Jendela (1)


Seorang ibu mendatangi rumahku sambil menangis. Aku sedang mengorek lubang telinga di ruang tamu ketika melihatnya datang dari timur. Tanpa ragu, ia membuka pagar rumahku sehingga engsel besinya berderik pelan. Waktu itu aku belum melihat rona wajah dan mata yang basah. Hanya gamis oranye kusam dan sandal jepit yang sudah aus dan menipis. Aku bangkit dari duduk dan menuju teras.

“Anak, nak… Anak saya mati.” Kalimat yang dikatakan dengan aksen Sunda kental merasuk telingaku. Mati. Kata itu membuatku tersentak. Apa ini? Ia menghampiri aku. Wajahnya berkerut di sana-sini. Keringat tertahan di lekukan-lekukannya membentuk sungai-sungai kecil yang kadang saling menyambung. Ia menarik tanganku, berusaha membawa tubuhku keluar pagar.

“Eeh, bu. Kenapa, bu? Siapa? Siapa yang mati?” Aku memberondongnya dengan pertanyaan. Kaki telanjangku terseret-seret di tanah lembab. Tenagaku terbukti lebih kuat untuk menghentikan tarikannya. Berkali-kali mataku melirik ke pintu rumah yang terbuka, berharap ada yang datang dan menolong.

“Mati, Ya Allah. Meninggaaaal. Anak saya, nak…” Aku tiba-tiba teringat saudara sepupuku. Dia ketakutan setengah mati, saat sesaat setelah sadar dari tidur siang, ada laki-laki gila duduk di sampingnya. Laki-laki gila itu masuk lewat jendela yang memang terbuka lebar. Terus menerus tertawa dengan suara terkikik. Celaka, jangan-jangan ibu ini… Aku memperhatikan wajahnya. Kuduga, berduka benar ia.

Tubuhnya dua jengkal lebih pendek dariku. Ia menggunakan kerudung berwarna hijau mirip warna obat nyamuk bakar. Benda itu hanya disampirkan di kepalanya.

“Ayuk, nak. Ayuk.”

“Ibu siapa? Anak ibu meninggal? Siapa?” Aku benar-benar tidak kenal wajah itu. Tapi ia tak menjawab. Ia hanya membuka mulut untuk menyemburkan isakan.

“Papa! Papa!” Aku mendongak ke arah loteng. Doaku agar papa sudah bangun sepagi ini tidak terkabul. Tidak ada jawaban dari loteng.

“Ibu mau masuk dulu? Mau?” Aku menawarkan. Angin pagi masuk berembus kencang. Kabut juga belum hilang benar. Tanganku ikut dingin. Tapi juga berkeringat.

Sang ibu menggeleng.

“Ibu maunya apa?”

“Mau pulang. Pulang dulu aja. Lagi tahlilan. Banyak tamu.” Aku semakin yakin bahwa yang mendatangiku dan mencercaku dengan tangisan adalah wanita kurang waras. Pertama datang, ia mau membawaku pergi dari rumah. Tak lama berselang, ia mau pulang begitu saja. Aduh.

Tangan kiriku masih dicengkeram. Tangan kananku sebetulnya sudah sedari tadi tergerak untuk menepis tangan yang urat-uratnya menyembul keluar seperti pegunungan itu. Cengkeramannya erat sekali, hingga sepertinya aku bisa merasakan denyut nadiku sendiri. Tapi wanita di hadapanku ini sudah tua. Tampak tidak bertenaga. Aku iba. Tangisnya masih awet. Isakannya konstan. Matanya tampak mencari sesuatu. Di halaman rumahku, di halaman rumah tetangga, di wajah, dan mataku. Lama ia menahan tatapnya di mataku. Aku risih.

“Bu…”

“Masih, yah. Nak Maya. Masih cantik yah.” Ia melepaskan cengkeramannya di pergelangan tanganku. Kali ini ia mengelus pipiku. Apa lagi ini? Ia tahu namaku.

“Nanti ibu balik lagi ke sini yah, Nak Maya. Bener. Banyak orang di rumah. Tahlilan. Nanti ibu ke sini lagi…” Saat ia membalikkan tubuh ke arah pintu pagar, tangisnya usai. Aku masih sempat melihat bekas air mata di pipinya. Itu membuat pipinya berkilat. Ibu itu belum menutup pintu pagar saat aku berlari kencang menuju rumah. Aku mengunci pintu. Selotnya juga kupasang. Entah mengapa aku takut, tapi pun bertanya-tanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s