Garuda yang Sakit


Dulu, Rona dan Atan pernah sependapat tentang Indonesia: bahwa Indonesia sedang kacau. Sang Garuda sakit.

Rona: Sebagian besar orang kelihatan nyaman, Tan.

Atan: Nyaman kok dengan keadaan seperti ini? Sudah biasa mungkin. Atau pasrah? Atau mungkin juga tidak tahu?

Rona: Yang terakhir itu kayaknya tidak mungkin. Yang ada mungkin bingung.

Atan: Mana yang sungguhan, mana yang sandiwara. Mana yang benar, mana yang salah. Iya kan?

Rona: Kamu sedang bicara tentang orang-orang politik itu kan?

Atan: Ya, yang berkat media, sebagian besar jadi selebritis.

Rona: Padahal sebagian besar bikin Indonesia rusak. Keruk sana-sini. Hasilnya dikemanakan, hanya Tuhan yang tahu. Hahaha. Kita bicara soal beginian…

Atan: Ya berarti kita juga yang harus buat terbang kembali Garuda yang sayapnya sedang patah. Patah oleh banyak kemunafikan. Merasa pintar sepertinya orang-orang berdasi itu.

Rona: Menurutmu mereka tidak pintar?

Atan: Jika mereka pintar, sudah pasti negara ini pun bisa mengurus urusannya sendiri. Tanpa campur tangan negara lain.

Rona: Moral ya, masalahnya.

Atan: Ya, semacamnyalah. Moral. Etika! Ekonomi negara, politik, dan teman-temannya juga kan punya etika.

Rona: Etika.

Atan: Mereka harus belajar filsafat. Kayak kamu.

Rona: Atau orang-orang yang belajar filsafat yang harus menggantikan mereka?

Atan: Kamu?

Rona: Nggak mau!

Atan: Kenapa?

Rona: Kamu serius tanya kenapa?

Atan: Hehehe.

Rona: Aku setuju sama seruan kamu dalam tulisan itu: “kita harus buktikan kepada dunia luas bahwa Garuda tidak cacat. Diharapkan setelah regenerasi beberapa tahun lagi.” Wajar kalau masih harus menunggu.

Atan: Yaaa… Jika beruntung.

Rona: Baca ini: “Kita buat sang Garuda terbang ke tempat yang lebih baik. Dengan menjunjung tinggi rasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Kelak saya dan anda akan menjadi bagian dari kebangkitan Sang Garuda.” Heei… Kita? Saya dan Anda? Aku dan kamu?

Atan: Kamu masih meragukan kejujuran aku dalam menulis?!

Rona: Nope. Ya ya ya, kita memang harus optimis.

Atan: Harus.

Rona: Jadi?

Atan: Tulisan ini harus dikirim.

Rona: Syukur kalau menang.

Atan: Kamu edit ya…

Rona: Sure.

Itu dulu. Sudah lama. Waktu keduanya masih rutin bertemu; berbincang di ruang tengah rumah Rona. Kini, mereka sudah tidak bisa lagi berdiskusi. Mereka lelah. Ada terlalu banyak hal yang akan menuntut untuk didiskusikan, bahkan diprotes. Dibenahi, bahkan dirombak. Ada terlalu banyak kekacauan. Rona dan Atan semakin bingung akan “Mana yang benar, mana yang salah.”

Rona dan Atan butuh banyak tenaga untuk bersama. Juga yang pasti, di masa kini, mereka butuh banyak tenaga untuk menjadi seorang yang optimistis.

30 Januari 2012

Percakapan pendek ini terinspirasi oleh tulisan

berjudul sama yang ditulis seorang teman.

Terima kasih, Santayyy.

Advertisements

2 thoughts on “Garuda yang Sakit

  1. dahulu kala, indonesia menjadi bangsa yang terdepan di asia tenggara, itu pada saat masa Atlantic, pada masa depan saat orde baru seperti saat ini, masyarakatnya cenderung individualis dan kapitalis, itu sebabnya garuda patah sayap

  2. semangat dan keinginan patah ketika rasa iri sekaligus pikiran masa bodoh menghampiri, iya ndak? iri, membuat kita mudah dipecah belah, masa bodoh membuat kita tidak peduli dengan sesama, bahkan terhadap bangsa, mungkin juga terhadap diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s