Cinta dan Kesatuan Hidup[*]


Saya belum cukup lelah dan sudah cukup bosan saat membaca satu bagian dari buku Karya Lengkap Driyarkara: Fenomena Pendidikan. Di tengah ke-sudah-cukup-bosan-an itu, kesadaran saya ditepuk oleh Driyarkara dengan cukup keras. Dalam bagian mengenai pendidikan, saya menemukan begitu banyak pembahasan mengenai cinta, kesatuan hidup, dan keluarga. Saya dibuat sadar betapa cinta sesungguhnya merupakan benih dari banyak hal. Cinta membuahkan keinginan manusia akan kesatuan hidup, yang bagi Driyarkara adalah di mana manusia sebagai persona saling menerima satu sama lain; saling memasukkan diri ke dalam kehidupan yang lain.

Benih dari banyak hal itu tentu saja menunjukkan bahwa cinta adalah perbuatan fundamental. Cinta tidak terikat pada bentuk tertentu. Jika hari ini merupakan penjelmaannya, dapat saja di hari lain menjadi sebaliknya.

Membaca cinta membuat saya lalu mempertanyakan cara bekerjanya. Seperti yang sudah disebut, cinta melahirkan keinginan akan kesatuan hidup. Bagaimana cinta itu lahir? Apakah hanya yang melahirkan kesatuan hidup saja yang disebut cinta? Pikiran saya meniupkan banyak realita yang pernah dialami. Kekaguman pada seorang senior laki-laki di kampus yang membuat saya semakin banyak membaca dan belajar tentang tema baru, termasuk akhirnya membuat Kitab Bhagawadgita berada di hadapan saya sekarang ini. Apakah itu yang disebut cinta?

Kerinduan saya terhadap sebuah keluarga, terutama sang ibu, di kampung halaman. Apakah itu yang disebut cinta? Ini tidak terkait dengan masalah bahwa ibu itu selalu membuat saya ingat pada anak laki-lakinya; yang dulu saya cintai. Anak laki-laki yang banyak disebut sebagai anak luar biasa; the great leader, tapi toh ternyata untuk hidup dan kisah cintanya saja, dia tidak cukup cerdas, bahkan terkesan tidak berpendirian. Itukah?

Insting saya yang begitu kuat tentang seorang musisi yang berkali mencuri pandang pada saya, yang lalu menciptakan kekaguman saya pada cara bermusiknya, kesopanannya, dan kejujuran yang dimiliki mata dan senyumnya. Meski hanya tiga hari saya sempat bertemu dengannya, apakah yang itu, yang disebut cinta?

Cinta yang dibahas Driyarkara, tentu saja merupakan cinta yang murni. Dalam cinta murni, yang diarah bukanlah kepentingan diri sendiri, melainkan yang dicintai. Jika sudah mencapai kesatuan hidup dalam keluarga, terutama kesatuan antara anak dengan ibunya, kesatuan hidup tersebut sangat jelas terlihat. Selain saling menerima satu sama lain, sang ibu (juga ayah, sebagai rekan; partner) juga terdorong menjadikan anak sejajar dengan mereka: menjadi manusia yang paripurna, dengan pendidikan.

Kembali ke tiga contoh riil dalam kehidupan saya tadi, ketiganya begitu sederhana. Saya percaya bahwa sesederhana apapun, pengalaman-pengalaman macam itu; yang biasa disebut-sebut dengan “jatuh cinta” itu menimbulkan keinginan akan kesatuan. Sebetulnya, itu pula yang menyebabkan kehancuran. Yang membuat teman jadi lawan, yang membuat yang-tadinya-bukan-siapa-siapa jadi rival. Jika banyak orang yang menginginkan dunia dipenuhi cinta, harus siaplah pula mereka dengan beragam pertentangan. Manusia-manusia sebagai persona punya cinta dan menginginkan kesatuan hidup. Beberapa bahkan saling berlomba, bersaing—sehat maupun tidak—.

Yaah, jadi, sudah kok. Hidup ini sudah dipenuhi cinta.

Persaingan menunjukkan betapa sesungguhnya cinta itu tidak harus satu; tidak-harus-satu yang tidak selalu berarti “poligami”.

Betapa hidup ini dipenuhi cinta.


[*] Ditulis berdasarkan pembacaan atas salah satu bagian dari Karya Lengkap Driyarkara (Buku Kedua: Hominisasi dan Humanisasi-Fenomena Pendidikan.

Advertisements

One thought on “Cinta dan Kesatuan Hidup[*]

  1. Muhammad Ridwan

    love is love, not a definition but completed for our life what they believe it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s