Jendela (4)


…“Aku nggak mau nikah sama Iki! Buta huruf! Nggak pinter!” Dengan suara serak yang dipaksakan, kamu teriak. Lalu menangis. Agil bingung setengah mati. Saya juga mulai berair mata. Kamu jahat, Maya. Padahal saya sungguhan waktu itu. Saya jujur seperti anak-anak kecil lainnya…

Aku masih kecil waktu itu. Hal yang aku mengerti waktu itu adalah, Iki buta huruf dan akan tetap buta huruf sampai tua. Aku kaget waktu Agil menulis kata-kata di kertas itu. Aku takut. Dulu aku mengira, semua yang kami ucapkan mengenai pasangan dan kehidupan dewasa akan benar-benar terjadi. Aku takut sekali. Aku mengira akan benar-benar menikah dengan Iki. Bocah ingusan yang buta huruf. Tidak pintar. Barulah saat aku tumbuh menjadi remaja tanggung, aku menyesal, meski terlalu gengsi untuk minta maaf.

Hari pertama aku masuk SMP, aku dengar Iki tidak melanjutkan sekolah. Aku tidak tahu, meski selalu ingin tahu. Aku merasa bodoh dengan perilaku masa kecil kami itu. Padahal, papa dan mama Agil bercerai. Maksudku, kehidupan dewasa memang tidak akan selalu sama indahnya dengan pigura imajinasi kami waktu itu. Agil dibawa pergi papanya ke Maroko. Aku kesepian dan semakin lengket dengan papa. Orang-orang bilang aku manja. Padahal tidak. Aku hanya tidak punya tempat lagi.

…Sejak kita tidak pernah lagi bertegur sapa dan Agil dibawa pergi papanya ke Maroko, saya tidak mau lagi melihat wajahmu. Walaupun kesulitan, saya bertekad untuk belajar mengenal abjad. Tanpa sekolah, tanpa perlu bilang siapa-siapa. Saya tidak mau terus menerus tidak pintar seperti katamu…

Iki anak yang baik, penuh pengertian, dan tampan. Dia tidak bodoh. Dia punya banyak pertanyaan yang kadang membuat saya kagum. Dia hanya buta huruf. Semuanya terjadi karena dulu aku belum cukup mengerti banyak hal. Perasaan, cinta, masa depan, dan bagaimana Tuhan menentukan jalan ketiganya.

…Kita memang manusia yang lemah, May. Lihat saja dirimu di cermin. Kira-kira kenapa Tuhan menciptakan renggang di gigi depan saya dan gingsul di gigi taring kamu? Atau untuk apa juga Tuhan membedakan cara bersin saya dan cara bersin kamu?! Supaya kita bisa terus bersahabat. Meski tidak lagi lewat jendela. Kita bisa saling menghargai, May. Saling mengerti. Tapi, arogansi membuat kita tidak bicara selama lebih dari lima belas tahun! Gila!…

Aku tidak tahu harus bicara apa saat aku selesai membaca surat-surat dari Iki. Ibu di sampingku, yang dulu, saat kulihat di foto, masih sangat muda, menatapku terus menerus. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkan air mata. Air mata hanya menggenang, lalu hilang. Menggenang, lalu hilang…

…Kamu tahu, saya PUAS sekali membaca kembali surat-surat yang sudah saya tulis dengan tangan saya sendiri ini! Ini saya, Maya. Taufiq. Iki. Yang katamu dan Agil bersinnya seperti kucing. Kamu betul-betul merupakan… Kamu sudah dewasa sekarang, sahabat jendela, saya yakin kamu sudah mengerti apa artinya cinta pertama…

Aku tahu tidak ada yang mampu mengembalikan Iki. Ke sini. Ke sampingku. Biar aku usap kedua pipinya yang kenyal dan sering memerah itu. Biar aku katakan bahwa aku menyesal tak tumbuh dewasa seperti yang seharusnya.

[Jendela selesai]

Advertisements

One thought on “Jendela (4)

  1. sebuah perjuangan untuk mencapai kebenaran dan ketabahan yang sebenarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s