Dia (2)


“Dia Aini. Aini berarti mata. Tante menamakannya agar dia menjadi orang yang dapat menggunakan matanya dengan baik. Mata di wajahnya, dan mata hatinya. Dia juga bukan sembarang kata. Dia diambil dari kata ganti orang ketiga. Agar Dia banyak dibicarakan orang. Tentu saja sebagai orang yang punya andil besar…” Wanita separuh baya berjilbab hitam itu terisak. Tubuhnya yang agak gemuk kadangkala terguncang-guncang karena isakannya.

“Dia begitu karena teman-temannya; karena pergaulan!” Tiba-tiba ia berseru. “Dua tahun penuh tante sudah berkali-kali mengingatkan temannya itu agar tidak bergaul dengan Dia. Berduaan sampai larut malam. Setan memang itu anak!”

“Tante, jangan begitu…” Aku mengusap-usap pundaknya. Dia memelukku erat. Air matanya tumpah di bahuku. Kemeja hitamku basah sudah karena keringat dan air mata banyak orang.

“Kematian itu Tuhan yang tentukan…” Lanjutku.

“Bukan kematiannya! Tapi keadaan saat Dia mati!” Tanteku berseru lagi. Orang-orang yang datang melayat ke rumah sudah semakin terlihat tidak nyaman dengan itu. Satu persatu mereka pergi. Beberapa yang entah kenapa menghindari tanteku hanya melambaikan tangan dari kejauhan, menganggukan kepala, dan tersenyum miris.

“Dia itu perempuan, Fa. Sudah seharusnya, pasangannya adalah laki-laki, bukan perempuan lagi! Menjadi lesbian itu terkutuk, kamu tau?!”

“Ssstt… Tante!” Meski itu adalah pernyataan yang sudah berulangkali terlontar dari mulutnya, tetap saja aku kaget dan merasa risih.

“Apa, Fa?! Kamu mau bilang tante nggak boleh bicara begitu?! Pamali. Begitu?” Aku  diam. Tanteku jelas sedang marah, dan aku sebaiknya diam. Lama ia terisak di pundakku. Ketika lelah, ia melepaskan pelukannya padaku. Sambil berjalan menuju kamar tidur, tangannya meraba tembok. Lemas mungkin. Aku membiarkannya. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tamu mulai sepi, hanya beberapa tetangga yang bekerja di dapur, membantu menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu. Aku pergi ke dapur. Meminta mereka untuk pulang saja. Toh keluarga besar sudah berdatangan.

“Udah turun menurun kayaknya keluarga ini mah ya. Nenek dan mamanya hamil di luar nikah. Eh, sekarang si Dia. Anak satu-satunya padahal… Kutukan mungkin.”

“Ah itu sih gimana ngurusnya aja, bukan soal kutukan. Lesbian sama narkoba itu pengaruh pergaulan. Anak cuma satu tapi nggak bener ngurusnya. Amit-amit.” Mereka memang berbicara sambil berbisik, tapi aku berada di jarak yang cukup dekat dengan pintu dapur. Semuanya jelas terdengar. Mataku berkaca-kaca. Lagi. Ingatan saat aku menemukan mayat Dia dan temannya terbayang lagi. Jarum-jarum suntik. Dua tubuh perempuan terkapar. Telanjang tanpa sehelai benang pun. Ah, Tuhan…

“Maaf ibu-ibu…” Aku mengusap kedua mataku dengan punggung tangan.

“Eh, Neng Ifa…” Salah satu dari mereka terlonjak kaget. Mulutnya menganga. Ingin rasanya aku menyumpalnya dengan kemasan air mineral yang bertumpuk di meja dapur.

“Kalau mau pulang, silahkan aja. Keluarga sudah datang semua. Terima kasih ya, ibu-ibu.” Tak ada yang menjawab. Semuanya hanya bangkit dari duduk dan pergi. Pintu dapur juga ditutup dengan buru-buru. Mungkin mereka takut kutukan dari keluarga ini menguntit mereka.

Aku berusaha tetap berdiri. Engsel-engsel tulang di tubuhku seperti tidak lagi saling memangku. Tenagaku lenyap. Karena kehilangan, dan karena melayani celotehan duka dari tanteku. Sungguh, aku pun kehilangan. Kecewa. Sakit hati. Bingung. Dalam keadaan seperti ini, aku ragu dapat menemukan orang yang mengerti kehilanganku: perempuan yang mati bersama Dia, adalah juga pacarku.

Advertisements

One thought on “Dia (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s