Tidak Melulu Sex


Hubungan kita memang tidak melulu tentang sex.

Tapi, manusia macam apa aku jika tidak mengerti saat kamu mulai menggagas kecupan-kecupan nakal dengan mata menginginkanku? Mungkin ada yang menyebutnya perbuatan keliru. Tapi waktu itu, bagi kita, segalanya beranjak seru. Bukan begitu?

Hubungan kita tidak melulu tentang sex.

Hubungan itu banyak sela. Kita bermain dengan banyak kata dan logika. Berdiskusi telanjang di atas ranjang berdua. Menjadikan yang bukan apa-apa jadi banyak makna. Seksi, pikirku sederhana.

Hubungan kita memang tidak melulu tentang sex.

Kadang memang sampai beradu desah. Membagi kulit yang sama-sama basah. Seprai selalu terlepas. Melilitmu, menjadi semacam baju zirah. Wajahmu memerah. Menyerah? Padahal seringkali aku yang kau jadikan sapi perah!

Hubungan kita tidak melulu tentang sex.

Kita berdua nyaman berakting sebagai manusia cerdas. Saling bercanda menghina paras, lalu tertawa keras. Saat mendengar sesuatu di teras, kita menoleh selaras. Beberapa kali ada yang menguping di depan rumah, mencoba menangkap keintiman yang dilepas.

Betul, kan? Hubungan kita memang tidak melulu tentang sex.

Sering kok kita bicara tentang takdir. Mengkhayal kisah cinta yang satir. Tentang masa depan: rekreasi ibu, ayah, dan anak-anak di pantai yang bau anyir. Maka saat jarak terbentang, kemesraan mencair, kubilang: biarkan saja hubungan itu mengalir seperti air. Kamu seolah tersambar petir. Hubungan itu berakhir. Air mata kita sama-sama mengalir. Tapi mungkin hanya aku yang minum bir.

Tegaskan sekali lagi, hubungan kita tidak melulu tentang sex.

Kita juga bicara tentang buruh. Bicara tentang tubuh, meski tak selalu saling menyentuh. Berbagi peluh itu tetap perlu. Tetap telanjang sampai subuh. Eh, tapi sungguh:

hubungan kita tidak melulu tentang sex.

Yang mampu lupa tentang hubungan-yang-tidak-melulu-tentang-sex itu memang hanya kamu. Sampai kini pun begitu. Aku jadi malu. Malu bilang bahwa aku masih ingat tubuhmu.

Pagi buta, 16 Maret 2012

Ayah, inikah dewasa? Benarkah kita sudah dewasa? 17+?

Advertisements

3 thoughts on “Tidak Melulu Sex

  1. Betul,tidak melulu sex. Sex cuma keaktifan chakra sex, muladhara, chakra paling dasar. Banyak hal asyik (hehehehe….) menanti di chakra paling atas, sahashrara. 😉

  2. Ra,

    banyak tulisan yang berusaha ekstrim dan rebel dengan ngomongin sex atau hal2 vulgar, tapi konsentrasi ke “ekstrim”-nya bukan ke content-nya. Kata Tante Dea tulisan kamu proporsional banget. Content-nya kuat, ekstrim cuma jadi cara penyajian, bukan cara untuk narik perhatian atau supaya berasa keren dan rebel. Kamu tau persis apa yang kamu tulis, kamu nggak dikendaliin gaya tapi kamu yang ngendaliin gaya.

    You are the next big thing in writing =)

    Coment ini akan Tante Dea tutup dengan teka-teki sex.

    Sex, sex apa yang dulu ada sinetronnya di tivi?
    Sexa Kubur.

    Sukses, ya, Neng … =D

  3. Yaah, like mother like daughter lah. As I often said, your writings are very much similar to your mother’s. And this one is just an example.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s