Untung Saja


Mereka berdua duduk berhadapan di kursi panjang. Di tengah kedua kursi, ada meja yang juga panjang. Sisi kanannya mempertahankan genangan air berdiameter lima belas senti. Genangan itu muncul akibat bocornya atap warung. Air hujan jadi menetes perlahan dan bertahan. Sampai hujan selesai. Waktu itu memang hujan baru saja selesai mengguyur bumi; membuat tanah jadi basah; membuat langit tetap kelabu.

“Kalau nantinya aku nggak nemu siapa-siapa lagi, kamu juga nggak nemu siapa-siapa lagi…” Yang Berbicara menghentikan kalimatnya sejenak.

Nemu? Menemukan? Menemukan apa? Dia mencari? Ahh…

“…Aku mau kok sama kamu lagi…” Yang Mendengar diam saja. Hanya terdengar gelak tawa sopir-sopir jemputan sekolah yang sedang menikmati gorengan dan kopi hitam di pojok warung yang berbeda.

“…Tapi nanti… Kalau waktunya sudah tepat.“ Yang mendengar agak terbelalak. Kepalanya terangkat setelah berlama-lama menunduk; menyembunyikan matanya yang sembab. Entah karena debu, entah karena air mata.

Nanti? Apakah dia percaya Tuhan? Bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja?

“Mungkin next year. Next next next year…”

Untung saja dia atau saya tidak mati mendadak karena tertimpa atap seng warung yang mulai rapuh. Sehingga tidak ada tahun depan.

Yang Mendengar mendecakkan lidah perlahan hingga seolah hanya dirinya yang dapat mendengar decakan itu. Setelahnya ia hanya tersenyum kepada Yang Berbicara, dan kembali menundukkan kepala.

“Aku minta maaf.” Ujar laki-laki di seberangnya. Matanya terus berusaha mendapatkan pandangan mata Yang Berbicara yang tidak juga mau memandang matanya.

“Ya sudah, hati-hati. Jaga diri. Sampai nanti ya.”

Sampai nanti? Untung saja dia atau saya bukan penderita penyakit kronis nan mematikan; yang sudah divonis dokter akan mati beberapa saat lagi.

Yang Berbicara bangkit dari duduk. Matanya masih mencari tatap mata Yang Mendengar.

“Hei…” Yang Mendengar memanggil.

“Aku sayang kamu.” Matanya tetap tidak menatap Yang Berbicara.

Untung saja saya masih sempat bertemu dengannya. Untung saja saya masih sempat mengucap kalimat itu. Untung saja waktu itu saya belum tahu bahwa kita memang tidak akan bertemu lagi. Kematian benar-benar datang. Meski terjadi begitu cepat, tetap saja, itu sedikit menggetarkan. Ya… Sedikit saja.

21 Januari 2012

Advertisements

2 thoughts on “Untung Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s