Menoleh; Sebuah Refleksi


Saat sedang tertekan karena sakit hati, kegagalan, dan atau penyesalan, siapapun biasanya akan malas melakukan aktivitas. Atau bahkan melakukan hal-hal yang tidak biasa. Termasuk saya. Sekadar berbagi cerita, sejak SMP, saya menyadari bahwa saya memiliki semacam kelainan. Mungkin orang lain juga pernah merasakan hal yang saya rasakan. Hingga kini, saya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak lazim. Saat saya merasa sedih atau tertekan dan sudah tidak bersemangat melakukan tugas-tugas sekolah atau kuliah (Percayalah, itu bodoh dan akan membuat penyesalan jika ditiru), tubuh saya akan melakukan semacam pemberontakan. Tubuh saya meminta. Meminta untuk disakiti. Saya tidak akan merasa lega sebelum ada bagian tubuh saya yang terasa perih atau sakit. Saya tidak bercanda. Ini pertama kalinya saya bicara tentang ini di media umum, dan ini sungguhan.

Dulu, saya memiliki keyakinan (atau sugesti?), sudah seharusnya, saat jiwa merasa sakit, tubuh pun harus ikut merasakannya. Jika tidak, rasa tertekan itu tidak akan bisa hilang. Saya biasanya akan terus-menerus mengeluarkan air mata dan merasa tertekan luar biasa. Untuk mengatasi itu, saya menyakiti tubuh saya sendiri. Dengan beragam cara. Dan Saat saya merasa bahwa sakit yang dimiliki tubuh sudah sama dengan yang dimiliki jiwa, saya akan berhenti sekejap. Saya lega. Ada kepuasan yang hadir. Luka jiwa saya seolah perlahan memudar seiring hadirnya rasa sakit atau perih. Jarang saya menengok ke bagian tubuh yang saya sakiti. Yang ada, saya akan terus menerus memberi luka-luka itu dengan alkohol atau obat merah. Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menimbulkan kembali rasa sakit. Saya tidak pernah memperhatikan bilur, lebam, atau goresan yang ada. Saya hanya puas dengan rasa sakit yang timbul, bukan pemandangan berdarah-darahnya.

Sekali lagi, itu dimulai saat saya SMP. Yang saya ingat, permasalahan yang saya punya waktu itu jarang merupakan masalah yang rumit dan kompleks. Teman. Laki-laki. Yah, biasalah. Tiga tahun hal itu berlangsung. Tiga tahun yang meninggalkan banyak luka. Tentu saja luka dalam arti sebenarnya. Luka fisik. Saat saya beranjak SMA, kebiasaan itu mereda, lalu akhirnya hilang sama sekali. Alasannya mungkin karena saya bahagia dengan kehidupan SMA saya. Masalah pertemanan dan percintaan yang membuat sakit hati atau semacamnya itu tetap ada. Tapi saya berada dalam lingkungan yang baik waktu itu. Ada teman dan guru yang terbuka dan siap menghibur saya. Intensitas saya bertemu mereka pun sering. Mungkin itu yang lalu membuat saya lupa akan kebiasaan itu.

Sebetulnya, hingga kini, saat sedang tertekan, dorongan-dorongan dari tubuh saya masih senantiasa datang. Keinginan untuk menanggapinya pun selalu ada karena sungguh, sakit hati saya tidak akan mereda sebelum tubuh saya merasakan hal serupa. Kadang rasa tertekan yang saya miliki membuat saya berharap untuk menjadi seorang Stoik sejati. Tidak tersentuh hal-hal yang terjadi di luar dirinya, tidak memiliki emosi, memiliki hasrat atau afeksi yang agak irasional terhadap keluarga dan sahabat. Tapi nyatanya, saya begitu mudah merasa sakit. Tubuh saya pun selalu menuntut rasa sakit.

Saya tidak tahu penyakit psikologis macam apa ini. Mencari tahu mengenainya juga saya tidak pernah mau. Malas. Tapi darinya, saya banyak melakukan refleksi diri.

Sakit yang dirasakan hati atau jiwa itu pernah dialami semua manusia. Saya percaya itu. Perbedaannya hanya ada di seberapa kuat atau seberapa apatisnya individu itu. Kalau diingat kembali bagaimana saya menderita karena seorang laki-laki, saya kadang tertawa. Miris sebetulnya. Saya biasanya akan bersikap sama histerisnya dengan saat kehilangan kakek saya untuk selama-lamanya, atau sama dengan tangisan keluarga-keluarga kecil yang rumahnya digusur. Secara rasional, ketiga hal itu tidak berbanding lurus. Dan tentu saja tidak bijak jika ditanggapi dengan cara yang sama, apalagi saya sampai menyiksa diri saya sendiri. Baiklah, ini mungkin penyakit. Tapi pun saya tidak bisa membuat pemakluman-pemakluman yang akan terus membiarkan saya menciptakan luka fisik. Bisa-bisa saya dikira mencari belas kasihan orang lain, lalu nantinya orang-orang akan menyayangi dan menjaga saya. Bukan. Sama sekali bukan.

Dan… mengenai laki-laki. Saya kini sedang dibuat kagum oleh orang-orang yang memutuskan untuk menjalani hidup selibat. Tidak menikah. Kita kesampingkan dulu mengenai agama, mengenai pandangan agama yang saya anut: menikah itu ibadah. Kita bicara tentang manusia. Manusia diberi Tuhan ketertarikan terhadap lawan jenis, keinginan untuk memiliki, dan hawa nafsu. Betapa kuat mereka yang hidup selibat. Meski tetap tersentuh, mereka tidak terpengaruh. Dibandingkan mereka, lihat, betapa rendahnya jiwa dan tubuh saya yang berturut-turut mudah sakit dan mudah meminta untuk disakiti.

Kini, puji Tuhan, Alhamdulillah ya Tuhan, saya masih memiliki akal yang sehat. Saya masih diberi waktu untuk menoleh ke era lampau, lalu diberi dorongan untuk menulis refleksi macam ini. Meskipun tubuh saya berkata tidak ingin, diri saya secara keseluruhan ingin sembuh dari semua ini; dari penyakit yang saya tidak tahu namanya ini.

Saya tahu Tuhan ada dan membantu. Pun tak apa jika harus bertahap.

Advertisements

4 thoughts on “Menoleh; Sebuah Refleksi

  1. namanya juga hidup, walaupun jodoh kadang harus dicari, tidak usah terburu buru untuk yang satu ini, itu terlalu manusiawi yang hanya mencari cinta belaka, sedangkan urusan lain terbengkalai, hidup ini untuk menentukan tujuan, akhir taun memang cara terbaik untuk introspeksi diri

  2. heheehe. refleksinya lumayan lah. tetap semangat! tapi kayaknya mesti ada pengolahan luka batin tuh, soalnya cenderung masokhis. hehehe. terus maju dan keep ur spirit up! 🙂

  3. ada kok namanya. kalau ga salah gejala suicidial. pokoknya kalau sakit hati, pingin ngerasain sakitnya jadi nyata. gw punya alasan sendiri tentang kenapa bisa begini.

    mungkin karena seseorang adalah orang yang kesulitan mengolah emosinya, jadi dia bener2 pingin merasakan rasa sakit itu secara nyata. kau tahu, kan, orang yang lebih cenderung berpikir, kadang punya kesulitan untuk memahami emosinya sendiri. (kesimpulan dari MBTI personality).

    ya udah, ga usah dipikirin. seperti kata seorang biksu (sekalipun saya bukan Buddha) ; “ini semua akan berlalu”

  4. Luka karena cinta hanya dapat disembuhkan oleh cinta juga. Mmm, nggak tau ini komennya nyambung apa nggak, yang jelas percayalah bahwa kamu tidak sendirian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s