Bukan Lawan Jenis


Kamis, 13 November 1997

Teruntuk Bima

Selamat malam, Bima.

Senang bisa menulis surat yang mungkin tidak akan pernah terkirim ini. Saya harap, pikiran yang selama ini mengganggu bisa segera mereda.

Mau tidak mau, di awal surat ini saya segera harus bilang bahwa sejak dulu, sejak pertama kali kita menjalin percakapan, kamu agak mengganggu pikiran saya. Sebagai seorang yang sudah cukup lama mengenalmu, jujur, saya merasa punya ketertarikan terhadap kamu. Maaf.

Pertama kali yang saya sadari mungkin ketertarikan secara fisik. Lalu lambat laun, saya mulai merasakan ada banyak hal lain yang terpancar dari kamu. Seolah-olah ada angin segar yang melintas saat kamu hadir di dekat saya. Kamu mengendalikan angin, Bima. Seperti Batara Bayu yang dalam kisah adalah ayah kandungmu. Bima dalam kisah yang berkain poleng bang bintulu dan berkuku pancanaka, membuat saya kagum. Gagah. Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Kekaguman itu seperti perasaan saya pada kamu. Saya agak risih menjelaskannya, tapi saya harap kamu mengerti.

Kita mungkin tidak terlalu mengenal satu sama lain. Saya pun tidak pernah tahu seperti apa kamu memandang saya. Tapi apapun itu, tidak akan menjadi masalah. Saya memang… Saya memang hanya sekedar jatuh cinta. Dan toh kamu pun tidak akan pernah tahu tentang ini.

Lama saya merasa diikat. Perasaan saya. Saya tidak punya tempat untuk bercerita. Sebetulnya bisa saja saya bercerita pada teman-teman dekat di kampus. Tapi, ada sesuatu yang menahan saya agar tidak bercerita. Begini, baru kali ini saya tinggal di lingkungan yang didominasi oleh orang-orang seperti kalian, para calon imam. Di mata saya, kalian tampak agung. Mungkin berlebihan, tapi ini sungguhan. Saya seperti minder dan merasa bukan apa-apa berkawan dengan kalian. Apalagi bercerita tentang perasaan.

Saya memang tidak pernah mengharapkan hubungan dekat yang berkelanjutan antara saya dan kamu. Seperti layaknya pasangan lainnya. Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Abhimanyu dan Ksiti Sundari. Rama dan Dewi Sinta. Kita bukan… Kita tidak bisa. Saya cukup tahu diri. Beberapa kali saya mengutuk diri, mempertanyakan mengapa saya terlalu memperhatikan perasaan. Tapi saya hanya manusia biasa…

Tanpa harapan-harapan besar, saya hanya ingin berteman dengan kamu. Saya tidak menutup adanya penolakan, apalagi setelah surat ini dibuat; diandaikan setelah kamu tahu perasaan saya. Surat ini memang tidak akan pernah terkirim, dan lagi, pastinya kamu tidak akan pernah tahu tentang ini. Tapi saya meyakini Tuhan itu satu. Tuhan kita sama, dan Dia tahu apa yang saya rasakan.

Kini saya hanya bisa berharap Tuhan memberikan anugerah pada saya: tidak membuat kamu jauh dari saya. Karena saya selalu butuh angin segar.

Saya jadi ingat kembali betapa konyolnya perilaku saya setiap kali kamu tertangkap oleh pandangan saya. Mungkin wajah saya memerah. Semangat saya tiba-tiba naik. Seusai itu, saya akan mengingat wajahmu. Bukannya mau berlebihan memuja, tapi wajahmu memang sungguh selalu saya ingat. Sangat lekat.

Kamu baik, Bima. Seperti ksatria. Menjadi ksatria memang bukan satu-satunya pilihan untuk hidup. Tapi kamu memilihnya. Lakumu baik. Seperti ksatria. Kamu melambaikan tangan waktu motormu melewati saya yang berjalan kaki. Sopan. Juga setiap hari Senin, waktu kamu berjalan keluar ruang kuliah 1, kamu akan tersenyum meski hanya serejang saja. Ramah. Atau yang paling saya ingat, senyum dan sapaan: “Pagi…” di suatu Jumat pagi. Setelahnya, kamu duduk di samping saya. Berbagi rokok dan api. Menekuni bahan kuliah. Mendadak, seharian penuh warna-warna di penglihatan saya jauh lebih terang. Kamu baik pada saya.

Kamu mungkin selalu menyadari lirikan-lirikan kecil saya yang barangkali kamu anggap kurang sopan, tapi sungguh, saya hanya bermaksud menangkap kesegaran dari kamu. Dari wajahmu. Buat saya, kamu benar-benar anugerah, Bima. Maaf.

Ternyata menulis surat ini membantu saya. Saya sedikit merasa tenang. Dulu, kecemasan selalu datang saat di hadapanku kamu memasang senyum sinis, atau mengakhiri setiap pesan pendek yang dikirim kepada saya dengan kata “Sugeng dalu.” atau “Selamat malam.” Entah saya yang terlalu sensitif, atau memang kenyataannya, kamu seakan selalu ingin mengakhiri perbincangan kita. Tidak apa-apa memang. Mungkin memang saya yang terlalu sensitif, teman.

Akhirnya… Lega. Diandaikan kamu membaca ini, maaf sudah menyita waktumu. Kula nyuwun pangapunten bilih punika sampun ngganggu acaranipun panjenengan.

Kamu memang pernah bilang bahwa bahasa Jawa Krama Inggil tidak perlu digunakan jika sedang bicara dengan teman yang usianya kurang lebih sebaya. Kamu bilang, itu malah membuat percakapan kita menjadi aneh. Tapi saya suka mengucapkannya, atau mendengar kamu mengucapkannya. Ditambah lagi, selama bertahun-tahun, ternyata hanya kalimat berbahasa Jawa itu yang bisa saya ucapkan dengan lancar.

Saya benar-benar berharap Tuhan tidak menjauhkan kamu dari saya, Bima. Semoga. Karena bukankah tak berlawanan jenis bukan alasan untuk kita menjauh?

Sugeng dalu.

Tertanda,

Andre

Terinspirasi dari lagu “Bukan Lawan Jenis” – Efek Rumah Kaca, dan beberapa momen di tahun 2011. Selamat berakhir tahun!

Advertisements

3 thoughts on “Bukan Lawan Jenis

  1. setelah saya baca, spontan saya cuma mau bilang bahwa pribadi yang nulis tulisan ini berusaha secara jujur dengan segala keterbatasannya untuk mengungkapkan perasaan dan barangkali lebih tepatnya apa yang selama ini digeluti dan mungkin akan terus digeluti. Nice…move on.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s