Eksklusif


Saya sedang sering dibuat kesal beberapa waktu belakangan ini. Penyebabnya satu, saya menemukan banyak jarak di antara kita. Manusia. Jarak-jarak itu membuat saya kesulitan bergerak.

Ada banyak orang yang menjaga jarak-jarak itu agar tetap ada. Membuat sekat agar dirinya tidak tersentuh hal-hal yang tidak diinginkan. Secara tidak langsung, individu-individu itu membuat dirinya eksklusif. Eksklusivitas itu memang kadang baik dan positif, tapi kali ini memuakkan! Sebetulnya agak mengherankan karena saya menemukannya di orang-orang yang dengan taat melaksanakan hal-hal keagamaan; yang mengaku komunitas pemuda berlandaskan agama. Saya pikir, agama manapun menginginkan kebersamaan dan kedamaian umat manusia. Dan bagi saya eksklusivitas, sikap tidak terbuka, dan tidak mau berbagi adalah hal yang mengancam kedamaian.

Di sisi lain, saya merasa kagum pada sebagian besar teman-teman kampus saya. Mereka mengabdikan hidup sepenuhnya pada Tuhan dan agama. Tapi toh, eksklusivitas yang saya benci itu tidak ada pada mereka. Sikapnya terbuka, mau mendengar pendapat orang lain, dan penuh penghargaan terhadap sesama. Tidak ada kesombongan. Ini menarik: sama-sama mengatasnamakan pecinta Tuhan dan agama, tapi mengapa begitu berbeda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s