Jendela (2)


Ibu itu mendatangi rumahku lagi. Kali ini ia bertemu papaku. Mereka berbincang di ruang tamu. Aku tak mau keluar kamar. Amit-amit. Wanita tua itu tidak waras.

Aku tengkurap di kasur. Daguku diganjal bantal guling. Telingaku awas. Aku berusaha mendengar apa yang orang asing dan papa bicarakan.

“Saya cuma mau nganter ini ke Neng Maya. Ada Neng Mayanya? Ada?”

“Nggak ada, bu. Apa saya kenal ibu ya?” Bagus. Papa mengerti permintaanku agar bilang aku tak ada di rumah.

“Nggaaak. Saya bukan siapa-siapa. Neng Mayanya betul nggak ada?”

“Betul, bu. Ibu siapa? Apa yang mau dikasih ke Maya? Nanti saya sampaikan.” Ibu itu terdengar mulai menangis.

“Kenapa, bu?” Terdengar dari suaranya, papa mulai panik. Betul kan, gila!

“Ini nih, pak.” Gemerisik kantung plastik terdengar cukup lama. Setelahnya, ada gemerisik yang hampir sama. Tapi bukan kantung plastik. Itu kertas. Kertas-kertas. Ya, ada banyak kertas.

“Apa ini, bu?”

“Surat, pak. Surat. Dari anak saya. Saya kirain dia masih seperti dulu. Buta huruf. Waktu meninggal baru saya tahu. Saya mau ketemu Neng Maya, pak. Mau minta maaf.” Hening. Cukup lama. Aku membalikkan tubuh, telentang menatap langit-langit kamar. Aku berusaha untuk tidur. Sekitar tiga menit aku terlelap. Tiba-tiba aku ketakutan. Aku lupa membaca doa. Aku tidak mau Tuhan memberiku mimpi tentang orang tidak waras; orang tidak waras yang mengejar-ngejarku. Bismika Allahuma Ahya… Ada langkah kaki papa di luar. Menuju kamarku. Kenop pintu bergerak. Wajah papa menyembul dari pintu. Dengan serta merta, aku menaruh telunjukku di bibir sambil berdesis pelan. Wajah papa memerah. Aku menunjuk ke arah ruang tamu, lalu menaruh telunjukku melintang di kening.

“Gila kan?!” Aku berbisik. Papa menggeleng.

“May, ini serius. Keluar yuk.”

“Gila!”

“Ibu itu  nggak gila. Waras. Keluar!” Meski tetap berbisik, kali ini nada papa memerintah. Aku tidak bisa berkutik. Aku bangkit dari  tempat tidur.

“Itu ada Neng Mayanya, pak!” Suara lantang itu menyambutku di ruang tamu. Aku tersenyum pada ibu itu. Wajahnya sudah cukup segar dibandingkan saat terakhir aku bersamanya. Entah kenapa aku memilih untuk duduk di samping si ibu. Ia merangkul pundakku.

“Ibu ini mamanya temanmu, May. Inget Iki?”

Maya, Agil, Iki. Maya, Agil, Iki. Tiba-tiba saja ketiga nama itu berulangkali melintasi kepalaku. Seperti cuplikan berita di bagian bawah tayangan televisi. Hilir mudik. Papa menggeser setumpuk kertas ke hadapanku. Sebagian besar sudah kusam warnanya.

“Ini surat dari dia.” Papaku menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maay… May…” Lanjut papa. Si ibu hanya menatapku tajam tapi berbelas kasih. Dari posisi yang sangat dekat, aku menjelajah wajahnya. Hidung dan alis itu. Ternyata aku kenal betul.

“May…” Pelan sekali papa memanggilku.

“Kenapa, pa?! Apa sih?!” Aku semakin tidak mengerti dengan situasi ini, makanya aku tak juga meraih surat-surat itu. Sampai papa memberiku nada yang agak keras.

“Baca sendiri!” Aku meraihnya acak. Membaca. Tulisan tangan dalam surat itu besar dan tebal, tapi aku merasa tidak kuat membacanya. Membaca isinya. Di paragraf kedua aku berhenti.

“Sebentar… Bu, anak ibu yang meninggal kemarin itu… Iki?”

“Iya, Neng Maya. Iya. Ya Allah… Saya tabah aja. Pasrah. Dari kemarin saya mau ajak Neng ke rumah, tapi saya nggak enak…”

“Bu…”

“Eh, iya, neng?”

“Iki teman saya dulu itu, bu? Taufiq?”

“Dari duluuuu sampai akhir hidupnya juga dia masih nganggap Neng Maya teman. Nggak cuma dulu aja, neng.”

“Iya, bu. Iya…”

“Jatuh, neng. Iki jatuh. Mobil teh punya Kang Arkan yang menyenggol. Aduh, Gusti… Bukan menyenggol. Itu kecelakaan. Tidak sengaja. Ya Allaaaah…” Ibu di sampingku merintih. Papa diam saja.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mataku sudah basah dan sepertinya memerah.

Aku melihatnya di depan rumah beberapa sore yang lalu. Iki dan motornya beriringan dengan mobil pick up yang mengangkut keranjang-keranjang teh. Dia berbincang dan tertawa dengan seseorang yang duduk di samping sopir mobil. Wajah itu selalu ceria. Tapi sendiri. Tidak pernah lagi dia membaginya denganku.

Aku malu menangis, apalagi di hadapan orang yang sebelumnya aku anggap tak waras. Ini keterlaluan. Aku kembali membaca surat-surat itu. Satu demi satu. Surat-surat itu tak sedikit. Tapi mataku tak bisa berhenti mentransfernya ke dalam ingatan. Mengubahnya menjadi kilasan-kilasan peristiwa di masa lalu. Sudah lama sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s