“Yang Berpengetahuan” dalam Serat Puspita Mantja Warna


Godhane manungsa sok suthik diarani bodho sapanungsalane, kudu pinter sapanunggalane.

Serat Puspita Mantja Warna

Masyarakat dewasa ini pasti akrab dengan sosok-sosok yang sangat tak ingin disebut bodoh. Manusia selalu berusaha untuk memperlihatkan kepandaiannya dengan berbagai cara. Setiap manusia memang enggan jika disebut bodoh. Hal itu pula yang hendak disampaikan oleh Serat Puspita Mantja Warna yang saya kutip di atas. Manusia selalu hanya ingin mendapat julukan yang baik-baik, termasuk di dalamnya pandai. Darinya, saya menyimpulkan betapa pengetahuan—segala yang membuat manusia tahu—berpengaruh pada kehidupan manusia. Pada keberadaannya; pada eksistensinya. Dalam serat yang sama, juga ditulis bahwa seseorang yang mempunyai pengetahuan sedikit, maka dirinya tidak akan dapat berbudi bahasa dengan baik pula. Dengan kata lain, pengetahuan mempengaruhi kehidupan sosialnya; bagaimana dirinya berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupannya.

Pengetahuan tersebut, bagi saya, sangat erat kaitannya dengan perilaku amoral atau tidak bermoral. Sebetulnya setiap manusia tidak mungkin tidak tahu dan atau tidak memiliki moral. Hanya ada dua tahap perkembangan moral dalam hidup manusia, masa pramoral dan moral. Masa yang disebut pramoral adalah saat manusia kecil belum dapat menentukan sepenuhnya mana yang benar dan salah. Itu adalah masa saat seorang anak kecil biasanya disebut nakal. Beberapa anak saat sedang merasa kesal atau marah, biasa memukul atau membanting barang-barang tertentu, lalu disebut nakal. Mereka itulah yang sedang berada pada masa pramoral: mereka tidak disebut jahat, tetapi nakal.

Saat seseorang sudah mengetahui dengan tepat mana hal yang benar dan yang salah, mereka sudah bermoral. Mereka sepenuhnya memiliki pengetahuan mengenai moral, terlepas dari apakah dia mengikuti kebenaran, atau tidak. Perilaku baik dan buruk atau benar dan salah yang dibahas di atas adalah perilaku yang dapat disepakati bersama; yang jika dilanggar, akan menimbulkan isu-isu tertentu dalam masyarakat.

Itu mengapa saya menganggap bahwa pengetahuan begitu penting dalam kehidupan. Lagi, dalam Serat Puspita Mantja Warna, disebutkan bahwa dengan pengetahuan yang banyak, seseorang akan dapat menempatkan dirinya dalam setiap lingkungan; dapat berbicara baik—dan benar, menurut persetujuan-persetujuan masyarakat—; dapat menyesuaikan dirinya dengan cepat.

Dalam kitab-kitab jawa kuno, terdapat peribahasa yang kira-kira berbunyi sebagai berikut: seseorang yang berhati-hati dan berpengetahuan tinggi dapat diibaratkan seperti rumah yang berpagar besi (Tepa tuladha tumrap ing tamba, sarta bebasan sapa kang weruh ing panudju sasat sugih pagare wesi). Maksudnya, tidak ada yang akan berani mengganggunya. Orang-orang berpengetahuan luas memiliki kelebihan, yaitu dirinya sebagai persona sudah merupakan pelindung bagi dirinya sendiri.

Dugaan saya, hal itulah mungkin yang membuat banyak orang yang berpengetahuan luas menjadi arogan; sombong. Serat Puspita Mantja Warna juga menulis mengenai “orang sombong” itu; yang digambarkan sebagai seseorang yang senang dipuji, tetapi juga suka sirik pada orang lain. Padahal sebetulnya, iapun tidak layak untuk dipuji, tentu saja, karena tidak ada yang lebih baik dari Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Maka pengetahuan, sebagai sebuah nilai yang fundamental dan penting, sepertinya sangat tidak layak jika akhirnya menghasilkan kesombongan yang mengkotak-kotakkan manusia bodoh dan manusia pintar. Serat Puspita Mantja Warna sebetulnya menyatakan bahwa tidak ada orang bodoh dan orang pandai, yang ada hanyalah orang yang banyak pengetahuannya, tetapi di sini, bodoh dan pandai digunakan karena sudah begitu akrab dan melekat dengan tinggi rendahnya kecerdasan dan atau kemampuan akademik seseorang. Keduanya, yang disebut kepintaran dan kebodohan adalah suatu “alat” untuk mendorong proses pembelajaran dan pengajaran lebih lanjut.

Jadi, seseorang yang berlaku arogan dan merendahkan yang lain karena kepintaran dan pengetahuan yang dimilikinya, bagi saya adalah mengingkari “ada”nya sebagai manusia yang otentik; manusia sebagai makhluk rasional. Sama sekali tidak memperkuat eksistensinya. Sungguh tak layak.

Advertisements

One thought on ““Yang Berpengetahuan” dalam Serat Puspita Mantja Warna

  1. Muhammad Ridwan

    dalam realita, memang orang yang pintar cenderung memiliki gejolak emosi yang tidak dapat di kontrol, lain halnya dengan orang yang biasa saja tetapi mempunyai pergaulan luas, pengetahuan memang rentan akan kesalahan sikap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s