia, yang harus dididik adalah bakat-bakat tabiat baik, misalnya cinta pada sesama manusia, rendah hati, cinta tanah air, dan lain-lain. Bakat-bakat tersebut pada mulanya mempunyai ketidaktentuan karena manusia belum sadar akan semuanya itu. Manusia belum mengaktualisasikannya karena masih terdesak oleh dorongan yang lain.

            Driyarkara menyebut bahwa cacat sebagai cacat adalah negatif, jadi tidak berdiri sendiri, melainkan ada sebagai kekurangan, atau apa yang disebutnya sebagai privatie. Contohnya, kelumpuhan atau kebutaan tidak berdiri sendiri sebagai barang positif, yang ada ialah kaki yang lumpuh atau yang tidak bisa bekerja. Hal yang sama berlaku untuk cacat dalam bakat tabiat. Cinta hormat, misalnya, berdasarkan cinta pada kebesaran. Cinta itu tidak bisa sepenuhnya disebut salah. Cinta macam itu bisa menjadi motor penggerak dalam pekerjaan.

            Untuk membangun tabiat baik, manusia harus mempergunakan budinya. Budi harus disadarkan dengan diisi oleh nilai-nilai. Manusia harus menjadikan hidupnya sebagai Wertengestaltung atau penjelmaan nilai-nilai. Pelatihan nilai-nilai dilatih dengan cara praktis dan dalam waktu yang lama. [8]

Pandangan Agama Katolik tentang Moral

Pada bagian ini kita akan melihat Driyarkara sebagai rohaniwan Katolik yang berbicara tentang moral dalam agama Katolik di hadapan orang-orang muda. Driyarkara mulai dengan definisi agama menurut pandangan Katolik. Agama dalam pandangan Katolik bukan sekadar cara pemujaan Tuhan dan pengabdian kepada-Nya; juga bukan hanya perkara penyempurnaan diri dengan mengalahkan nafsu-nafsu; bukan pula sekadar cinta kepada Tuhan, cinta ciptaan kepada Penciptanya. Agama menurut keyakinan Katolik adalah realitas di dalam jiwa, di mana di dalamnya terdapat cinta Putra kepada Bapa.[9]

Pokok cinta Putra-Bapa itu, secara umum adalah makna Sakramen Baptis dan inkarnasi. Menjadi putra Tuhan memang merupakan suatu realitas yang sama sekali baru bagi manusia. Ini berarti manusia diangkat, dijunjung ke Kehidupan yang luhur, masuk ke lingkungan-Nya. Maka jelas ini melulu anugerah dari Tuhan, yang terutama nyata dalam sakramen baptis dan inkarnasi, bukan prestasi manusia.[10] Ini titik pijak yang sangat penting. Titik pijak ini membuat pembicaraan tentang moral selanjutnya bukan melulu perkara manusia saja, melainkan selalu berkaitan dengan aspek iman. Moral pada hakikatnya adalah konsekuensi, “perluasan” cinta Putra kepada Bapa, Kehidupan yang luhur dan suci itu. Moral secara hakiki adalah konsekuensi iman.

Jika kehidupan luhur itu melulu anugerah, selesaikah masalah? Ujar Driyarkara, tidak. Dalam diri manusia masih ada kecenderungan dosa, kedurhakaan. Ini berarti manusia tetap harus berjuang melaksanakan Kehidupan itu; jadi bagaimana kehidupan sehari-hari yang biasa itu menjadi realisasi Kehidupan yang suci. Driyarkara membuat klasifikasi tentang hubungan-hubungan yang mungkin bagi manusia, dalam mana pelaksanaan dan pelanggaran moral itu mungkin: hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan materia.[11]

Hubungan manusia dengan Tuhan

Hidup manusia belum serta merta merupakan hubungan dengan Tuhan. Artinya, jika si manusia tidak secara sadar dan nyata-nyata mengusahakannya, dia juga belum mengakui hubungannya dengan Tuhan. Driyarkara menyelesaikan problem itu dengan berdoa, sembahyang. Jadi menurut hubungan ini, hal sederhana seperti melalaikan sembahyang adalah pelanggaran moral. Ini mungkin terdengar aneh. Tetapi tampaknya memang demikian halnya, terutama jika kita memahaminya berdasarkan titik pijak yang dijelaskan di atas.

Hubungan dengan sesama

Di sini pembahasan tetap berkutat dalam perwujudan Kehidupan suci, ke-Putra-an dalam hidup sehari-hari, termasuk dalam hubungan dengan sesama. Hidup bersama orang lain tidak lain adalah untuk mencapai, memelihara, dan menyempurnakan Kehidupan suci.[12]

Driyarkara mengawali pembahasan dengan daya-daya seksual. Kekuatan itu adalah pemberian Tuhan dalam kodrat manusia yang dimaksudkan untuk kontinuasi bangsa manusia di dunia. Kekuatan itu hanya boleh digunakan menurut kehendak Tuhan, artinya dalam hubungan yang sah, yang disebut perkawinan. Itulah pelaksanaan moral.

Maka pelanggaran moral itupun menjadi sangat jelas, yaitu jika kekuatan itu digunakan di luar perkawinan, termasuk juga segala macam perbuatan yang secara langsung maupun tidak membangkitkan kekuatan itu. Jadi percakapan cabul, cara bergaul yang cabul, novel, gambar-gambar, film yang bersuasana keruh, itu juga termasuk pelanggaran moral.[13] Membahas mengenai cara bergaul, harus dibedakan masing-masing dari cara-cara itu. Ada perbuatan yang menurut “struktur”nya, dengan sendirinya dan dengan langsung membangkitkan hawa nafsu. Ada pula yang hanya tidak dengan langsung dan tidak dengan sendirinya (per se) menimbulkan akibat yang demikian.

Hubungan dengan materi

Driyarkara tidak berpindah titik tolak. Titik tolak tetap ada pada penyelenggaraan Kehidupan yang suci. Dunia material adalah juga pemberian Tuhan untuk menyelenggarakan Kehidupan yang suci itu. Maka pelanggaran moral dalam hal ini adalah segala bentuk penggunaan barang material yang tidak mendukung penyelenggaraan Kehidupan yang suci itu.[14]

Dalam hal ini Driyarkara kembali meruncingkan pembahasannya pada tema demoralisasi. Begitu misalnya hal-hal tersebut di atas: novel, gambar-gambar, film, lagu-lagu yang teksnya tidak patut, dan sebagainya itu termasuk pelanggaran moral. Yang melanggar bukan hanya yang membuat itu semua, melainkan juga yang menerima hasil buatan mereka itu. Secara lebih konkret lagi Driyarkara membahas tentang pakaian, terutama mode-mode pakaian dari budaya Eropa. Berasal dari Eropa tidak lantas berarti bermoral tinggi. Yang ditekankan oleh Driyarkara di sini adalah pembangunan suasana; jadi soal bagaimana mengusahakan keadaan sedemikian sehingga moral sebisa mungkin terjamin pelaksanaannya.[15]

Filsafat Moral

Driyarkara menguraikan hal penting lainnya. Ia berusaha merumuskan mengenai filsafat moral. Tidak semua orang wajib memiliki pengetahuan yang serius dan sistematis tentang moral, tetapi semua orang harus bermoral,. Pengertian yang lebih sempurna dapat (tidak niscaya, tetapi dapat) menjamin penyempurnaan pelaksanaan tindakan.[16]

Filsafat moral memandang tindakan atau perbuatan manusia. Yang dimaksud dengan perbuatan manusia ialah aksi yang dilakukan dengan pengertian dan kemerdekaan. Itu sebabnya perbuatan anak kecil yang tidak sesuai akan dicap sebagai “nakal”. Anak-anak tidak melakukan pelanggaran moral karena perbuatan mereka tidak masuk ke dalam lingkungan moral yang dilandaskan pada pengertian dan kemerdekaan.[17]

Driyarkara mengartikan etika atau filsafat moral atau kesusilaan sebagai cabang filsafat yang memandang perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik dan buruk[18]. Moral itu menyangkut jiwa dan pribadi manusia sampai yang sedalam-dalamnya. Etika ingin menguraikan “kebagaimanaan” perbuatan manusia, jika hendak sesuai dengan tuntutan dari “keapaan” manusia.[19] Manusia harus berbuat sesuai dengan kodratnya yang terdalam, karena itulah etika sebetulnya sangat berkaitan erat dengan filsafat manusia.

Jelaslah bahwa etika tidak bermaksud memberi resep-resep moral[20]. Etika tidak berhak begitu saja menganjurkan orang berbuat hal-hal tertentu, seperti biasa kita jumpai dalam ajaran-ajaran atau norma-norma tertentu. Etika lebih ingin memeriksa aspek mengapa-nya; mengapa sesuatu itu boleh, dan mengapa yang lainnya tidak boleh.

Etika punya sifat normatif, tetapi bukan normatif dalam arti bahwa orang harus melakukan sesuatu hal yang partikular, melainkan manusia harus bertindak sesuai dengan tuntutan kodratnya. Tuntutan itu bukan berdasar pada undang-undang atau bahkan perintah Tuhan (Wahyu), melainkan berdasarkan tuntutan kodrat terdalam manusia. Kodrat manusia tertentu menuntutnya untuk bertindak secara tertentu pula. Itulah sifat normatif etika.[21]

Sifat normatif itu tampak dalam apa yang disebut dengan gejala suara hati. Driyarkara mencoba mengangkat gejala suara hati ini dalam dua contoh. Yang pertama melalui cerita tentang seorang gadis yang punya hubungan rahasia dengan seorang suami, dan yang kedua cerita yang beliau ambil dari Serat Centhini, yaitu kisah Mas Cabolang. Dua contoh itu pada intinya mau mengungkapkan rasa bersalah yang sedemikian hebat setelah manusia menyadari dirinya melakukan perbuatan tertentu yang buruk secara moral.[22]

Dengan penjabarannya, Driyarkara ingin mengungkapkan bahwa perbuatan melanggar moral bukan suatu kesalahan yang biasa saja, melainkan menyangkut jiwa dan pribadi manusia sampai sedalam-dalamnya. Moral menyangkut kodrat manusia yang terdalam. Ketika kodrat itu dilawan, kodrat itu pula akan memunculkan suatu rasa bersalah; dan karena menyangkut kodrat manusia yang terdalam, rasa bersalah itu juga sedemikian dalam dan hebat.[23]

Dalam rangka menyelami rasa bersalah itu, kita harus melihat bahwa manusia menyadari, dalam permenungan dirinya dan cara beradanya, akan selalu melihat diri sebagai terlibat dengan manusia. Kebenaran ini dihayati oleh setiap manusia. Dunia kita itu “berhadapan” dengan kita. Kalau saya boleh menyimpulkan: man is a part of nature, but man is apart from nature. Kita mengalami dunia sebagai “bukan-aku”.

Tapi pun hubungan manusia dan dunia disebut Driyarkara tidak sekadar seperti dua gerbong yang diikat dengan rantai. Dunia dengan manusia adalah satu kesatuan yang jika diumpamakan bagaikan piala dari lampu dan minyaknya. Dalam perumpamaan itu dapat kita katakan bahwa minyak menemukan kesempurnaan dalam piala.

Kesatuan manusia dengan dunia itu pada konkretnya terwujud dalam badan kita. Badan adalah titik di mana manusia membual dari dunia. Dunia itu selalu menjadi, selalu bergerak ke atas. Titik puncaknya adalah manusia. Badan, adalah titik di mana dunia mulai menjadi dunia manusia.[24] Kita tidak dianjurkan untuk hanya memandang yang secara fisik kita sentuh “betul-betul”. Persentuhan manusia tidak dibatasi dengan persentuhan fisik saja. Sebetulnya, seluruh dunia, bahkan seluruh alam semesta selalu kita “sentuh”.[25] Kesimpulannya, dunia—berdasarkan kesatuannya dengan manusia—kita tangkap sebagai objek pengertian dan kita jadikan objek perbuatan kita terus-menerus.

Dalam pengubahan yang dilakukan oleh manusia, kita dapat melihat empat hal penting. Pertama, dengan mengubah, kita melihat bahwa barang-barang bermanfaat dan digunakan. Kedua, dengan aktivitas mengubah itu, manusia menjelmakan dirinya dalam bentuk-bentuk, yang dijiwai oleh pikirannya. Ketiga, jiwa manusia yang halus tentunya akan menciptakan bentuk-bentuk yang indah. Keempat, aktivitas manusia dalam mengolah alam dijiwai dan dipimpin oleh, yang sedari awal dibahas Driyarkara, yaitu rasio. Aktivitas yang demikian itu yang disebut dengan teknik. Di dalam teknik terdapat unsur-unsur yang berupa penemuan, konsepsi, dan pelaksanaan.[26]

Kasus-Kasus

Dalam perkembangannya, hal-hal yang ditulis Driyarkara mengenai moral, masih menyisakan relevensi yang kuat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Saya merasa perlu membahas secara lebih lanjut mengenai daya-daya seksual yang digunakan di luar perkawinan. Termasuk juga segala macam perbuatan yang secara langsung maupun tidak membangkitkan kekuatan seperti percakapan cabul, cara bergaul yang cabul, novel, gambar-gambar, film yang bersuasana keruh, yang disebutkan Driyarkara sebagai pelanggaran moral.

Pada tahun 2009, pernah dilakukan riset oleh salah satu lembaga survey di Indonesia terhadap 3.500 siswa SMP dan SMA di dua belas kota besar di Indonesia. Dari hasil riset tersebut, diketahui bahwa sebanyak 92,1 persen siswa SMP dan SMA yang menjadi responden pernah melakukan kissing. Dari 92,1 persen tersebut, hampir sebagian besar pernah melakukan zinah dan 22,3 persen pernah melakukan aborsi.[27]

Persentase yang besar itu jelaslah bukan pencapaian yang membanggakan. Dalam masalah moral, Indonesia masih memiliki beban yang luar biasa besar untuk memperbaikinya. Penyesalan yang diperlihatkan Driyarkara dalam kisah Mas Cabolang seakan-akan berbanding terbalik dengan situasi moral di Indonesia kini. Yang saya lihat dalam media massa kini, rasa bersalah sedemikian hebat karena melakukan korupsi tidak ada lagi. Semakin banyak koruptor yang tampil bersanding dengan pengacaranya, berusaha membela diri dan menunjuk orang lain yang juga melakukan korupsi.

Di sini saya harus menyatakan kembali bahwa penjabaran Driyarkara mengenai moral tidak berdiri sendiri. Terutama tentang alasan terjadinya masalah-masalah moral tersebut. Pendidikan menjadi salah satu alasan itu. Dalam karyanya yang lain, yang juga pernah saya bahas, Driyarkara pernah menyebutkan bahwa pendidikan adalah humanisasi. Idealnya, humanisasi dapat mengantar manusia menuju tahap dewasa susila, menyadari sepenuhnya mengenai sopan santun, moral, dan hal-hal keagamaan. Melalui humanisasi tersebut, manusia mencapai kecerdasan intelektual, spiritual, sekaligus sosial.

Semasa diadakan untuk pertama kalinya, Ujian Nasional di Indonesia dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan dalam pendidikan. Dampaknya, institusi-institusi pendidikan seperti sekolah dan bimbingan belajar pun berlomba menawarkan berbagai alternatif cara mengajar yang menjamin kelulusan pada Ujian Nasional. Tetapi di samping kemajuan itu, terdapat kemunduran yang dirasa cukup mengagetkan dan menjadi pergunjingan dalam Ujian Nasional, termasuk ujian yang baru dilaksanakan beberapa waktu yang lalu.

Dalam usaha memperoleh nilai baik, kedewasaan moral yang merupakan tujuan humanisasi malah diabaikan pendidik dengan cara membeli soal dan memberi contekan kepada anak didik. Hal yang jelas-jelas merupakan pelanggaran itu pun seringkali berbalik jika dipersalahkan. Orang tua murid yang melaporkan kecurangan, malah dituduh “sok suci” dan dijauhi. Misalnya, pada tahun 2011, Ibu Siami datang ke pihak berwenang. Ia melaporkan pemaksaan yang dilakukan kepada anaknya di SDN 2 Gadel. Anaknya dipaksa memberikan contekan pada teman-teman sekelasnya. Setelah pelaporan, Ibu Siami malah diserang warga sekolah dan kampungnya.[28]

Dalam pendidikan humanis, Driyarkara menyatakan bahwa pendidikan sudah semestinya diarahkan pada kodrat rohani manusia. Bagi beliau, pembentukkan manusia yang berkeahlian saja tidak cukup. Kebudayaan yang tinggi tidak mungkin tetap berkembang dan dapat dipertahankan tanpa pendidikan pribadi dan perwatakannya. Sayangnya, dengan berbagai kecurangan Ujian Nasional di Indonesia,[29] pendidikan pribadi dan perwatakan tidak diberi perhatian yang cukup, bahkan ditiadakan.

Catatan Kritis

Contoh-contoh kasus pelanggaran moral yang telah disebutkan di atas menyerukan hal yang diangkat Driyarkara dalam pembahasannya, yaitu tanggungjawab. Menulis relevansi pemikiran Driyarkara dengan masalah moral di Indonesia pada era ini bukan saya tujukan untuk melihat betapa porak porandanya kehidupan bermasyarakat kita. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa Driyarkara, begitu sadar dan peka mengenai masalah terdalam manusia dan bangsa.

Tanggung jawab harus ada di setiap manusia, termasuk pemimpin atau orang-orang besar di Indonesia. Tanggung jawab itu tidak bisa dicapai hanya dengan niat, tapi harus dilakukan sejak muda melalui pendidikan dalam keluarga maupun institusi formal. Tentu saja juga dengan menghindari hal-hal licik seperti bekerjasama di Ujian Nasional dan hal yang seolah-olah kecil lainnya. Jika mengenang kembali banyaknya kasus pelanggaran moral, saya setuju pada tokoh Ahmad Wahib yang menyebutkan bahwa jika manusia yang seharusnya memiliki watak penuh tanggung jawab, ternyata malah menjadi pelempar tanggung jawab, ada suatu bahaya, masyarakat Indonesia akan menjadi society of responsibility shifters.[30]

Masalah moral adalah masalah manusia yang mendalam, dan perlu dibicarakan secara jauh lebih serius. Moral, etika, dan kesusilaan bukan hanya soal perilaku luar badan, melainkan menyangkut jiwa dan pribadi manusia sampai sedalam-dalamnya, dan bahwa itulah yang pada akhirnya menentukan apa artinya menjadi manusia.

Pendidikan budi pekerti yang dicetuskan Driyarkara selalu mengingatkan saya pada humanisasi dan hominisasi yang sempat dibahas pada bagian Problematika Pendidikan. Saya berpikir bahwa pendidikan budi pekerti dapat membawa pendidikan Indonesia kepada pendidikan yang bertujuan mencapai kecerdasan intelektual, spiritual, sekaligus sosial. Adapun pandangan Katolik untuk menyelenggarakan Kehidupan yang luhur, dapat digeneralisasi, diperluas menjadi tujuan bersama yang Driyarkara bilang dapat dicapai dengan pengakuan terhadap keadilan yang luhur.[31]

Maka, kembali mengingat yang disebutkan oleh Ahmad Wahib, “Moral bukanlah masalah yang berdiri sendiri…” saya disadarkan betul oleh Driyarkara, bahwa untuk menggapai kebaikan moral, hal-hal lain yang menopang moral tersebut harus mulai dilakukan. Dengan hidup bertanggung jawab, kebaikan moral akan diraih. Bangsa kita akan tenang.

Kepustakaan

N. Driyarkara. “Problematika Moral” dalam Sudiarja, dkk (editor). 2006. Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Jakarta: Gramedia.

Ahmad Wahib. 1988. Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Jakarta: LP3ES.

“Kecurangan Ujian Nasional Sudah Gawat” dalam Kompas.com tanggal 8 Juni 2011.

“Dibeberkan, Parahnya Kecurangan UN SMA!” dalam Kompas.com tanggal 25 April 2011.

“Kronologi “Nyontek” Massal di SD Pesanggrahan” dalam Kompas.com tanggal 15 Juni 2011.

“UN Gagal Tingkatkan Kualitas Pendidikan” dalam Republika Online tanggal 13 Desember 2011.

 “Kecurangan dalam UN” dalam Banjarmasinpost.co.id tanggal 20 April 2011.

“Pelapor Kecurangan UN akan Dilindungi” dalam metrotvnews.com tanggal 23 April 2012.

“Tifatul: Keteguhan Iman dapat Memblokir Situs Porno” dalam metrotvnews.com tanggal 28 Maret 2012.


[1] Ditulis sebagai ringkasan dan tanggapan atas bagian Problematika Moral dalam Karya Lengkap Driyarkara, dan dikumpulkan sebagai makalah Ujian Akhir Semester.

[2] Ahmad Wahib. Pergolakan Pemikiran, 211.

[4] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 483-487.

[5] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 489-490.

[6] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 490-491.

[7] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 491-493.

[8] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 493-494.

[9] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 495-496.

[10] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 497.

[11] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 498-499.

[12] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 500.

[13] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 501-502.

[14] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 502.

[15] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 503-504.

[16] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 505-506.

[17] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 508.

[18] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 508.

[19] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 513.

[20] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 512.

[21] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 513.

[22] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 516-519.

[23] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 519.

[24] Driyarkara pada tulisan-tulisannya yang lain menyebutnya sebagai bagian dari Humanisasi. Dengan persentuhan dengan manusia, maka tanah menjadi tanah pertanian, tumbuh-tumbuhan menjadi bahan makanan, kayu menjadi alat, dan sebagainya.

[25] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 522.

[26] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 524-525.

[27] “Tifatul: Keteguhan Iman dapat Memblokir Situs Porno” dalam metrotvnews.com tanggal 28 Maret 2012.

[28] “Pelapor Kecurangan UN akan Dilindungi” dalam metrotvnews.com tanggal 23 April 2012.

[29] Info didapatkan dari berbagai artikel di media massa online, judul artikel terdapat di daftar pustaka.

[30] Ahmad Wahib. Pergolakan Pemikiran, 226-227

[31] Sudiarja, dkk (ed.), Driyarkara, 500.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s