Saya dan Jung


Dosen Psikologi Kepribadian memberikan angkatan kami kesempatan memperoleh nilai melalui makalah yang berisi analisis diri berdasarkan teori psikodinamika Freud, Jung, Adler, Horney, atau Fromm. Pilihan saya jatuh pada Carl Gustav Jung (1875-1961) dengan teori analitiknya. Latar belakang pilihan itu adalah ketertarikan saya terhadap penelitian Jung mengenai mitologi, agama, lambang-lambang, upacara-upacara kuno, adat istiadat dan kepercayaan-kepercayaan manusia primitif, dan juga mimpi-mimpi, penglihatan-penglihatan, simtom-simtom orang neurotik, halusinasi-halusinasi, serta delusi-delusi para penderita psikiologis.[1]

Secara tidak langsung, Jung menganggap bahwa mitos merupakan aspek faktual. Beliau melawan pandangan manusia modern yang menganggap bahwa mitos sama sekali tidak relevan dengan kepribadian manusia. Jung malah berpendapat bahwa mitos merupakan wadah proyeksi tingkah laku para leluhur[2]. Manusia dibentuk dan dicetak ke dalam bentuknya yang sekarang oleh pengalaman-pengalaman kumulatif generasi masa lampau yang merentang jauh ke belakang, bahkan sampai asal-usul manusia yang samar dan tidak diketahui.[3]

Jadilah, mata kuliah itu membuat saya rela berkutat dengan ingatan. Pengajaran mengenai teori analitik dari Jung membuat saya dalam beberapa hari berusaha mengingat tingkah laku saya, tingkah laku orang-orang terdekat saya, dan melakukan tanya jawab sederhana dengan mereka. Saya ingin memastikan: apakah isi teori Jung memang benar-benar terterap dalam kehidupan saya?

Sesaat setelah membaca teori Jung, dengan serta merta, pikiran saya melayang pada beberapa peristiwa dalam kehidupan saya yang menurut sepemahaman saya, identik dengan teori yang dikemukakan Jung.

Ego

Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan sadar. Ego melahirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang. Dari segi pandangan sang pribadi, ego dipandang berada pada kesadaran.[4] Ego merupakan gugusan tingkah laku yang umumnya dimiliki dan ditampilkan secara sadar oleh orang-orang dalam masyarakat. Ego merupakan bagian manusia yang membuat ia sadar pada dirinya.[5]

Sejak kecil, dalam percakapan di forum bagaimanapun, saya selalu merasa lebih percaya diri jika sedang membicarakan mengenai apa yang menjadi ketertarikan saya: membaca, dan menulis. Ibu dan ayah saya sangat dekat dengan buku. Mereka juga sudah lama menulis lepas untuk media. Dengan begitu, sejak SD, saya pun mulai “ikut-ikutan” membaca dan menulis. Kedua kegiatan itu membuat saya percaya diri. Dengan membaca, saya merasa mendapat keuntungan: perbendaharaan kosa kata saya terus bertambah, lalu saya menyalurkannya dengan menulis.

Sejak awal, saya merasa kedua hal itu adalah pelengkap kepribadian saya. Terlebih, karena saya sadar bahwa saya tidak percaya diri dan merasa tidak cakap berbicara di hadapan khalayak ramai. Kesadaran saya itu membuat pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan saya. Untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan membaca atau menulis, saya penuh semangat, bahkan perfeksionis. Dalam hal itu, teman dekat pun dapat dengan sementara menjadi lawan atau kompetitor saya. Bahkan untuk menulis catatan harian, saya harus memikirkannya dengan matang; saya harus merasa tepat dalam menuangkan apa yang ada dalam pikiran.

Dalam teori Jung, perasaan itulah yang disebut Ego. Saya memiliki persepsi, pikiran, dan perasaan secara sadar bahwa keutamaan saya ada pada menulis. Ego membuat saya menjadi semakin yakin akan identitas sebagai seorang pribadi yang otentik.

Ketidaksadaran Pribadi

Setiap kali saya melihat kilasan film, komik, atau melihat gambar kartun Jungle Book, pikiran saya dengan otomatis seolah berusaha keras mengingat sesuatu. Kadang perasaan itu menimbulkan rasa haru atau kegamangan selama beberapa lama. Insting saya mengatakan bahwa kartun Jungle Book ada hubungannya dengan waktu dan orang tertentu di masa lalu saya. Kenangan masa lalu itu direpresi. Hingga kini, saya agak segan jika harus berhadapan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jungle Book, apalagi memaksa diri saya untuk membongkar ingatan-ingatan tertentu mengenainya. Tapi di sisi lain, saya merasakan semacam kebanggaan karena memiliki hal itu: ingatan yang tersembunyi. Terdengar seperti yang ada di film-film science fiction, bukan?

Kompleks-Kompleks

Kompleks adalah kelompok yang terorganisasi atau konstelasi-konstelasi perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, persepsi-persepsi, dan ingatan-ingatan yang terdapat dalam ketidaksadaran pribadi. Kompleks memiliki inti yang bertindak seperti magnet menarik atau “mengkonstelasikan” berbagai pengalaman ke arahnya.[6]

Seperti yang banyak terjadi, saya menduga kompleks dalam kehidupan saya berasal dari pengalaman-pengalaman dengan orang tua. Hubungan saya dan ibu memang sangat dekat. Meski begitu, saya agak keberatan jika dengan serta merta dibilang bahwa ibu mendominasi kehidupan saya. Meski begitu, tetap saja dalam pikiran, perasaan, dan perbuatan sehari-hari, saya tidak pernah melepaskan ingatan akan ibu. Dengan ibu, saya jauh dari rasa sungkan. Saya lancer bercerita mengenai segala hal. Tidak seperti dengan anggota keluarga lain.

Ketidaksadaran Kolektif

Sama seperti banyak orang lainnya yang dibesarkan di budaya ketimuran, saya akrab dengan hal-hal yang berbau magis. Saya sejak kecil merasa takut saat berada di tempat gelap. Ada keyakinan-keyakinan mengenai hantu yang biasa muncul di tempat gelap. Bagi Jung, itu adalah representasi dari ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran kolektif adalah gudang bekas-bekas ingatan laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang, yang tidak hanya meliputi sejarah ras manusia sebagai satu species tersendiri tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya.[7] Manusia cenderung takut gelap karena bisa diasumsikan bahwa manusia primitif menemukan banyak bahaya dalam kegelapan.

Ketakutan pada hantu menurut saya ada hubungannya dengan kepercayaan pada Yang Absolut: Tuhan. Dalam Islam, ada keyakinan bahwa Tuhan menciptakan banyak jenis makhluk, termasuk jin, yang memiliki kemampuan mengubah diri menjadi yang diinginkan, dan bukan tidak mungkin jin memperlihatkan diri pada manusia untuk tujuan-tujuan tertentu.

Saat duduk di kelas empat SD, saya mulai tertarik pada sihir, terutama pada Wicca[8]. Ketertarikan itu berawal dari pembacaan saya akan buku serial Circle of Three. Tidak puas dengan itu, lalu saya melanjutkan membaca referensi-referensi yang agak berbau ilmiah mengenai Wicca. Saya dan dua teman saya sempat merasa nyaman dengan ritual-ritual Wicca yang kami lakukan untuk Dewa-Dewi kami masing-masing. Ritual-ritual yang sangat berbau budaya barat[9] itu saya lanjutkan hingga awal SMP.

Mungkin pembaca memandang sebelah mata mengenai yang telah saya lakukan itu. Bagaimana tidak, saya memulainya saat masih duduk di bangku SD; belum mencicipi asam garam kehidupan; dan pemahaman saya mengenai agama dan Tuhan masih seperti remah. Tapi segala hal yang saya lakukan itu merupakan ketidaksadaran kolektif manusia. Sudah sejak lampau manusia mengenal Yang Absolut, khususnya pada Dewa-Dewi. Manusia primitif sudah melakukan ritual-ritual kepada Tuhannya sejak masa lampau. Ide-ide mengenai ritual-ritual dengan mudah terbentuk karena kecenderungannya sudah tertanam kuat dalam otak dan hanya butuh sedikit penguatan lewat pengalaman individu.[10]

Arketipe-Arketipe

Arketipe adalah jejak ingatan ras akan suatu bentuk pikiran universal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran-gambaran atau visi-visi yang dalam kehidupan sadar dan ‘normal’ dikaitkan dengan pengalaman hidup yang nyata.[11]

Sudah sejak dua tahun yang lalu, saya secara otodidak mempelajari pengobatan herbal tradisional. Awalnya, saya hanya belajar mendiagnosa penyakit melalui garis tangan. Lalu saya mulai belajar membekam, meramu obat-obatan yang dibuat langsung dari tanaman dan madu, serta mempelajari pengobatan menggunakan lintah. Ketertarikan itu awalnya sederhana. Saya hanya senang memperhatikan keluarga teman saat mengobati orang sakit dengan pengobatan herbal. Hampir semua anggota keluarga itu memiliki kemampuan pengobatan. Saya pun tertarik, dan belajar secara otodidak dari buku-buku dan video. Saya mengerti logika pengobatan tradisional dalam waktu yang terbilang singkat.

Suatu hari, saya berbincang dengan seorang keluarga melalui jejaring sosial. Saya menyempatkan bercerita mengenai ketertarikan saya tersebut. Beliau dengan serta merta bercerita bahwa ternyata, sejak dulu keluarga kami selalu ada yang berbakat di bidang pengobatan. Setiap generasi ada yang memiliki bakat itu. Konon, nenek moyang saya yang dikenal dengan nama Eyang Adan, adalah seseorang yang datang ke daerah Cibatu, Garut untuk menyiarkan Agama Islam. Beliau yang pintar pengobatan itu lalu menikahi seorang perempuan perkasa di situ. Sekarang, nama daerahnya Saradan, yang mungkin diambil dari namanya. Setelah itu, di setiap generasi selalu ada yang bisa pengobatan tanpa harus belajar lama. Hal itu seperti bakat yang diwariskan. Sebagian besar anggota keluarga bahkan malah bisa pengobatan di usia yang sudah dewasa.

Bagi Jung, arketipe sebagai citra primordial merupakan kemampuan persepsi dari naluri dan dapat dianalogikan dengan kesadaran sebagai persepsi kehidupan objektif manusia. Ada beberapa arketipe yang dianggap  universal, meskipun begitu, sejumlah arketipe telah berkembang sedemikian jauh sehingga harus dipandang sebagai sistem-sistem terpisah dalam kepribadian.[12] Mereka adalah persona, anima-animus, serta bayang-bayang.

Persona

Persona adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta terhadap kebutuhan-kebutuhan arketipal sendiri. Dalam budaya Sunda, lingkungan tempat saya tumbuh besar, seorang manusia apalagi perempuan, harus bisa membawa dan menempatkan dirinya dengan baik dalam masyarakat. Saya pun merasa perlu menciptakan kesan-kesan tertentu pada orang lain, sebagaimana tujuan dari topeng.[13] Saya, yang suka berinteraksi dengan beragam jenis individu dan forum, setuju jika topeng disebut sebagai alat bantu dalam pergaulan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain.[14]

i. Anima Animus

Anggapan umum mengatakan bahwa perempuan adalah sosok yang rapi dan rajin, jujur saja kedua hal itu tidak selalu ditemukan dalam diri saya. Kedua sifat yang dianggap sebagai sifat yang ideal bagi perempuan itu hanya ada pada diri saya pada waktu-waktu tertentu, bahkan bisa dibilang jarang sekali. Jika “berantakan” dan malas memang benar merupakan sifat khas laki-laki, maka, saya menemukan arketipe sifat kelelakian (maskulin) pada diri saya. Kemungkinan besar, hal-hal seperti itu yang disebut Animus oleh Jung. Tetapi di sisi lain, saya juga perempuan biasa, yang sesuai dengan tipe-tipe wanita: suka dan merasa mendapat kepuasan saat mengasuh dan membuat kedekatan dengan anak kecil[15], serta terkadang bisa sangat terpengaruh oleh perasaan.

ii. Bayang-Bayang (Shadow)

Pada masa SMP, saya mulai menyadari bahwa saya memiliki kebiasaan yang tidak lazim. Saat saya merasa sedih atau tertekan dan sudah tidak memiliki semangat, tubuh saya akan meminta untuk disakiti. Saya tidak akan merasa lega sebelum ada bagian tubuh saya yang terasa perih atau sakit. Saat itu, saya memiliki keyakinan (atau sugesti?), bahwa saat jiwa merasa sakit, tubuh pun harus ikut merasakannya. Jika tidak, rasa tertekan itu tidak akan bisa hilang. Untuk itu, saya menyakiti tubuh saya sendiri dengan beragam cara.

Saat saya merasa bahwa sakit yang dimiliki tubuh sudah sama dengan yang dimiliki jiwa, saya akan berhenti. Saya tidak pernah memperhatikan bagian tubuh yang sakit. Saya malah akan terus menerus memberi luka-luka itu dengan alkohol atau obat merah. Tujuannya bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menimbulkan kembali rasa sakit. Saya tidak pernah memperhatikan bilur, lebam, atau goresan yang ada. Saya hanya puas dengan rasa sakit yang timbul, bukan pemandangan berdarah-darah yang dihasilkan.[16]

Kini, saat saya sudah menghentikan kebiasaan itu dan membaca teori Jung mengenai bayang-bayang, saya menemukan keidentikkan pengalaman saya dengan bayang-bayang. Arketipe bayang-bayang dalam kasus saya muncul sebagai dorongan dan keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Hal itu dimungkinkan memiliki hubungan dengan ketidaksadaran pribadi yang belum saya ketahui. Bayang-bayang menurut Jung mengakibatkan munculnya pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan dan patut dicela oleh masyarakat dalam kesadaran dan tingkah laku.[17] Jika diketahui oleh masyarakat, kebiasaan saya dalam menyakiti diri sendiri itu tentu saja akan dicela. Meski begitu, belum lama ini, saya memberanikan diri untuk menulis mengenai itu dan memajangnya di blog sebagai bacaan untuk umum. Saya ingin membuat orang lain belajar dari tiga tahun pengalaman saya tersebut.

Hingga kini, dorongan-dorongan dari tubuh saya masih senantiasa datang. Tetapi seperti seharusnya, bayang-bayang dan Ego dapat bekerja berdampingan.[18] Ego dapat mengontrol daya kekuatan bayang-bayang sehingga tidak berubah menjadi kekuatan jahat yang membahayakan diri saya.

Sikap

Sikap yang dominan dan disadari oleh saya adalah sikap ekstravert. Sikap ekstravert menurut Jung yaitu mengarahkan  individu ke luar diri, ke dunia objek.[19] Dalam diri saya, ego bersifat ekstraversi dalam relasinya dengan dunia, sedangkan ketidaksadaran pribadi saya bersifat intraversi.

Fungsi

Empat fungsi psikologis fundamental dari Jung terdiri dari pikiran, perasaan, penginderaan, dan intuisi. Jika dalam suatu contoh kasus saya berdiri di pinggir Grand Canyon Sungai Colorado, sikap reflek saya akan menunjukkan perasaan kagum, kemuliaan, dan keindahan hati. Itu berarti saya menunjukkan sikap perasa. Perasaan membuat manusia dapat menilai segala sesuatu sebagai positif atau negatif yang merujuk pada manusia sebagai subjek. Selanjutnya, saya akan cenderung melihat Grand Canyon sebagai misteri alam yang memiliki arti yang dalam, di mana sebagian artinya dirasakan sebagai pengalaman mistik.[20] Hal itu adalah intuisi. Intuisi melampaui fakta, perasaan, dan ide-ide dalam aktivitas pencarian esensi dari realitas.[21] Perasaan dan intuisi itu bagi saya merupakan hubungan kausalitas.

Kesimpulan

“Manusia memiliki banyak hal yang tidak dicapainya sendiri, tetapi diturun-wariskan dari leluhurnya… ia membawa bersamanya sistem-sistem yang terorganisasi dan siap berfungsi dalam cara-cara tertentu yang ditampilkan manusia secara spesifik. Untuk ini ia berhutang kepada jutaan tahun perkembangan manusia.”[22]

Setelah melakukan analisis terhadap diri saya sendiri, saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa apa yang dikemukakan Jung mengenai kepribadian di atas memang mengandung unsur kebenaran. Jung mengatakan bahwa kepribadian manusia bukan hanya dipengaruhi masa lima tahun pertama dalam kehidupan seseorang (seperti yang dikemukakan oleh Freud), melainkan oleh pengalaman-pengalaman manusia leluhurnya di masa lampau. Dalam sebuah kasus dalam kehidupan saya, hal tersebut tercermin dalam kepercayaan saya akan hal gaib, Wicca, dan usaha ringan saya untuk mempelajari pengobatan tradisional yang konon ternyata merupakan bakat yang dialirkan dari leluhur.

Saya membagi tugas ini bukan tanpa alasan. Rangkaian teori analitik Jung membagi satu hal penting: perkembangan manusia menjadi memiliki peran yang sangat berharga bagi tingkah laku seseorang.

Jung membuat saya tidak mungkin menghindarkan asal-usul seseorang sebagai bahan refleksi. Saya menjadi semakin menghargai masa lalu manusia, juga tentu saja, menghargai diri saya sendiri.

Kepustakaan

Hall, Calvin S, Lindzey, Gardner. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.

Ladislaus Naisaban. 2003. Psikologi Jung: Tipe Kepribadian Manusia dan Rahasia Sukses dalam Hidup. Jakarta: Grasindo.

Alfons Sebatu. 1994. Psikologi Jung: Aspek Wanita dalam Kepribadian Manusia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Widjaja Wr. “Jungian-Psikologi Analisis” dalam http://sekapursirih.blogsome.com/2009/11/18/psikologi-analisis-jungian/ (diakses tanggal 12 Maret 2012)

Budi Hartono. Bahan kuliah semester genap STF Driyarkara: Manusia Menurut Carl Gustav Jung.


[1] S. Hall, Teori Psikodinamik. 181

[2] Sebatu. Psikologi Jung. xiii

[3] S. Hall, Teori Psikodinamik. 180-181

[4] S. Hall, Teori Psikodinamik. 182.

[5] Hartono, bahan kuliah Psikologi Kepribadian.

[6] S. Hall, Teori Psikodinamik. 183.

[7] S. Hall, Teori Psikodinamik. 184.

[8] Wicca adalah sebuah aliran kepercayaan yang berusaha menyeimbangkan antara pemikiran dengan kehidupan, yang bertujuan untuk menjalin kesatuan dengan semua makhluk. Wicca mengutamakan spells dalam ritual-ritualnya.

[9] Wicca tumbuh dan berkembang di Inggris dan sekitarnya.

[10] S. Hall, Teori Psikodinamik. 185.

[11] Hartono, bahan kuliah Psikologi Kepribadian.

[12] S. Hall, Teori Psikodinamik. 188.

[13] S. Hall, Teori Psikodinamik. 189.

[14] Sebatu. Psikologi Jung. 8.

[15] Sebatu. Psikologi Jung, 108.

[17] S. Hall, Teori Psikodinamik. 190.

[18] Sebatu. Psikologi Jung, 10.

[19] S. Hall, Teori Psikodinamik. 192.

[20] Contoh perumpamaan diambil dari S. Hall, Teori Psikodinamik. 193.

[21] S. Hall, Teori Psikodinamik. 193.

[22] Hartono, bahan kuliah Psikologi Kepribadian.

One thought on “Saya dan Jung

  1. Saya juga pengagum Jung. Baru-baru ini, di dunia psikologi, Jung sudah tidak digabungkan ke dalam mahzab psikodinamika, karena sepertinya dia lebih cocok berada pada mahzab baru psikologi, yakni psikologi transpersonal. (Apalagi setelah buku The Red Book-nya dipublikasikan, maka akan kentara sekali psikologi transpersonalnya.)

    Saya dan seorang dosen sepakat, ketika kami membicarakan tentang alam bawah sadar, maka kami akan tertuju pada Jung. Dosenku bilang: “carilah Jung yang sejati.” Alam bawah sadar di dunia psikologi sudah tak tertuju lagi pada Freud yang libidinal-energetik, tapi lebih kepada Jung. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s