In Memoriam Gie: Refleksi Pecinta Alam



…Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.

–Soe Hok Gie—

Soe Hok Gie tidak main-main dalam kalimat itu. Meskipun kalimat di atas ditulis saat beliau berstatus mahasiswa, tetapi tentu, bukan hanya para mahasiswa yang ditujunya. Tulisan itu menginterpretasikan semangat keseluruhan pemuda yang ideal: mencintai negeri, memperhatikan dan mendekatkan diri pada tiap-tiap golongan masyarakat, sehat, dan yang terakhir, naik gunung. Jika kita letakkan kalimat-kalimat tersebut pada konteks pemuda kekinian, maka, yang mencolok disoroti adalah pergerakan orang-orang yang mengaku pecinta alam, baik yang independen, maupun yang berada di dalam komunitasnya.

Mencintai, adalah menyediakan dan memasukkan diri terhadap subjek lain. Menyediakan dan memasukkan diri, dalam konteks membuat alam menjadi bagian dari dirinya tidak bisa dilakukan hanya dengan aksi fisik. Dalam hal ini, mencintai alam idealnya tidak hanya berupa naik turun gunung, berfoto di kawah-kawah di puncak-puncak gunung, atau mengibarkan bendera komunitas dan bendera merah putih. Yang terakhir itu memang simbol simbol yang baik, simbol kecintaan terhadap negara. Tetapi jika hanya kegiatan itu yang dilakukan berulang-ulang, bukankah akhirnya gelar pecinta alam hanya sebatas idealisme tanpa bukti nyata? Sementara itu, permasalahan ekologi yang membabi buta tidak diperbincangkan, dan berusaha diselesaikan sedikit demi sedikit. Ada pula kebijakan yang menghasilkan keputusan-keputusan mengenai pembangunan kota yang semakin menggila dan mengutamakan kepentingan pihak-pihak tertentu saja, bahkan pun globalisasi. Masalah-masalah itu masalah negara, juga masalah ekologi. Tentu saja termasuk ke dalam otoritas mereka yang mengaku mencintai alam.

Di beberapa kalangan, menjadi pecinta alam adalah identitas penting. Ada kebanggaan saat menjadi bagian dari suatu organisasi pecinta alam. Lambang-lambang organisasi bahkan kadang didewakan. Tentu saja tidak dilarang jika kegiatan mencintai alam itu dilakukan sebagai semacam adolesensi, yaitu sebuah proses saat pemuda hanya sebatas mencoba-coba untuk mematangkan identitasnya, membuat dirinya ada dalam hingar bingar perbuatan kolektif masyarakat, untuk akhirnya menemukan sebuah pilihan yang tepat. Tetapi pun totalitas dalam mencintai alam itu harus  terkandung di dalamnya. Kesadaran mengenai keselamatan alam merupakan salah satunya. Pemuda, sebagai unsur masyarakat yang masih akan menikmati hidup di bumi, sebaiknya sering melakukan refleksi ekologis mengenai keberlangsungan alam yang resik nan ideal.

Refleksi dilakukan untuk menghapus corengan huruf-huruf yang tersusun dari cat semprot bebatuan di gunung-gunung, membersihkan sampah-sampah yang terpendam separuh di pasir pantai-pantai, atau bahkan melindungi alam negeri dari tangan kalangan tidak bertanggung jawab.

Satu hal yang penting untuk disadari adalah bahwa masalah-masalah ekologis macam itu bukan hanya kewajiban masyarakat sipil. Meski mereka belum sepenuhnya sadar akan betapa penting dan tergantungnya mereka pada alam, tetapi juga masalah ekologi adalah masalah sistem negara ini. Kalau pemerintah memiliki kemampuan dan keinginan kuat untuk membuat alam selalu bersih, siapa yang tidak malu untuk merusak alam?

Di tengah gempuran berita dari media massa yang menjadikan bad news menjadi good news, refleksi kaum pemuda sangat dibutuhkan. Berawal dari refleksi ekologis, pada akhirnya kita tidak akan melihat kasus-kasus korupsi sebagai hal yang tidak ada  hubungannya sama sekali dengan kerusakan alam. Tinggal pemuda sebagai kaum terpelajar—mengingat Indonesia mencanangkan pendidikan formal wajib sembilan tahun—maka selanjutnya akan terdapat dialog akan sebab musabab, pemecahan dan pada akhirnya, melakukan aksi membangun.

Pemuda harus menunjukkan diri sebagai kaum inteligensia. Pemuda tidak berhak untuk mengingkari eksistensinya sendiri; mengingkari “Ada”nya sebagai pemuda, sebagai manusia. Seperti pula yang ditulis Gie, pemuda adalah kaum intelegensia yang dipanggil oleh kemanusiaan dan menuntut tugas yang memang harus dikerjakan oleh dirinya sendiri. Tentu, mereka yang mengaku pecinta alam, diharapkan memiliki spirit kepemudaan itu.

Pemuda yang baik melaksanakan tugasnya dengan baik, yang terangkum dalam satu kalimat: a part of nature, but apart from nature. Pemuda sebagai manusia memang merupakan bagian dari alam, tetapi juga harus membuat jarak dengan alam agar dapat mengamati, mengangkat dirinya sendiri dari determinasi alam, lalu menghargai alam dengan perbuatan yang secara konkrit, membantu. Pemuda memenuhi alam dengan penuh kesadaran dan kasih.

Refleksi, yang berdasarkan penuh pada kesadaran akan identitas individu-individu yang mengaku pecinta alam, merupakan unsur yang mampu menyuburkan eksistensi pribadi. Dalam hal ini, identitas yang dimaksud adalah identitas yang sesungguhnya: dengan beraktivitas di alam, beberapa manusia menemukan pribadinya; menjadi seseorang. Menjadi seseorang berarti juga berarti bagi orang lain dan masyarakat. Terdapat pengakuan sebagai seorang pribadi yang memiliki peran yang jelas, diakui, serta diakui oleh orang lain dan masyarakat.

Menghalau koruptor, melawan ketidakadilan, serta ketidakadilan di negeri ini harus dilakukan demi semesta dan isinya yang berjalan dengan baik. Demonstrasi dan aksi-aksi yang marak di jalanan tidak dapat dibilang salah, karena jika dengan refleksi, semuanya akan berjalan baik dan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Tak sulit menyadari bahwa semesta ada di tangan manusia, pemuda, para pecinta alam, bukan di tangan kotor orang-orang yang mengorbankan alam demi makna hidupnya yang adalah uang dan kuasa.

Jika semesta adalah komposisi yang terjalin dan berkesinambungan, kerusakan tak akan dapat hanya terdapat di satu elemen saja. Pemuda harus berani dengan tidak menjual kegagahan semata; sebagai manusia, sebagai pemuda, sebagai pecinta alam. Bukankah lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan? Kalau terdapat kemunafikan dalam sistem, apa mau dikata?


Aura A. AsmaradanaMahasiswa semester II Jurusan Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Anggota JELADRI (Jelajah Alam STF Driyarkara).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s