Jendela (3)


Waktu papa belum pensiun dari pekerjaannya sebagai mandor petani teh, aku punya dua sahabat karib. Satu perempuan dan satu laki-laki. Agil dan Iki. Di antara kami bertiga, hanya aku yang disapa dengan nama asli. Nama Agil sebenarnya Ragilian. Ia anak keturunan Maroko. Rambutnya pirang. Dulu, aku tidak tahu letak Maroko dan apakah semua orang Maroko itu berambut pirang. Iki sebenarnya bernama asli Taufiq. Tapi kami, lalu akhirnya seluruh keluarga kecilnya, memanggilnya Iki, karena saat dia bersin, suaranya akan berbunyi “Ikkki…” Aku tidak bohong. Sungguh. Agil bilang, suara bersin Iki seperti kucing saat sedang bersin. Dulu, aku dan Agil suka mengejeknya, membuat dia mencari hal lain yang bisa dijadikan alat untuk membalas kami berdua.

…Selalu kamu atau Agil yang menulis nama kita di dinding kantor, di bawah jendela. Pakai kapur ya… Sekarang bukit kapur di timur kebun itu sudah semakin sedikit…

Persahabatan di antara kami sebut sebagai persahabatan jendela. Kantor papa terletak di bangunan yang didirikan oleh Belanda. Bangunannya panjang, jendelanya besar. Aku, Ragil, dan Iki bisa keluar dan masuk melaluinya. Ujung sebelah kiri adalah tempat menaruh daun-daun teh yang sudah setengah kering. Ruangannya pengap dan agak panas. Iki yang paling kuat berada di dalamnya. Dia bisa berjam-jam di dalam, menemani ayahnya menyantap makanan rantang yang dibawanya dari rumah.

Kedua dari kiri adalah ruangan papanya Ragil yang badannya luar biasa jangkung. Aku tidak tahu pekerjaannya apa. Satu-satunya yang aku tahu, setiap hari, orang-orang yang baru saja turun dari mobil pick up akan masuk ke ruangannya sambil menjinjing tas besar yang berisi uang dan kertas-kertas. Ketiga dari kiri adalah ruangan papaku. Dia mandor. Jika ditanya apa pekerjaannya, aku tidak tahu. Papa hanya suka bermain dan belajar bersamaku. Tidak membicarakan hal lain. Kesemua ruangan itu memiliki panjang dan lebar sekitar lima depa—kecuali kamar mandi yang ada di ujung kanan—dan memiliki jendela panjang dan lebar yang menghadap ke arah kebun teh.

…Di saat-saat yang sudah disepakati, kita akan buru-buru menuju jendela. Saya di paling kiri, Agil di tengah, kamu di ruangan berikutnya. Kita menjulurkan kepala masing-masing. Beribu kali kita melakukan ritual itu, tapi tidak pernah saya merasa bosan atau tidak senang. Saya suka… kata apa yang tepat ya? Sensasi mungkin. Sensasi saat kita berbincang-bincang. Tentu saja bincang-bincang yang tidak lazim. Teriak-teriak, karena kadang-kadang angin berhembus kencang sekali…

Papa sering mengatakan bahwa aku terlalu sering berteriak. Dia tidak pernah melarang. Senyumnya malah sering terlalu lebar saat melihat kami bertiga membicarakan hal-hal yang—bagi kami—serius atau saat aku dan Agil menirukan suara bersin Iki. Tapi akhirnya aku tahu akibat dari terlalu sering berteriak. Suaraku menghilang.

Selama tiga hari, aku dan Agil mengumpulkan kertas bekas dari kantor papaku dan papa Agil. Kami membaginya tiga karena Iki tidak punya kertas. Tapi Iki menolak melanjutkan ritual kami. Saat itulah aku dan Agil tahu bahwa Iki buta huruf. Usia Iki—sama seperti aku dan Agil—sepuluh tahun waktu itu. Iki tidak bisa baca dan tulis. Kesulitan belajar, katanya.

Akhirnya kami memutuskan untuk membagi dua regu. Agil dan Iki di ruangan Papa Agil, dan aku sendiri di ruangan papa. Seminggu kami berbincang melalui tulisan.

…Bagi saya masa-masa itu menyenangkan. Lima hari ya? Atau seminggu? Saya bisik-bisik kepada Agil, lalu ia yang menulis dan memperlihatkannya pada kamu. Sampai kejadian itu…

Kami bertiga sama-sama sangat bangga pada orangtua kami. Semuanya rukun dan suka berkumpul. Di mana saja. Kami jadi seperti keluarga besar. Mama Agil dan mamaku sering bercerita bagaimana mereka bertemu dengan suaminya. Waktu itu Mama Iki pergi ke Arab Saudi. Keluargaku dan keluarga Agil tidak pernah mengenalnya. Aku hanya melihatnya di dalam foto yang dipasang di kaca lemari dapur rumah Iki.

Saat berkumpul, Mama Agil dan mamaku dengan antusias membagi pengalaman. Menertawakannya. Kami pun seringkali terhanyut oleh nostalgia melodramatik mereka.

…Lama sekali saya berniat mengatakan bahwa saya suka kamu, May. Saya mau kita seperti bapak dan ibu saya. Konyol mungkin. Kita masih sangat kecil waktu itu. Tapi sepanjang tahun itu, dan tahun-tahun berikutnya, saya mengerti bahwa kamu adalah cinta pertama saya…

Di tengah perang canda melalui tulisan itu. Kami tiba-tiba terdampar di diskusi-diskusi aneh. Kami membicarakan papa dan mama kita; membicarakan pasangan seperti apa yang kami inginkan nantinya; membicarakan nama-nama aneh yang mau kami berikan untuk anak-anak kami nanti. Tiba-tiba wajah Iki tersipu. Aku ingat betul, pipinya yang tembam berubah jadi merah seperti jantung pisang. Iki berbisik pada Agil. Agil tertawa tergelak. Aku menulis: Iki bilang apa? Agil malah terus tertawa sambil menulis, dan memperlihatkannya padaku: Iki mau menikah sama kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s