Guntur Punya Cerita #2


Bus kecil yang membawa kami kembali sudah berlalu, tapi kepulan asap knalpotnya masih ada. Menyesakkan kerongkonganku. “Selamat ulang tahun ya.” Ujarnya sambil memberikan seikat bunga edelweiss kepadaku. Aku sempat menatap matanya lekat-lekat sebelum menjawab. “Kapan kamu mengambilnya? Kan dilarang memetik.” Nada suaraku meninggi meski wajahku tersipu. “Aku nggak metik, aku mengumpulkan yang sudah mati dan kering.” Dia tertawa. “Selamat ulang tahun ya.” Ujarnya lagi. Bulu-bulu di tanganku berdiri. Merinding.

Aku menaruhnya edelweiss itu di kamar, di dalam vas bunga kecil. Edelweiss itu sudah ringsek. Tapi masih ada. Tadinya, di hari jadi kita, aku mau memberikan separuhnya padamu. Membagi kebahagiaanku dua tahun yang lalu. Membuatnya menjadi kebahagiaan kita, bukan hanya kebahagiaanku. Tapi aku tidak berdaya membawamu pulang. Itu seperti mengajak Tarzan tinggal di kota; di pemukiman yang ideal untuk manusia. Karena yang Tarzan tahu, aku—manusia—gemar menghancurkan hutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s