Sempurna (1)


Ini sudah hampir jam tiga pagi. Aku sudah mengantuk. Tapi kantuk tak akan mengalahkanku di hari yang hampir pagi ini. Aku harus melanjutkan pekerjaanku sampai aku mendapatkan perhatian perempuan pujaanku yang baru; sampai aku yang balik dipuja olehnya.

Pekerjaanku sebetulnya agak licik. Dan gawatnya, aku semakin nyaman mengerjakan hal ini. Sebelumnya, percayalah bahwa ini bukan pekerjaan aneh.  Banyak orang di bagian-bagian dunia tertentu melakukan hal yang aku lakukan. Menulis. Ya, hanya menulis.

Saat seorang wanita menarik perhatianku secara fisik, aku akan mulai untuk mendekatinya. Dengan berbincang sebentar, aku sudah dapat mengetahui apa yang dia sukai dan apa yang acap hadir dalam diskusi batinnya. Aku selalu suka perempuan cerdas, yang tidak hanya sekadar memperhatikan segala sesuatu dalam hidupnya. Aku selalu suka perempuan yang tidak bisa tidak harus memikirkan apa yang menjadi makna yang ditangkap inderanya.

Dalam tulisanku, aku menulis seadanya. Susunan kalimat tak usah terlalu sempurna. Aku bercerita mengenai hal sederhana yang dibahas secara mendalam. Aku mencoba membahas esensi dari hal-hal kecil. Biasanya, dengan lancar, aku membahasakannya dengan sederhana. Sangat sederhana, seperti anak kecil sedang bercerita. Jadinya menakjubkan: anak kecil dengan tulisan dengan pemikiran filosofis.

Kadang, beberapa kata kurusak tatanan hurufnya. Mabuk jadi mabyk. Semena-mena jadi ssemena-mna. Filsafat jadi filsafay. Teater jadi twater. Tapi tentu saja aku harus selalu ingat. Huruf yang dengan sengaja kutukar harus benar-benar terletak bersebelahan di keyboard computer. Agar kesalahannya lebih terlihat meyakinkan.

Perempuan-perempuan cantik dan cerdas yang kuincar hampir semuanya suka membaca. Apalagi membaca tulisanku semasa aku “kecil”. Ujar mereka, aku cerdas. Memang. Buktinya aku cukup lihai mendekati mereka; membuat mereka bersimpati padaku; membuat mereka bangga padaku. Di hadapan mereka aku tak banyak bicara karena bukan di situ kelebihanku. Dibandingkan dengan berbicara di hadapan umum, aku lebih suka menulis untuk perempuan-perempuanku.

Pada pertemuan-pertemuan awal, kepada mereka, aku sering berkata,

“Tolong dibaca ya… Itu tulisan zaman dulu. Sudah lama sekali, waktu aku SMP. Tapi ya.. Kamu baca aja. Terus komentari.” Seusai membaca, mereka biasanya menanggapi, “Wow, bagus sekali. Ini betul-betul kamu tulis di usia segitu? Cerdas!” Wajah mereka senyum lebar. Aku hanya tertawa kecil, menghindari tatapan mereka yang senantiasa melekat padaku.

Lalu, lahirlah aku di mata mereka: cerdas dari orok dan berpikiran filosofis sejak muda. Sempurna.

[bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s