Menjawab Kenapa


Sekitar pukul sembilan tadi, saya baru menyelesaikan tugas Ilmu Sosial Dasar. Tugas sudah diberi oleh dosen saya, Ibu Sika Seda sejak seminggu yang lalu. Tugasnya adalah menelaah dua teks dengan dua topik yang sama sekali berseberangan. Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membaca dan mencari literatur yang berhubungan dengan topik.

Setelah disibukkan beberapa saat, sekarang saya merenung. Atau… Saya dipaksa merenungi sesuatu.

Setiap hari Rabu pukul 11.00 sampai 12.30, saya harus mengikuti mata kuliah logika. Dosennya menyenangkan, begitu juga materinya. Seringkali saya diajak berpikir lebih keras dari biasanya di kelas itu, dan tidak jarang juga, materi-materi itu dijadikan bahan bercandaan di luar kelas oleh saya dan teman-teman. Intinya, mata kuliah Logika adalah mata kuliah yang tidak cukup membosankan untuk dilewatkan. Tapi kemarin, tanggal 19 Oktober 2011, meskipun saya berada di dalam kelas sampai jam kuliah berakhir, rasanya saya tidak punya cukup nyali untuk melanjutkan kuliah sampai selesai. Saya dibuat luar biasa menyesal oleh diri saya sendiri. Hasil Ujian Tengah Semester (UTS) dibagikan. Saya mendapat nilai E. Banyak yang bertanya kenapa. Tapi saya sadar bahwa penjelasan sepanjang apapun tidak terlalu berguna. Nilai sudah tercantum. Jangankan orang lain, saya pun bertanya berulang-ulang dalam hati: KENAPA?

Saya hanya bisa merenung. Saat menunggu waktu latihan teater; saat makan; saat berjalan menyusuri jalanan berpasir menuju tempat kost; saat mengerjakan tugas-tugas; saya berulangkali mengingat: berapa ribu kali saya berkata mampu untuk melakukan sesuatu dalam hidup? Pasti jutaan. Dan berapa ribu kali juga saya benar-benar mampu melakukannya? Sangat sedikit. Saya bukan ingin benar-benar menghitung. Saya hanya menyesal. Saya hanya sadar bahwa saya sangat tidak tahu diri.

Ini sebetulnya sangat dilematis. Saya punya begitu banyak ide yang bercabang mengenai bagaimana saya harus hidup. Tidak usah membahas tentang keberhasilan, semua orang menginginkan itu, meski relatif. Seringkali saya dipuaskan oleh niat dan keyakinan yang saya rasa sudah cukup baik. Sisanya, tak harus sungguh-sungguh. Ini bodoh. Saya.

Tapi saya tidak ingin seperti Jandro. Saya bukan pengecut. Membunuh diri sendiri demi memaksimalkan kemampuan dan balas dendam bukan sesuatu yang tepat. Saya juga tidak ingin seperti Rona, yang dialihkan oleh hal-hal yang tidak pernah dia dapatkan, lalu mati.

Saya ingin jadi seperti saya. Memaksimalkan kemampuan, balas dendam, dan tentu saja, mendapatkan itu. Itu yang benar-benar membuat saya berharga dengan tidak hanya dengan niat dan keyakinan.

Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s