Dia #1


23 Januari 2010

Beberapa hal mengejutkan saya belakangan ini. Hari Jum’at (Kemarin, 22 Januari), saya sedang menikmati hujan dan kemacetan di angkot. Handphone berbunyi. Di layarnya, ada nomor telepon sekolah. Saya angkat. Ternyata Dia. Dia bilang, Dia lupa mengembalikan buku kumpulan cerita saya. Dia mau datang ke rumah sore itu. Saya sempat meminta Dia untuk kembalikan buku itu di sekolah saja. Senin. Tapi Dia bilang, Dia mau sekalian berkunjung ke rumah Mamanya yang dekat dengan rumah saya.

Jalanan macet karena hujan. Saya baru sampai di rumah sekitar pukul lima sore. Berselang tak lama dari itu, Dia datang dengan air hujan yang sudah terserap di blusnya. Kasihan. Saya persilahkan Dia untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Kami berbincang banyak. Dia bilang, Dia tidak punya teman berbagi yang asik, maksudnya, dari banyak hal yang Dia tahu dan tertariki, hanya sedikit yang bisa Dia obrolkan dengan teman sekelasnya. At least, saya pikir Dia anak yang tak sekedar pintar, tapi juga cerdas. Dia banyak punya argumen dan hampir semua yang saya dengar punya dasar yang kuat.

Dia banyak berkomentar tentang kumpulan cerita pendek saya. Termasuk dan terutama cerpen Rona dan surat fiktif untuk Badil itu. Sudah diduga, di pertemuan dan percakapan pertama kami, Dia bisa menebak dengan tepat siapa tokoh Badil di dunia nyata. Saya percaya Dia. Dia tidak akan memberitahu siapapun. Untuk tokoh di cerpen Rona itu, ternyata Dia menyadari banyak kesamaan antara dirinya dan tokoh dalam cerpen. Tapi tetap saja, saya tidak beritahu bahwa tokoh itu adalah Dia. Terlalu berisiko.

Seusai shalat Maghrib, kami pindah ke ruang tengah. Kami kedinginan. Untung karpet yang kami duduki cukup membuat hangat. Saya buatkan mi goreng instan untuknya. Dia makan dengan lahap. Saya senang melihatnya.

Ibu dan Ayah datang sekitar pukul Sembilan atau setengah sepuluh malam. Obrolan saya dan Dia masih berlanjut hingga larut. Penuh tawa. Menyenangkan rasanya berbagi dengan orang yang cukup cerdas, meskipun kadang, sikap “sok”-nya suka timbul. Kami punya banyak topik dalam pembicaraan: politik, ekonomi negara, keluarga, karya, masa-masa SMP—yang sangat Dia banggakan—, teman-teman di sekolah kami sekarang, dan banyak lagi.

Dia pulang tepat pukul sebelas. Larut sekali, tapi menyenangkan.

Kini, saat pembicaraan kami berakhir, saya baru menyadari bahwa orang yang tadi malam berbincang dan duduk di hadapan saya adalah orang yang sempat tertambat terus menerus di pikiran saya. Betapa beruntungnya saya.

26 Januari 2010

Tadi Dia datang lagi ke rumah. Kami berbincang-bincang lagi di ruang tengah. Di atas karpet yang sama dengan beberapa malam lalu. Kami menggambar a la anak taman kanak-kanak bersama. Lagi-lagi Dia pulang tepat pukul sebelas malam.

Kini, mata saya luar biasa berat. Tapi mengesankan: ada orang yang bisa saya ajak berbagi. Langka.

27 Januari 2010

Sangat berbeda rasanya melewati malam bersama Dia dan tanpa Dia. Sekarang sepi. Saya hanya melewatkan malam dengan udara dingin dan kaki lembab sisa bermain banjir di sekolah sore tadi. Tak sabar jadinya menanti hari Jum’at. Dia berjanji untuk menghabiskan Jum’at yang akan datang dengan saya. Menjadikannya hari khusus untuk saya. Tapi apa masih mau Dia datang ke sini? Entahlah. Yang pasti, saya benar-benar nyaman dan suka ada di dekat Dia. Di pertemuan terakhir kami, Dia sempat menuliskan namanya sendiri di tangan saya. Juga ada banyak hal lain yang membuat saya seolah melepuh.

Advertisements

4 thoughts on “Dia #1

    1. Teringat pada apa? Surat Fiktif untuk Badil itu nyata adanya. Saya tulis itu SMA kelas 2, sempat saya masukkan ke dalam kumpulan cerita pendek dan puisi yang saya susun dan cetak sendiri. Seingat saya yang pernah melihat hanya pacar dan teman-teman dekat saya semasa SMA.
      Mengenai menebak tokohnya di dunia nyata, itu dilakukan oleh sahabat saya, saat saya menulis cerita yang terinspirasi dari dirinya. Cerita pendek itu judulnya Gerimis di Pertigaan.
      So, mengingatkan anda pada apa ya?

      1. Iya Ra, iya. Saya mohon maaf karena saya–seperti yg sudah saya duga sebelumnya–salah ingat (salah ingat berarti mengingat sesuatu, tetapi salah menghubungkannya). Yang tidak saya duga adalah bahwa kelalaian ini telah mengganggu Anda. Maka dari itu, berkenanlah Anda mengampuni kelalaian saya ini. Percayalah bahwa saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu Anda. Sekali lagi, maafkanlah saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s